Riba Dan Hikmah Di Balik Pensyariatannya !

  • oleh

Kalau kita pakai nalar akal yang kita miliki, tentu menukar 1 sha’ kurma bagus dengan 2 sha’ kurma biasa itu adil.

Namun tidak demikian menurut syari’at. Allah melarang hal demikian melalui lisan Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ,

ﻻ ﺗﻔﻌﻞ ! ﻭﻟﻜﻦ ﺑﻊ ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺑﺎﻟﺪﺭﺍﻫﻢ ﺛﻢ ﺍﺑﺘﻊ ﺑﺎﻟﺪﺭﺍﻫﻢ ﺟﻨﺒﺎ .

“Jangan lakukan itu! Akan tetapi juallah semuanya dengan dirham kemudian yang satunya beli dengan dirham lagi.” (Riwayat Muslim)

Aneh. Mungkin itu menurut fikiran kita. Transaksi pertama dengan cara menukar langsung. Sementara transaksi kedua, dengan cara saling jual beli menggunakan dirham. Apa bedanya?

Syaikh Al-Khatslan mengatakan,

ﻭﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﺍﻟﺒﺎﻟﻐﺔ

“Dan milik Allah ﺗﻌﺎﻟﻰ hikmah yang mendalam ini.”

Na’am. Kita tidak tahu apa hikmah dibaliknya. Namun ada faedah besar yang kita ambil, yaitu KETUNDUKAN.

-sponsor-
Ya, apapun yang Allah dan Rasul-Nya putuskan untuk kita tentang suatu perkara, maka tidak boleh ada pilihan lain bagi kita, kecuali harus kita taati! Meskipun menurut akal kita itu tidak masuk akal.
Dari sinilah juga banyak yang gagal faham bahwa perkara riba itu haruslah masuk akal. Tidak, tidak demikian. Ia perkara yang daqiiq (dalam sekali). Berkata para ulama,

ﻓﻤﺴﺎﺋﻞ ﺍﻟﺮﺑﺎ ﻣﻦ ﻣﺴﺎﺋﻞ ﺍﻟﺪﻗﻴﻘﺔ

“Permasalahan riba itu bagian dari masalah yang sangat dalam pembahasannya.”

Ia bukan perkara remeh. Yang harus dilibatkan adalah bukanlah ia harus masuk akal atau tidak. Lebih dari itu semua, bagaimana ketundukan kita pada Nash, pada dalil-dalil.

baca juga :  Mentraktir Pemberi Pinjaman Pasti Riba?

Itulah alasan mengapa ketika orang kafir mencoba menggunakan akalnya dengan cara mengqiyaskan antara jual beli dengan riba,

ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺮﺑﻮﺍ . ‏( ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : ٢٧٥ )

Mereka mengatakan, “Jual beli itu sama semisal riba (apa bedanya?)”. (Al-Baqarah: 275)

Maka Allah membalas Qiyas mereka,

ﻭﺃﺣﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﻭﺣﺮﻡ ﺍﻟﺮﺑﻮﺍ . ‏( ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : ٢٧٥ )

“Dan telah Allah halalkan jual beli dan telah Allah haramkan riba.” (Al-Baqarah: 275)

Seakan-akan Allah menjelaskan pada mereka, “Bahwa beda antara jual beli dan riba!”

Na’am. Hingga dari ayat ini para ulama mengambil kesimpulan,

ﻫﺬﻩ ﺩﻻﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ﻳﻬﺪﻣﻪ ﺍﻟﻨﺺ

“Ini penunjukkan bahwasanya Qiyas itu dihancurkan oleh Nash!”

Dalam artian, Qiyas tidak boleh dibenturkan dan Nash. Akal harus tunduk pada nash!

Akhukum,
Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *