Tak Selalu

  • by

Tak selalu..

Apa yang kita lakukan itu harus sesuai standar banyak orang. Sebab terkadang banyak orang justru mengaburkan kita dari sesuatu yang sebenarnya..

ﻭَﺇِﻥْ ﺗُﻄِﻊْ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻳُﻀِﻠُّﻮﻙَ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺇِﻥْ ﻳَﺘَّﺒِﻌُﻮﻥَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻭَﺇِﻥْ ﻫُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﻳَﺨْﺮُﺻُﻮﻥَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Al An’ām : 116)

Tak selalu..

Jika kita kita tahu sesuatu itu mewajibkan kita berbicara akan hal itu jika tak dibutuhkan atau tak ditanyai..

Tak selalu..

Jika tak berdebat itu menunjukkan kita yang salah atau kita yang kalah..

Sebab yang suka mendebat malah dapat celaan

-sponsor-
jika ia muncul akibat ego, bukan ghirah..

ﺇِﻥَّ ﺃَﺑْﻐَﺾَ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺄَﻟَﺪُّ ﺍﻟْﺨَﺼِﻢُ

“Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat.” (HR. Bukhâri)

Atau kita sedang berharap rumah di surga..

ﺃَﻧَﺎ ﺯَﻋِﻴﻢٌ ﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲ ﺭَﺑَﺾِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻤِﺮَﺍﺀَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤِﻘًّﺎ ﻭَﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲ ﻭَﺳَﻂِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺎﺯِﺣًﺎ ﻭَﺑِﺒَﻴْﺖٍ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﺴَّﻦَ ﺧُﻠُﻘَﻪُ

“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya.” (HR. Abu Dawud)

baca juga :  Macam-Macam Teman Menurut Imam al-Barmawiy

Tak selalu..

Orang yang terlihat sengsara oleh kita berarti ia tak bahagia. Sebab sebagaimana kita tak bisa mengukur baju orang lain dengan baju ukuran kita, maka kitapun tak bisa mengukur kebahagiaan orang lain dengan ukuran kita.

Tak selalu..

Sesuatu yang tampak “wah” itu benar, sebab tak seorangpun menafikan bagusnya jasmani munafiqin di zaman Nabi,  namun mereka membenci kenifaqan mereka..

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘَﻬُﻢْ ﺗُﻌْﺠِﺒُﻚَ ﺃَﺟْﺴَﺎﻣُﻬُﻢْ ۖ ﻭَﺇِﻥْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺗَﺴْﻤَﻊْ ﻟِﻘَﻮْﻟِﻬِﻢْ ۖ ﻛَﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﺧُﺸُﺐٌ ﻣُﺴَﻨَّﺪَﺓٌ ۖ ﻳَﺤْﺴَﺒُﻮﻥَ ﻛُﻞَّ ﺻَﻴْﺤَﺔٍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ۚ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻌَﺪُﻭُّ ﻓَﺎﺣْﺬَﺭْﻫُﻢْ ۚ ﻗَﺎﺗَﻠَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ۖ ﺃَﻧَّﻰٰ ﻳُﺆْﻓَﻜُﻮﻥَ

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka: semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (Al Munafiqun : 4)

Maka sedari awal agama ini melarang kita tergesa. Jangan tergesa menilai diantaranya. Sebab terkadang, fikiran kita serapuh sarang laba-laba..

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 41 times, 1 visits today)
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *