Tentang Metode

  • by

Ada hal unik yang memang perlu untuk diberi sedikit masukan.

Boleh dibilang kita ini sedang sakit. Kalau kalimat ini terlalu berlebihan, maka katakanlah sedang butuh obat. Mengapa demikian? Kita terlalu lelah dengan perkara yang kurang prinsipil dan malah mencederai apa yang seharusnya dituju.

Sebagian kita membangun al-Walaa wa al-Baraa (loyalitas dan antiloyalitas) berdasarkan ormas. Yang bukan seormas maka bukan bagian kita. Itu di ranah yang lebih luas. Bahkan hal unik yang ingin saya kemukakan adalah, dalan hal per-Tahsin-an atau metode belajar membaca Alquran masih ada yang membangun al-Walaa wa al-Baraa di atasnya. Hingga ada kaidah baru dalam dunia persilatan, #eh, per-Tahsin-an maksudnya, yaitu…

من لم يقم بطريقتنا فليس منا

“Sesiapa yang tak pakai metode yang kami pakai, maka bukan golongan kami!”

Hehe… Padahal

-sponsor-
kalau ada hasad di hati kami, bisa saja kami preteli puluhan kekeliruan dari metode-metode yang ada, terutama dari konten yang diajarkan. Namun Alhamdulillah kami tak seperti itu. Kami tak ingin disibukkan oleh perkara kecil seperti demikian. Kami tak ingin meributkan wasilah alias sarana saja. Karena menurut kami sebenarnya Goal-nya sama, yaitu membimbing orang agar bisa baca Quran! Kalau pure tujuannya, bersih hatinya, mestinya bebas dari antiloyalitas bagi yang tak se-metode.

Namun jika ada tujuan duniawi, rentan ribut gegara sarana atau metode. Semisal popularitas lah, keberpihakan orang lah, banyaknya pendukung lah, dan sebagainya.

baca juga :  Dua Shighat Shalawat Yang Singkat Juga Sunnah Para Salaf

Kalau dalam ‘aqidah kita terpecah menjadi 73 golongan, maka kalau masing-masing pemilik metode baca belajar Quran membangun wala-bara atasnya maka akan memecah dunia pertahsinan menjadi ratusan golongan! Kan menjadi lucu… Ada iftiraq baru dalam agama. Hmmm

Allah menyindir dalam ayatNya yang mulia dalam surat ar-Ruum ayat 32,

ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻓَﺮَّﻗُﻮﺍ ﺩِﻳﻨَﻬُﻢْ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺷِﻴَﻌًﺎ ۖ ﻛُﻞُّ ﺣِﺰْﺏٍ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﺪَﻳْﻬِﻢْ ﻓَﺮِﺣُﻮﻥَ

“yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

So, fahami metode yang ada dalam dunia per-tahsin-an janganlah jadi dhabith (patokan) keberpihakan seseorang atau kelompok. Jangan membangun al-Walaa dan al-Baraa di atasnya!
Fahami bahwa itu hanya metode, hanya wasilah untuk mencapai goal yang sama yaitu bisa baca Quran dengan baik dan benar.

Namun tetap harus ada tanashuh dan saling meluruskan jika ada kesalahan. Jangan sampai sudah mentazkiyyah diri sebagai metode paling jitu ternyata yang diajarkan penuh hal baru yang menyelisihi bacaan Rasul shallaLlahu ‘alayhi wasallam alias tak bersanad yang nyambung kepada beliau.

Walhasil, syukurilah dengan banyaknya metode itu, agar ummat termudahkan baca Quran. Namun berhati-hatilah dengan apa yang jadi tujuanmu, sebab jika ada dunia di hatimu tak kau dapat akhiratmu.

Akhukum

Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

baca juga :  Katakan Dengan Indah Bahwa Anda Tersakiti

Editor : Tasyim

(Visited 30 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *