Tawassul Dengan Orang Mati

Penanya:

Bolehkah kita Tawassul kepada orang-orang yang sudah mati?

Jawaban:

Tawassul (berwasilah dalam do’a) kepada orang-orang yang sudah meninggal merupakan perkara yang diharamkan. Karena mereka tidak mampu melakukan apapun yang dimintakan.

Kemudian dalam persoalan tawassul ini berbeda hukumnya berdasarkan jenis tawassulnya. Jika seseorang bertawassul kepada makhluk ghaib dan orang mati tersebut bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadanya dengan sesuatu dari jenis ibadah semisal menyembelih untuknya, bernadzar padanya, berdo’a padanya, meminta pengabulan hajat padanya, maka ini termasuk Syirik Akbar. Ia telah berpindah millah, keluar dari Islam wal ‘iyâdzu billâh. Karena ia telah memindahkan salah satu dari jenis ibadah kepada selain Allah.

Adapun jika tawassul tersebut dengan makna bahwasanya ia tetap berdo’a pada Allah Subhânahû wa Ta’âlâ namun menjadikan orang mati tersebut sebagai perantara, seperti ia mengatakan:

-sponsor-
style="text-align: justify;">“Aku memohon padaMu dengan hak-nya fulan.”

“Aku memohon padaMu dengan Jah-nya (kedudukan) fulan, maka ini termasuk bid’ah, tidak sampai pada derajat syirik akbar. Akan tetapi hal tersebut bid’ah yang diharamkan dan menjadi wasilah pada syirik akbar, dan pintu kepada kesyirikan.

Walhasil tawassul dengan kedua jenis di atas tetap terlarang. Tidak boleh dilakukan.

Allah berfirman:

وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هٰۤؤُلَآ ءِ شُفَعَآ ؤُنَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗ قُلْ اَتُـنَـبِّــئُوْنَ اللّٰهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَ رْضِ ۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

baca juga :  Tidak Menerima Hadist Ahad Dalam Hal Aqidah ?

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah. Katakanlah, Apakah kamu akan memberi tahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di Bumi? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan itu.”

(QS. Yunus 10: Ayat 18)

اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَا لِصُ ۗ وَا لَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ ۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّا رٌ

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”

(QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)

Wallahu Ta’âlâ A’lam.

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Madar Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 95 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *