Teruntuk Tahsiner

Cukup lama sekali saya menunggu hasil Imtihan terakhir dari Ma’had. Setahun lebih dari hari ujian bukanlah waktu sedikit.

Sempat hampir kecewa memang. Karena perjuangan selama 5 tahun mengalahkan ego diri dan berkompetisi dengan ribuan orang itu sangat keras. Bayangkan, dari sekian banyak orang hanya 13 orang yang berhasil masuk kelas Gurunda Dr. KH. Saiful Islam Mubaarak., Lc., MA.

Namun, apalah arti mengetahui hasil itu, pikir saya. Toh semua ilmu yang didapat jauh lebih berharga dari selembar kertas yang tertulis nilai disana…

Maka Alhamdulillah Allah  obati hati saya dan tak memikirkan itu lagi.

Beruntung saya disibukkan oleh hafalan Quran. Sehingga penantian itu tak begitu menyayat bagai sembilu.

Suatu hari, di waktu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya akan bertemu sohib Ma’had di salah satu Mesjid

-sponsor-
di Bandung, saya bertemu dengannya.

“Keif hal, Akhiy?” tanyanya

“Bikhair walhamdulillah sayyidiy..”

“Antum kemana saja? Lebih dari setahun ana cari-cari antum. Lebih dari setahun Ma’had cari antum!!! “

“Ana ada saja. Ya, masih seperti biasa kuliah di Al-Imarat. Emang kenapa antum dan Ma’had cari-cari ana? Bukankah ujian sudah selesai? Ana juga InSyaaAllah sudah tak ada tunggakan syahriyah..”

“Ya akhiy, emang antum belum tahu hasil ujian itu?”

“Belum”

“Tahukah antum, Akhiy, antum dapat predikat Mumtaz Murtafi’! Summa Cumlaude! Ustadz Cipto bilang, itu tertinggi se-Ma’had!”

baca juga :  Alasan Dari Do’a

“Antum jangan bercanda, Akh!”

“Serius! Ahsan antum lari ke Ma’had sana. Tanya sama mudir data tahun kemarin!”

“Kenapa Ma’had tak infokan itu? Ana tanya kesana paska ujian semua bisu!”

“Itu sengaja, akhiy. Agar terjaga hati antum!”

Allahu Akbar. Tak terasa ada butir air di sudut mata saya. Penantian itu memang menjengkelkan. Namun ia akan berakhir dengan keharuan. Langit biru kota Bandung, dinding Mesjid, dan sejuknya sore itu menjadi saksi…

Ternyata…

Selama ini saya keliru menilai Ma’had.

Ternyata…

Tak selamanya penantian itu menyakitkan.

Ternyata…

Orang-orang sekeliling kita begitu mencintai kita dengan berbagai cara yang kadang tak kita fahami bahasa itu…

Ternyata…

Ilmu memang tak untuk dibangga-banggakan. Apalagi dilombakan dengan yang lainnya.

Begitu berharga sekali apa yang diajarkan Ma’had pada saya dengan kejadian itu. Semenjak saat itu saya benar-benar tak bergantung dengan hasil ujian, syahadah, ijazah, lisensi dan yang lainnya. Saya malah lebih fokus untuk terus meningkatkan lagi kapasitas dengan mengambil sanad dari para guru dan masyayikh.

Kini masa itu terus bergulir hingga hari ini. Saya cukup sedih jika melihat Tahsiner begitu Jumawa seakan ia telah menguasai seluruh ilmu Tajwid.

Atau ta’ashshub seakan metode jadi ghayah harga mati. Hingga yang berada di luar barisan, tentu pasti grade-nya dibawah mereka. Ini ketakabburan intelektual.

baca juga :  Hidayah

Bukankah kelak yang akan diseret mukanya hingga Jahannam adalah para Qari’ yang tidak ikhlash?

Saya khawatir. Jika kemampuan kita baca di atas rata-rata. Jika metode kita banyak follower-nya. Jika muncul benih takabbur dengan ilmu yang kita miliki dengan meremehkan orang lain dan metode lain. Itu justru masuk kategori ujub dan ketidak-ikhlasan. Bukankah keduanya perusak terhebat amal shalih kita?

Saya sudah pelajari banyak metode, walhamdulillah. Mulai dari Metode Maqdis, Tartila, Al Bana, Al Barqiy, Wafa’, Itqan, Tamheed, Iqra’, Qiraati, dan lain-lain sampai Metode Nurul Bayan dari Mesir dan Suriah. Namun saya menemukan banyak kesamaan, meskipun ada sedikit perbedaannya disana sini.

Saya masih memandang wajar perbedaan itu terjadi, dan masih menganggap semua metode itu bagus. Karena bagi kami, semua metode itu adalah jembatan untuk bacaan yang benar. Adapun bacaan yang paling benar, adalah bacaan yang sesuai riwayat yang shahih dari Rasulullah melalui jalur periwayatan para Qurra’ bersanad muttashil sampai Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam…

Dan itu dilakukan dengan talaqqi langsung 30 Juz kepada seorang guru atau Syaikh yang memiliki sanad muttashil kepada Nabi  صلى الله عليه وسلم

Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari seorang sahabat, beliau mengatakan,

القرآن قراءة متبعة

“Quran itu pada dasarnya bacaannya diikuti.”

Ia diambil bacaannya dari para guru dengan sanad bersambung pada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam. Dan metode-metode yang ada itu jembatan mengarah kesana. Bukan untuk berhenti di metode. Sebab itu baru jenjang pertama untuk naik ke jenjang berikutnya, mencari periwayatan tertinggi.

baca juga :  Jabatan Dimata Para Sahabat Radhiyallahu 'Anhum

Jadi keliru jika baru selesai satu metode kemudian dengan mudah menilai bacaan orang lain dengan metode yang lain. Sebab metode-metode yang ada memang pasti ada kekurangan masing-masing yang kekurangan tersebut adakalanya tidak dimiliki di metode A tapi dimiliki metode B. Dan sebaliknya ada kesalahan yang hanya ada di metode B tapi tak ada di metode A.

Maka mari saling merangkul dan bukan mendiskriminasi. Mari saling bergandeng tangan mewujudkan cita-cita bersama agar Quran ini ada di hati seluruh manusia. Mari saling mendukung dan saling men-Tazkiyyah.. Karena sejatinya kita tak layak mentazkiyyah diri sendiri atau apa yang kita mampu, karena yang lebih mengetahui hakikatnya hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla..

Allah berfirman:

ۚ فَلَا تُزَكُّوْۤا  اَنْفُسَكُمْ  ۗ  هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى

“…Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

(QS. An-Najm 53: Ayat 32)

Kita akan ditanya tentang niat-niat, bukan tentang diri kita yang hebat…

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 132 times, 1 visits today)

1 tanggapan pada “Teruntuk Tahsiner”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *