Tidak Setiap Berita Bahagia Harus Diceritakan

Tidak semua orang yang kita beri cerita baik tentang kita itu mau menerima. Ada diantara mereka yang memang memiliki hasad di hatinya. Ada juga yang tadinya baik, kemudian menjadi hasad secara spontan karena digelincirkan syaithan.

Maka tidak setiap keberhasilan atau berita bahagia itu harus diceritakan pada seluruh manusia.

Sebagaimana wasiat Nabi Ya’qub ‘Alayhissalaam pada Nabi Yusuf ‘Alayhissalaam ketika bermimpi melihat 11 bintang, matahari, dan bulan sujud kepadanya,

ﻗَﺎ ﻝَ ﻳٰﺒُﻨَﻲَّ ﻟَﺎ ﺗَﻘْﺼُﺺْ ﺭُﺀْﻳَﺎ ﻙَ ﻋَﻠٰۤﻰ ﺍِﺧْﻮَﺗِﻚَ ﻓَﻴَﻜِﻴْﺪُﻭْﺍ ﻟَـﻚَ ﻛَﻴْﺪًﺍ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄٰﻦَ ﻟِﻠْﺎِ ﻧْﺴَﺎ ﻥِ ﻋَﺪُﻭٌّ ﻣُّﺒِﻴْﻦ

ٌ

“Dia (ayahnya) berkata, Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.”

(QS. Yusuf 12: Ayat 5)

Maka, jika orang-orang di sekelilingmu itu masyhur dengan kebaikan hati, jarang hasad dan istighnaa ‘anin Naas (kaya hati dari apa-apa yang manusia miliki), maka its OK kita bisa mengamalkan surat Adh-Dhuha ayat terakhir, atau hadits Rasul tentang anjuran menampakkan nikmat Allah.

-sponsor-
style="text-align: justify;">Namun,  jika orang sekelilingmu heterogen, lebih baik tahan dulu. Like and Dislike itu selalu ada. Bahkan “menyerang” yang sudah ngaji sekalipun. Sebab Syaithan dan tipudayanya ada dimana-mana. Orang hasad yang sudah ekspert hasadnya, atau orang hasad yang baru muncul hasadnya juga ada.

baca juga :  BIASA SEJAK DINI

Jangan buka pintu kemudharatan dulu. Ingat, ‘Ain itu haq (benar adanya).

Pujilah Allah, dan kabari mereka yang memang –kita husnudzhan– sudah terdidik hatinya saja. Itu lebih aman dan tetap nyunnah InSyaa Allah.

Akhukum,
Mochammad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 364 times, 1 visits today)

1 tanggapan pada “Tidak Setiap Berita Bahagia Harus Diceritakan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *