“Permen” Dari Bank Pasti Riba?

  • by

Pertanyaan:

Bismillaah, mau bertanya ustadz, telah beredar meme (mim-read) di media sosial yang mana disana dijelaskan bahwa:

  1. Menerima permen atau air mineral yang merupakam fasilatas Bank kemudian,
  2. Menerima hadiah berupa permen, tas, jam dinding dan lainnya dari Bank itu adalah haram, karena hutang-piutang yang berbuah manfaat itu hukumnya Riba.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah:

Apakah hal itu berlaku juga bagi yang tidak berhutang ke Bank, sementara dia menerima pembeirian atau hadiah dari Bank tersebut. Mohon penjelasannya ustadz? Jazakallahu khayran.

Jawaban:

Tidak berlaku baik bagi yang punya hutang ke Bank tersebut apalagi yang tidak punya hutang. Karena maksud dari kaidah:

كل قرض جر نفعا فهو ربا

“Setiap hutang-piutang yang menghasilkan manfaat itu riba”.

Adalah jika dibangun di atasnya akad

-sponsor-
tambahan sedari awal pada transaksi hutang piutang tersebut.

Selain itu jika ia adalah bentuk pemberian biasa yang tidak ada kaitannya dengan pokok piutang dan itu sudah menjadi kebiasaan berjalan diberikan baik untuk pengutang maupun yang tidak berhutang sebagai bentuk promo saja misalkan, diberikan juga sebelum akad qardh (hutang-piutang), maka ia bukan termasuk kategori manfaat yang dimaksud oleh kaidah di atas.

Selain itu yang datang ke bank itu posisinya sebagai customer atau nasabah dan pengutang jika ia berhutang. Maka ia bukan mengambil manfaat, malahan justru yang mengambil “manfaat” itu adalah yang dihutangi.

baca juga :  Hukum Imam Bersambung

Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisiy rahimahullah mengatakan dalam kitab ‘Umdatul Fiqh:

ولا يقبل هدية المقترض إلا أن يكون بينهما عادة بها قبل القرض

“(Yang memberi piutang) tidak boleh menerima hadiah dari pengutang kecuali diantara mereka sudah punya kebiasaan seperti itu sebelum terjadinya akad hutang-piutang.”

Sebagai contoh lain, misalkan kita biasa saling mentraktir dengan teman. Kemudian satu waktu kita butuh piutang darinya, maka kitapun berhutang padanya. Karena kita biasa saling mentraktir dari semenjak sebelum ada akad hutang-piutang, maka ketika telah terjadi akad pun itu boleh dan tidak termasuk “manfaat” yang dimaksud kaidah riba di atas.

Silahkan baca juga ulasan kami yang telah lalu berkenaan  dengan ini:

Mentraktir Pemberi Pinjaman Pasti Riba? https://islamqu.org/mentraktir-pemberi-pinjaman-pasti-riba/

Nah, begitu pula kasus permen di atas. Jika kita terbiasa ke bank bukan selaku pengutang. Kemudian kita terbiasa dapat hadiah permen. Maka ketika (Na’udzu billah) kita berhutang ke Bank, ketika kita menerima permen tersebut tidak terhitung sebagai “manfaat”. Maka apalagi yang tidak punya hutang ke Bank.

Namun saya menasehatkan agar tidak bermudah-mudahan untuk bertransaksi dengan Bank kecuali hanya sekedar lewat karena kebutuhan transaksi saja. Itupun tetaplah upayakan melalui Bank yang mau dinego dengan akad syar’i.

Wallahu Waliyyut Taufiiq.

Akhukum
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi).

Editor: Dudi Rusdita

(Visited 83 times, 1 visits today)
baca juga :  Hukum Menambahkan Nama Pasangan Di Belakang Nama Kita (Bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *