Stok Kesabaran Seorang Ustadz

  • by

Panggilan “Ustadz” tak asing lagi bagi kita untuk menunjuk pada seorang da’i dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

Panggilan ini ringan, tapi sakral dalam agama. Ia merepresentasikan ahli ilmu di bidangnya.

An-Nawawiy sampai menyiratkan dalam at-Tibyān bahwa mereka ini “haram” diganggu atau di-kurang-adab-i…

An-Nawawiy menggolongkan para ahli ilmu, para ustadz, para ulama, jika mereka ikhlas di jalan Allah sebagai wali-wali Allah. Dan yang mengganggu mereka terancam sedang berhadapan dengan Allah Jalla wa ‘Alaa.

Allah berfirman,

ﺫَٰﻟِﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻌَﻈِّﻢْ ﺣُﺮُﻣَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻪُ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻪِ ۗ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (Al Hajj : 30)

“Yang terhormat di sisi Allah” yang dimaksud disini diantara para ahli

-sponsor-
ilmu, para guru alias para ustadz.

Bahkan sesiapa yang bisa beradab dan menghormati mereka menunjukkan ketaqwaan hatinya…

ﺫَٰﻟِﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻌَﻈِّﻢْ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺗَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al Hajj : 32)

“Syiar-syiar Allah” disini maksudnya salah satunya adalah aktivitas para ahli ilmu dan ahli ilmu itu sendiri.

Saking “sakral”nya sampai-sampai banyak yang melupakan sisi kemanusiaan sang ustadz. Yang pada akhirnya tertanam di benaknya bahwa ustadz itu “haram” untuk salah dan keliru (versinya).

baca juga :  Diam Sejenak

“Ustadz fulan kok suka becanda yah… Padahal ustadz itu kan gak boleh becanda.”

“Ustadz Fulan kok, kucingnya begitu yah…”

“Ustadz fulan kok bajunya lusuh yah”

“Ustadz kok marah-marah yah. Kan ustadz mah gak boleh marah.”

“Ustadz ustadz kok pundung yah. Kan ustadz gak boleh pundung.”

“Ustadz ustadz kok baperan? Kan ustadz mah ga boleh baper.”

“Ustadz fulan kok tadi kesiangan berjama’ah yah.”
Padahal sang ustadz lagi diare.

Dan banyak lagi contoh lainnya.

Atau dengan sikap peremehan terhadap mereka..

“Afwan ustadz, kami tidak bisa hadir karena begini dan begitu.”
Padahal hari dan waktunya jelas. Si Ustadz pun sudah meluangkan waktunya. Bahkan si Ustadz membatalkan agendanya demi majelis. Tapi sejam sebelumnya ada konfirm pembatalan. Sang ustadz hanya tersenyum mengelus dada.

Mungkin sang murid saking husnudzhannya meyakini bahwa sang ustadz itu harus pemaaf.

Sang ustadz mungkin sangat bisa memaafkan, meski cukup dengan ucapan afwan. Sangat bisa. Karena ia begitu sayang sama murid-muridnya. Namun permasalahn tersebut bukan sepele. Bagaimana kita bisa menginginkan dipimpin oleh seorang amanah, sementara kita sendiri membiasakan tidak amanah terhadap jadwal dan komitmen?

Banyak yang lupa bahwa mereka itu manusia biasa. Seorang Nabi saja disuruh Allah untuk mengakui bahwa mereka itu manusia, bedanya mereka mendapat wahyu..

ﻗُﻞْ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺑَﺸَﺮٌ ﻣِﺜْﻠُﻜُﻢْ ﻳُﻮﺣَﻰٰ ﺇِﻟَﻲَّ

baca juga :  Hukum Kotak Amplop Dalam Walimah (Bagian 1)

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku..” (Al Kahfi : 110)

Para Ustadz itu manusia. Jangan kita paksa mereka sama dengan para malaikat, atau para Nabi yang ma’shum.

Ustadznya marah sedikit, dibilang ustadz pemarah. Ustadznya bercanda sedikit, dibilang ustadz gak pantas becanda. Ustadznya di-PHP-in, dipaksa harus pemaaf. Ustadznya makan enak, dibilang gak zuhud. Ustadznya pakai baju bagus, dibilang glamour. Ustadznya hidup, dibilang harus mati? Allahul Musta’an.

Kalau demikian syarat menjadi ustadz, tak akan ada ustadz yang menginjakkan kaki di atas muka bumi.

Mereka punya rasa cinta pada wanita dan minyak wangi. Mereka punya kecenderungan pada kendaraan dan tempat tinggal. Mereka senang pada makanan dan minuman. Mereka asyik pada jalan-jalan dan bercanda riang. Mereka juga berhak bahagia menurut versi mereka. Mereka berhak marah, cemburu, kesal, pundung, dan sebagainya.

Menyikapi murid-murid yang demikian, dan nampaknya sudah sunnatullah di atas muka bumi ini, bahwa seorang ustadz akan menghadapi hal-hal demikian berkilo-kilo dalam hidupnya. Maka Stok kesabarannya harus berton-ton lebih banyak.

Jika sang ustadz sabar, itu baik baginya. Begitupula jika sang murid sabar, itu juga baik baginya.

Kalau seandainya Imam Malik tak sabar dalam berguru pada Imam Nafi’ yang supergalak, tentunya silsilah emas dalam rantai sanad antara dirinya dan Rasulullah tak akan terjadi.

baca juga :  Bahayanya Melewati Orang Yang Sedang Shalat

Kalaulah sahabat fulan tidak membuat sahabat Ibnu Abbas kesal, tentulah beliau akan tetap bisa mengambil faedah dan ilmu dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan tak akan diboikot dari majelis..

Sekali lagi, stok kesabaran ustadz harus berlipat-lipat banyaknya. Dan stok adab dan kesabaran murid harus bisa mengimbanginya…

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺻْﺒِﺮُﻭﺍ ﻭَﺻَﺎﺑِﺮُﻭﺍ …

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu…” (Ali Imran : 200)

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 45 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *