Sanad : Antara Tuntutan Dan Komoditi

  • by

Kami belajar cukup lama pada guru kami di bidang ‘Ulûmul Quran. Tahsin Tilawah, Tahfidzh, Tafsir, Ilmu Qiraat, bahkan Ilmu Rasmil Quran diajarkan beliau hafidzhahullah. Tak terasa telah belajar pada beliau lebih dari 5 tahun kala itu.

Yang menarik dari beliau adalah keikhlasannya dengan Al Qur’an. Ya, Beliau mengajari ilmu qiraat ‘Asyr (Qiraat 10) kepada kami hasil menuntut ilmunya di negeri Kinanah Mesir kepada banyak Muqri bersanad ‘Aliy disana. Namun beliau TIDAK PERNAH MENGGEMBAR-GEMBORKAN bahwa beliau memiliki Sanad dari mereka. Beliau hanya “ajeg” saja ngajar seperti biasa.

Ketika kami lulus, barulah beliau bercerita bahwa sebenarnya beliau memiliki SANAD QIRAAT ‘ASYRAH (Qiraat 10) dengan berbagai jalurnya. Hanya saja SENGAJA beliau SEMBUNYIKAN dari kami di awal-awal belajar. Ketika kami tanya, “Mengapa?”, maka beliau menjawab dengan santai,

“Ana khawatir antum belajar ke Ana hanya untuk mengejar hal

-sponsor-
itu!”

Bahkan beliau bercerita bahwa lembar-lembar Ijazah Sanad tersebut tidak beliau ambil dari guru-gurunya. Dengan satu kalimat,

“Ana hanya ingin bacaan Quran ana lebih didengar oleh Allah! Cukup bagi ana bisa membacanya sesuai sunnah Rasul dengan riwayat yang shahih-shahih itu, tanpa harus menjadikan sanad sebagai komoditi!”

Jleb…

Mengingat hal tersebut saya sempat menundukkan kepala dan merenung. Betapa di zaman sekarang sanad benar-benar seperti dua sisi mata uang; ANTARA TUNTUTAN dan KOMODITI.

baca juga :  Kabur

Sebagian menjadikannya bagaikan barang dagangan. Sebagian lagi menjadikannya sebagai amanah ilmiyyah agar orang belajar padanya dengan benar.

Maka yang terbaik adalah yang terbaik niatnya.

Akhukum,
Abu Hâzim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi Beusi)

Editor : Tsaqib Ilham Nur

(Visited 88 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *