Silsilah Tafsir Al-Quran

  • by

SERI JUZ 15

SURAT AL-KAHFI (4-5)

وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلا لآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا (5)

“…Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.” Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang kelu­ar dari mulut-mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecua­li kedustaan saja.” [Al-Kahfi: 4-5]

Kandungan Ayat:
-Diantara perkataan dusta orang musyrik mekkah adalah bahwasanya Allah mengambil anak, yaitu para malaikat. Mereka beranggapan bahwasanya para malaikat adalah anak-anak perempuannya Allah سبحانه وتعالى.

-Yang berkata dusta bukan hanya dari kalangan musyrik mekkah, namun juga datangnya dari Yahudi dan Nashrani, yaitu bahwasanya mereka mengatakan Allah memiliki anak.

-Dalam Tafsir As-Si’diy dikatakan,
فإنهم لم يقولوها عن علم ولا يقين، لا علم منهم ولا

-sponsor-
علم من آبائهم الذين قلدوهم واتبعوهم…
“Sesungguhnya mereka tidak mengatakannya dari ilmu dan tak pula dari keyakinan. Tak ada ilmu dari mereka. Tak pula dari bapak moyang mereka yang mereka taqlidi dan mereka ikuti…” [Tafsir as-Si’diy, hal. 546]

-Mengucapkan bahwa Allah memiliki anak adalah bentuk kelancangan yang sangat. Itu lebih besar dosanya dari pensifatan lainnya. Karena berkonsekuensi merendahkan Allah, yaitu Dia memiliki kekurangan, dan menganggap ada yang terlibat dalam kekhususan Allah berupa Rububiyah dan Uluhiyyah. Bukankah itu kedustaan yang sangat besar atasnya? [Tafsir as-Si’diy, hal. 547]

baca juga :  Urutan Membaca Tafsir Al-Quran

Faedah Ayat:
-Mensifati Allah dengan sifat-sifat kekurangan adalah salah satu bentuk dosa paling besar.

-Berbicara tentang Allah dan agama ini haruslah dengan ilmu.

-Taqlid pada bapak moyang bukanlah standar kebenaran. Justru kebanyakannya bertentangan dengan agama. Maka yang benar adalah taqlid pada kebenaran.

-Berkata agama tanpa ilmu adalah bentuk kedustaan. Dan kedustaan terhadap Allah tidaklah sama tingkatannya dengan kedustaan terhadap manusia. Kedustaan terhadap Allah lebih besar dosanya.

-Hendaknya kita selaku muslim berhati-hati dalam berbicara tentang agama. Pastikan ia benar-benar kita fahami dengan baik terlebih dahulu dan haruslah bersumber dari pijakan yang benar dan jalan pemahaman yang lurus.

Wallâhu Waliyyut Taufîq

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 17 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *