“Sunnah”nya Para Ahli Hadits Yang Perlu Dijaga

  • oleh

Diantara kebiasaan yang berjalan di kalangan ahli hadits, dan itu bertahan sampai sekarang dilestarikan oleh para ulama dalam majelis-majelis sama’i hadits adalah melafadzhkan kata “قال(Qōla: telah berkata) sebelum lafadzh حدثنا, حدثني, أخبرنا, أخبرني, dan sejenisnya dalam membaca sanad hadits.

Itulah yang sering ditinggalkan sebagian orang, baik dari penuntut ilmu ataupun sebagian asatidz. Mungkin karena ketidaktahuan, mungkin juga karena merasa bahwa hal tersebut tidak penting. Padahal itu bagian dari “sunnah”nya para ahli hadits.

Berkata Imam an-Nawawiy rahimahullah,

جرت عادة أهل الحديث بجذف قال ونحوه فيما بين رجال الإسناد في الخط

“Telah berjalan kebiasaan para ahli hadits melafadzhkan qôla dan semacamnya diantara penyebutan para rijal isnad pada teks.” (Tuhfatul Ahwadzi, 1/22)

Ibnu ‘Abdirrahîm al-Mubârakfûriy melanjutkan,

فينبغي للقارئ أن يقرأ هذا السند هكذا: قال حدثنا قتيبة بن سعيد، قال أخبرنا أبو عوانة…

-sponsor-
style="text-align: justify;">“Maka seyogianya seorang qôri (pembaca hadits) membaca sanad itu begini: qôla haddatsanâ Qutaibah bin Sa’îd, qôla akhbaranâ Abû ‘Awânah… Dst. (Tuhfatul Ahwadzi, 1/22).

Ya, dengan menyebutkan kata “qôla” sebelum kata haddatsanâ, akhbaranâ…

“Sunnah” tersebut terus bertahan hingga masa sekarang, sebagaimana penulis saksikan sendiri di majelis-majelis hadits para ulama baik offline maupun online.

Maka hendaknya kita melestarikannya, baik para ustadz ataupun penuntut ilmu, menjaga kebiasaan ini serta adab-adabnya ketika membaca hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

baca juga :  Beradablah

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 62 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *