Rasa Barakah

  • by

Langkahnya mantap. Baju putih berkerah yang dikenakan itu tampak semakin menguning. Sandal jepit yang ia injakkan pun terlihat usang. Luar biasanya ia masih terlihat gagah dengan celananya hampir setengah betis dan janggut panjang meski beberapa helai dan tipis.

Berdiri mematung di depan tukang nasi goreng, mengantri.

“Satu bungkus saja, Pak. Pedasnya pisah.” Pesannya.

“Wah, sulit kalau dipisah pedasnya pak. Biasanya kami satukan dalam penggorengan.” Kata Tukang Nasgor itu.

“Baiklah, tak usah dikasih pedas saja pak.”

“Emang buat siapa pak?” Tanya tukang Nasgor menelisik.

Dengan sebuah senyuman ia menjawab,

“Buat Saya, Istri, dan anak-anak saya, pak.”

Sebungkus untuk sekeluarga. Cukupkah itu?

Tetiba butiran air turun dari langit. Hujan turun. Titik-titiknya mulai membasahi terpal dan jalanan. Secepat kilat ia serahkan uang

-sponsor-
beberapa pecahan bahkan recehan. Mungkin itu penghasilannya hari itu. Agak berlari ia bertolak dari tukang nasi goreng. Semakin melebat, semakin mempercepat tapak-tapak kecilnya.

Agar tak berkuah, ia bungkus nasi goreng tadi di balik kemejanya yang mulai usang. Di perutnya. Didekap dengan hati-hati dan penuh cinta. Untuk menjaga penyambung hidup dirinya, istri, dan anak-anak tercinta. Tak dekat jarak rumahnya, tanpa motor ataupun sepeda ia harus lalui jalan berkilo jumlahnya…

Apa yang antum pikirkan wahai para Bapak dengan kondisi seperti dia?

baca juga :  Tentang Metode

Apa yang antunna pikirkan wahai para Istri dengan kondisi orang tadi?

Kasihan? Iba? Miris? Menyedihkan?

Jika itu yang terpikir, maka itu pikiran anda saja. Coba tanyakan pada lelaki tadi apa yang ia rasa…

Hatinya berbunga. Ia bahagia. Jiwanya dipenuhi heroisme yang tinggi. Itu terlihat dari senyum manisnya ketika menjawab pertanyaan tukang nasi goring tadi. Dadanya penuh keharuan…

Sebagai suami ia nikmati perjuangan menafkahi anak istri. Ada getaran kebanggaan disana, ada keharuan, kegembiraan. Bahagianya mendalam tenggelam di kebeningan butiran air di sudut matanya. Ia membayang senyum orang yang menantinya di pintu kontrakannya. Itu bagai bayangan surga yang terhidupkan dipetak kontrakan sempitnya itu…

Di antara gemuruh hujan menderu. Cipratan air yang bersicepat. Baju dan celana yang kuyup. Sandal jepit lecek yang mulai tertelan lumpur. Ia akan tersenyum. Senyum termanis yang disaksikan jagat raya. Senyuman yang tidak pernah dirasakan oleh para lajang, lelaki hidung belang, gamers lupa anak istri, tukang dugem, peninggal shalat, dan mereka yang jauh dari ilmu serta agama…

Wahai para Istri…

Jika kau dapati suamimu bagai lelaki heroik tadi. Maka bersyukurlah. Hidupmu berkah meski hanya recehan-recehan yang kau terima dari keringatnya…

Hasil sipayahnya yang halal..

Serta mempertahankan keshalihan dirinya..

Pertahankan dia…

Ia surga bagimu…

Wahai para Suami…

Keberkahan itu ada pada ketaqwaan dirimu..

baca juga :  Tidak Setiap Berita Bahagia Harus Diceritakan

Perjuanganmu akan berarti selama itu halal..

Kau taat padaNya dan pada rasulNya itulah kebahagiaan hakiki..

Jika kau dapati Istrimu penuh syukur dengan keadaanmu, wasilah atas keshalihanmu… Pengingat khilafmu..

Pertahankan dia..

Dia bidadari surgamu..

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut,

ﻣَﻦْ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺁﻣِﻨًﺎ ﻓِﻲ ﺳِﺮْﺑِﻪِ، ﻣُﻌَﺎﻓًﻰ ﻓِﻲ ﺟَﺴَﺪِﻩِ، ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻗُﻮﺕُ ﻳَﻮْﻣِﻪِ، ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﺣِﻴﺰَﺕْ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ

“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.” (HR. At-Tirmidzi)

Salam hangat,

Saudaramu,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 41 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *