Waktu Sangat Dianjurkan Untuk Bersiwak

Penanya:

Ustadz, kapankah waktu yang sangat ditekankan bagi kita untuk bersiwak?

Jawaban:

Alhamdulillah wash shalâtu was salâmu ‘alâ Rasûlillâhi, Ammâ ba’du…

Dimaklumi bahwa siwak adalah diantara sunnah fitrah, yang mana seorang muslim dianjurkan melakukannya. Diantara dalil yang mendasarinya adalah hadits Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam:

السواك مطهرة للفم، مرضاة للرب. [علقه البخاري في صحيحه (2/274) ووصله أحمد (6/47) والنسائي (1/50) وإسناده صحيح (الإرواء 1/105)]

“Siwak itu bersih bagi mulut dan mengundang ridha Rabb”. [Riwayat Al-Bukhâriy secara mu’allaq (2/274), Ahmad me-maushul-kannya (6/47), dan An-Nasâ-iy (1/50). Isnadnya shahih (al-Irwâ, 1/105)]

Sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu juga meriwayatkan, bahwasanya Rasul shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة. [رواه البخاري (2/299) ومسلم (1/151) . وفي رواية للبخاري :

-sponsor-
” عند كل وضوء “.]

“Kalaulah tidak memberatkan atas umatku, maka sungguh akan aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali shalat.” [Riwayat Al-Bukhâriy (2/299), Muslim (1/151). Dan dalam riwayat al-Bukhâriy: “setiap kali berwudhu”.]

Dan masih banyak lagi dalil yang menunjukkan anjuran bersiwak.

Lalu kapan sajakah waktu yang paling ditekankan anjuran bersiwak tersebut?

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin mengumpulkan dari dalil-dalil akan hal tersebut. Beliau mengatakan:

يتأكد السواك عند القيام من النوم، وأول ما يدخل البيت وعند الوضوء في المضمضة، وإدا قام للصلاة.

baca juga :  Menyebut Keluarga dan Sahabat Nabi Dalam Shalawat

“Sangat dianjurkan bersiwak ketika bangun dari tidur, ketika mengawali masuk rumah (setelah bepergian), ketika berwudhu sambil berkumur, dan ketika shalat hendak ditegakkan.” [Majmû’ al-Fatâwâ wa ar-Rasâ-il Li asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimîn, hal. 115]

Adapun alat siwak [miswak] dimutlakkan pada kayu/batang/ranting pohon. Lebih utamanya pohon Arâk. Jika tak ada, maka dengan akar pohon kurma. Jika tak ada juga maka dengan kayu pohon zaitun. Namun bukan berarti kayu yang lain tidak boleh. Bahkan yang tepat adalah semua jenis kayu boleh saja asal tidak membahayakan gigi dan mulut. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih bin al-Munajjid mengatakan:

والصواب أن كل عود مُنقٍّ غير مضر يقوم مقام السواك عند عدمه في التنظيف وإزالة ما يعلق بالأسنان من أذى.

“Yang tepat adalah bahwasanya setiap batang kayu yang bersih serta tak membahayakan bisa dikatakan siwak juga ketika miswak (dari arâk) tidak ada untuk membersihkan dan menghilangkan kotoran dan apa-apa yang menempel di gigi.” [https://islamqa.info/ar/answers/2577]

Maka bersiwak sangat dianjurkan di waktu yang dijelaskan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin di atas. Alatnya bisa menggunakan batang kayu arâk jika ada. Jika tak ada bisa dengan batang kayu lainnya yang tidak membahayakan.

Demikian, semoga bermanfaat.

Wallâhu Waliyyut Taufîq

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El’Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 29 times, 1 visits today)
baca juga :  Hukum Menambahkan Nama Pasangan Di Belakang Nama Kita (Bagian 3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *