Tak Ada Paksaan Dalam Jual Beli

  • by

Pedagang yang bagus Tauhidnya tidak suka merengek-rengek, meminta-meminta, memaksa-maksa,

“Tolong beli dagangan teman, please.”

Sebab ia faham bahwa jual-beli itu harus ‘an tarâdhin (saling ridha), bukan merasa terpaksa karena iba ke teman. Dan ia faham betul bahwa ada muru-ah diri yang harus dijaga. Ia juga faham bahwa rizqi itu benar-benar telah ditentukan kadarnya, sehingga dalam benaknya, “tugas saya ikhtiar, promosi baik-baik. Urusan orang mau beli atau tidak, teman mau beli dan bantu atau tidak, itu sudah tertulis di lauhul mahfûdzh”. Sehingga jiwanya selalu tenang.

Maka promosilah yang bagus. Dengan bahasa yang menarik hati tanpa harus merengek-rengek dan memaksa-maksa. Merdekakan hatimu jangan terpengaruh apakah temanmu beli atau tidak. Semoga Allah berkahi jual-belimu.

Kami pernah jadi pedagang. Kami bangun prinsip ini ketika berdagang sedari awal. Maka

-sponsor-
meski saudara sendiri, tetangga dekat, kawan sepermainan, belanjanya ke orang lain maka kami enjoy saja seakan tidak ada masalah apapun. Bahkan kami jarang promosi ke keluarga dan tetangga, apalagi maksa-maksa, kami menjauhinya.

Sebaliknya, selaku pembeli jangan pernah maksa-maksa kepada penjual dengan istilah “harga teman”, yaitu meminta harga diturunkan dengan alasan yang jual adalah teman dekat. Ini bentuk kedzhaliman. Bagusnya ditambahi sebagai sedekah, ini malah minta diturunkan harganya.

Termasuk kedzhaliman berupa pemaksaan adalah merayu pedagang agar terus menurunkan harga di depan orang banyak, sehingga pedagang menjadi malu dan akhirnya menurunkan harganya. Ar-Ramliy dalam Nihayatul Muhtaj mengatakan,

baca juga :  Konstantinopel

“Seseorang meminta diturunkan harga dengan cara merayu penjual di hadapan orang banyak sehingga yang diminta merasa malu, lalu menjualnya dengan harga yang diinginkan pembeli. Para ulama juga memasukkan jual beli jenis ini dalam kategori TERPAKSA.” (Nihayatul Muhtaj, 7/146)

Mari merenungi firman Allah Tabâraka wa Ta’âlâ:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَنْـفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُمْ رَحِيْمًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 29).

Wallahu Waliyyut Taufîq

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 28 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *