Perayaan Tahun Baru

  • by

Mari kita hindari kekeliruan yg terus berulang dilakukan sebagian saudara kita di akhir tahun dan menyambut tahun baru masehi.

Bahkan untuk sekedar MENYAKSIKAN ramainya acara seperti itupun hendaknya seorang mukmin menghindarkan diri darinya.

Sebab Allah berfirman ketika mensifati ‘Ibadurrahman (hamba-hamba kesayangan Ar Rahmaan/Mukmin sejati),

وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ ۙ وَ اِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang TIDAK MENYAKSIKAN Az-Zûr, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 72)

Disini disebutkan musyahadah alias menyaksikan, yang dalam lisan ‘Arab dimaknai al-hudhûr was simâ‘ (Hadir dan Mendengarkan).

Kata “الزور” dimaknai sebagai A’yâdul Musyrikin (Semua perayaan orang musyrik) oleh Mujahid bin Jabr, ar-Rabî’ bin Anas, al-Qadhiy Abu Ya’lâ, dan adh-Dhahhâk

-sponsor-
rahimahumullâh.

Sementara kata Ibnu Sîrîn, ia diantara salah satu ‘Ied (perayaan Nashara).

Wajhud Dilâlah-nya. Allah suka kepada ‘Ibadurrahmân yang memiliki salah satu karakteristik tidak ikut menyaksikan perayaan milik orang kafir. Maka mafhum mukhalafahnya adalah Allah tidak suka pada orang yang menyaksikan perayaan orang kafir.

Bayangkan, hanya sekedar menyaksikan saja tidak disukai Allah, apalagi ikut serta di dalamnya. Tentu dosanya lebih berat  di sisi Allah Jalla Wa ‘Alâ.

Sudut berikutnya adalah hadits Nabi shallallâhu ‘alayhi wasallam ketika beliau tiba di Madinah. Ahlul Madinah memiliki perayaan 2 hari yang biasa mereka lakukan dari semenjak zaman jahiliyyah. Kemudian Nabi bersabda tentangnya,

baca juga :  SYAHWAT TERSEMBUNYI

إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما؛ عيد يوم الأضحى ويوم الفطر

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik darinya; yaitu hari adhha dan hari fithri.” (Abu Dawud, an-Nasa-iy, Ahmad)

Wajhud dilâlah-nya. Dua hari tersebut diganti oleh Allah Tabâraka wa Ta’âlâ. Ini menunjukkan bahwa al-Mubdal (yang diganti) itu benar-benar harus ditiadakan, digantikan oleh yang baru yaitu ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adhha.

Artinya, Allah tidak ridha ada hari raya selain 2 hari raya tersebut.

Padahal 2 hari yang biasa mereka isi itu hanya sekedar adat dan diisi oleh main-main saja (bukan ibadah). Namun tetap Allah menggantinya. Ini menunjukkan bahwa, sekedar adat saja diganti apatah lagi jika itu bentuk syi’ar orang kafir, tentu lebih layak tidak dilakukan!

Sudut berikutnya dari Ijma’. Dari semenjak zaman Rasul shallallâhu ‘alayhi wasallam, para sahabat, para Tabi’in, dan seterusnya. Dinukil dari mereka bahwa mereka tidak pernah ikut serta merayakan tahun baru masehi. Padahal tahun baru masehi lebih dulu ada tinimbang mereka. Ini menunjukkan bahwa memang ia bukan dari islam dan terlarang merayakannya.

Perhatikan kalimat tegas dari ‘Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu untuk mengakhiri tulisan ini,

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

“Jauhilah oleh kalian musuh-musuh Allah di perayaan-perayaan mereka.” (Al-Baihaqiy)

Tidak ikut tahun baruan bukan berarti tidak gaul, ataupun bukan berarti tidak toleran. Itu prinsip agama yang tidak boleh digadaikan. Toleran itu sama-sama membiarkan. Lakum dînukum waliyadîn.

baca juga :  Penuntut Ilmu Di Zaman Dahulu Dan Zaman Sekarang

Jika urusan nyisir rambut saja kita tidak boleh menyerupai, apa jadinya jika kita justru terlibat di dalamnya serta menyukai sepenuh hati?

Pagi yang sejuk di Daar El ‘Ilmi,

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 123 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *