Tak setiap persoalan santri diselesaikan dengan ketegasan

  • by

Suatu hari ada santri yang merasa dicuri uangnya. Dicuri dari dalam lemarinya. Ia sebutkan jumlahnya. Saya tak menjanjikan apapun padanya, hanya ucapan bahwa kami akan berikhtiar untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Saya langsung mengumpulkan semua musyrif kamar. Saya suruh mereka melakukan taftisy kamar tanpa sepengetahuan para santri. Didapatilah sejumlah uang tergelatak di salah satu lemari. Persis sejumlah yang disebutkan si pelapor.

Ba’da Dzhuhur saya naik mimbar, memberikan nasehat kepada para santri sekaligus menjelaskan tercelanya perbuatan mencuri serta bahayanya.

Pasca langkah-langkah tersebut, saya perintahkan seorang musyrif untuk memanggil beberapa santri terduga dengan waktu yang berbeda-beda, agar tak terkesan bahwa anak-anak tersebut bermasalah di depan teman-temannya. Sejatinya itu bentuk interogasi, namun saya kemas dengan lebih manusiawi dan berbasis fithrah.

Sengaja tak saya libatkan para musyrif dalam proses interogasi tersebut. Saya hanya ingin ngobrol empat mata saja dengan

-sponsor-
mereka. Setelah ngobrol dengan beberapa santri yang terduga tadi, isyarat semakin mengarah kepada satu orang. Maka saya lebih fokus pada santri ini.

Saya tanya latar belakang keluarganya, yang ternyata ia anak pertama dari 9 bersaudara. Ia lahir dari keluarga tentara yang bisa saya terka gaji bulanannya. Saya mencoba mengira-ngira berapa kebutuhan keluarga mereka. Yang pada kesimpulannya anak ini kurang uang jajan. Mungkin ia hanya mengandalkan makan yang disiapkan pondok saja.

baca juga :  Mengkoreksi Pendapat Sendiri Bukanlah Sebuah Kehinaan

“Akhiy, ana tahu antum pelakunya.” kata Saya sembari menatap erat matanya.

Yang sebenarnya saya menebak secara random saja. Namun raut wajahnya berubah seketika. Ia terkejut. Gestur tubuhnya seolah mengiyakan tebakan saya. Ia menatap nanar ke arah saya.

“Ana tahu antum tak ingin melakukan itu. Ana yakin antum tahu akan keharamannya. Antum tahu itu kezhaliman. Sehingga ana yakin orang seperti antum tak akan melakukannya tanpa rasa berdosa.” Lanjut saya untuk menenangkan keterkejutannya.

Namun alhamdulillah itu efektif. Ia tetiba menangis hebat di depan saya.

“Ana minta maaf, Ustadz. Ana menyesal sekali. Ana tahu itu haram dan zhalim. Namun ana terdesak keadaan. Ana pengen jajan, pengen banget. Tapi tak ada uang. Tolong jangan kasih tahu ortu ana Ustadz. Ana gak mau mereka bersedih atas kelakuan ana ini.” Jelasnya sambil sedu sedan.

“Ya akhiy, jangankan ortu antum, jangankan kawan-kawan antum, jikalah tanah yang kita injak ini tak tahu antum pelakunya maka ana tak akan memberitahunya. Ana seorang muslim Akhiy. Ana akan berupaya menutupi aib antum. Tapi ana ingin antum berjanji pada ana, jangan antum ulangi lagi! Bersabarlah dalam menuntut ilmu! Takutlah pada Allah!” Kata saya padanya.

Ia semakin tak tertahankan. Tangisnya pecah. Beruntung itu terjadi saat santri lain berada di luar pondok. Hari Jum’at libur.

baca juga :  Alasan Imam Malik Menganggap makruh Shaum 6 Hari Bulan Syawwal

“Ana janji, Ustadz. Antum bisa memegang janji ana ini, Ustadz. Tapi sekarang bagaimana dengan uang itu, Ustadz? Apa harus ana kembalikan pada yang punya?”

“Thayyib, janji antum ana pegang. Terkait uangnya, ia sudah ada di ana. Antum tak perlu mengembalikan langsung padanya. Biar ana saja. Anggap ana wakil antum untuk mengembalikan pada yang punya.”

Singkat cerita yang punya uang saya panggil kembali. Saya serahkan uang tersebut. Ia bertanya siapa pelakunya. Saya katakan bahwa ia tak perlu mengetahuinya, yang penting uangnya telah kembali dan ia memaafkan orang tersebut. Ia pun mengamini saran saya dan mengerti penjelasan saya. Ia kembali mengikuti agenda-agenda rutin santri lagi.

Tahukah antum bagaimana kondisi santri pelaku hingga hari ini pasca kejadian itu?

Ini tahun kelima pasca kejadian tersebut. Ia tumbuh jadi santri yang baik, rajin, dan sabar dalam menuntut ilmu. Walhamdulillah, ia masih memegang janjinya. Semoga Allah istiqamahkan dia. Aamiin.

Kesimpulannya, fahami keadaan santri dengan baik. Tak semua permasalahan mereka itu murni karena kenakalan mereka, melainkan ada faktor penyebab lain yang mendasarinya. Disinilah kita perlu piawai mengungkapnya dan bijak dalam mengambil keputusan.

Tutupi aib. Ya, pada siapapun itu. Bantahlah fokus pada penyimpangannya terhadap syari’at, bukan dengan mengumbar aib-aib. Terlisankan oleh Nabi yang mulia, Rasulullah shallallâhu ‘alayhi wasallam,

baca juga :  Ketika Sedih Menyapamu

من ستر مسلما ستره الله له في الدنيا والآخرة

“Sesiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.” [Riwayat Muslim]

Semoga bermanfaat…

Di heningnya malam, Ma’had Daar El ‘Ilmi Beusi…

Akhûkum Fillâh,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 138 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *