URGENSI TEMAN SHALIH DALAM THALAB

  • by

Asy-Syaikh Shâlih al-‘Ushaimiy hafizhahullâh wa ra’âhu berkata,

والزمالة في العلم إن سلمت من الغوائل نافعة في الوصول إلى المقصود

“Pertemanan dalam menuntut ilmu itu jika selamat dari kerusakan-kerusakan sangat bermanfaat untuk sampai kepada tujuan.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 80]

Ya. Banyak kita dapati dari para Aimmatis Salaf tentang urgensi pertemanan ini. Telah berlalu beberapa dalil bahwa agama seseorang tergantung siapa temannya, siapa teman duduknya. Jika temannya lurus ‘Aqidah dan Manhajnya, kemungkinan besar seseorang juga begitu. Sebaliknya jika temannya rusak, maka seseorang juga rusak. Sebabnya mereka saling mempengaruhi. Jika tak kuat dominasinya, ia akan dipengaruhi.

Beberapa Aimmah Salaf ada yang tertuduh Tasyayyu’ (kecenderungannya membela Syi’ah) karena teman dekatnya adalah Syi’iy (orang Syi’ah). Ada juga yang jadi khawarij, karena istrinya seorang haruriyah (wanita khawarij di zaman itu). Ada yang jadi mutashawwif karena ternyata teman-temannya

-sponsor-
adalah orang tashawwuf. Demikian seterusnya.

Begitu juga dalam Thalabul ‘Ilmi. Mungkin temannya adalah sesama ahlussunnah, namun ternyata kurang bagus akhlaqnya, maka seseorang akan terbawa dengan akhlaq buruknya itu. Seseorang akan malas, ketika temannya adalah pemalas. Seseorang akan goncang manhajnya, ketika temannya goncang manhajnya. Seseorang akan sibuk dengan perkara yang kurang penting dan meninggalkan majelis ilmu ketika temannya memang demikian. Atau seseorang itu kurang adab pada ahlul ilmi ketika temannya dari kalangan yang su-ul adab. Demikian seterusnya.

baca juga :  Teruntuk Tahsiner

Benarlah sabda Rasul shallallâhu ‘alayhi wasallam,

المرء علي دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang itu tergantung agama khalil-nya (teman dekatnya), maka hendaknya seseorang dari kalian memperhatikan siapa khalil-nya.” [Riwayat Muslim]

Berkata Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu,

اعتبروا الرجل بمن يصاحب، فإنما يصاحب الرجل من هو مثله.

“Mereka menghitung keadaan seseorang dengan siapa yang mempersahabatinya. Karena yang mempersahabati seseorang itu hanyalah yang semisal dengannya.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 81]

Jika anda ingin berhasil dalam menuntut ilmu. Menjadi faham akan syari’at Allah dengan baik, ‘Âmilan bihi (mengamalkannya) dengan baik, tegak dan kokoh di atasnya, maka perhatikanlah siapa teman anda, bagaimana keadaan lingkaran anda.

فقد يحرم المتعلم العلم لأجل صاحبه، فاحذر هذا الصنف — وإن تزيا بزي العلم — فإنه يفسدك من حيث لا تحس.

“Maka sungguh seorang pembelajar itu diharamkan mendapatkan ilmu bersebab shohibnya. Maka berhati-hatilah dalam perkara ini–meskipun ia berseragam dengan seragam seolah-olah penuntut ilmu— maka sesungguhnya hakikatnya ia akan merusakmu tak kamu sadari!” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 81]

Semoga bermanfaat…

Muhibbukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)
Editor : Dudi Rusdita

(Visited 10 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *