Pendidikan Para Pendahulu Yang Shalih

  • by

Secara teknis, cara belajar para sahabat adalah hampir sama dengan yang kita praktekkan, InSyaaAllah

Mereka memulai dari perkara ‘Aqidah, perkara keimanan dahulu

ﻋﻦ ﺟُﻨْﺪُﺏِ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ : ﻛﻨﺎ ﻣﻊ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻧﺤﻦ ﻓِﺘْﻴَﺎﻥٌ ﺣَﺰَﺍﻭِﺭَﺓٌ ﻓﺘﻌﻠﻤﻨﺎ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻧﺘﻌﻠﻢ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺛﻢ ﺗﻌﻠﻤﻨﺎ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺎﺯﺩﺩﻧﺎ ﺑﻪ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎً ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﺔ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺠﻢ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ ﺳﻨﻨﻪ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻭﻫﻮ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ

Dari Jundub bin Abdillah beliau berkata: “Dahulu kami ketika remaja bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum Al Qur’an kemudian setelah kami belajar Al Qur’an bertambahlah keimanan kami. Sedangkan kalian sungguh pada hari ini justru belajar Al Qur’an dulu sebelum belajar iman” (Riwayat At Thabarani, Al Baihaqi, Ibn Majah, dishahihkan Al Albani)

Kemudian lanjut ke Al

-sponsor-
Qur’an dan penjelasannya, serta bentuk pengamalannya

Untuk usia anak-anak biasanya mereka radhiyallahu ‘anhum membentuk sejenis TPQ, terutama di masa khulafaurrasyidiin. Anak-anak “disekolahkan” di kuttab, untuk diajari konsep-konsep keimanan, Al Quran, baca, tulis, dan sebaginya.

Biasanya tempatnya di sekitaran mesjid kuttab-kuttab tersebut dibangun dan disemarakkan.

Dalam sebuah atsar yang shahih riwayat ibnu ‘Asakir, bahwasanya ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu suka mengarahkan anak kaum muslimin yang masih kecil berada di luar mesjid dan diarahkan ke kuttab untuk belajar. Jika anak-anak telah mumayyiz, maka barulah mereka diizinkan masuk mesjid.

baca juga :  Penuntut Ilmu Di Zaman Dahulu Dan Zaman Sekarang

Beliau Radhiyallahu ‘anhu suka mengontrol kuttab-kuttab tersebut dan menggaji para pengajar atau ustadz-ustadznya. Gaji mereka cukup besar.

Di masa itu juga, para sahabat yang diberi karunia rizqi yang lebih, maka mereka mengundang para Muaddib untuk mengajari anak-anak mereka. Muaddib ini kalau di kita mungkin namanya guru privat.

Nah.. Mereka juga digaji oleh pengundang ini. Dan gajinya bisa lebih besar dari guru kuttab.

Ketika mereka lulus kuttab, anak-anak diarahkan untuk naik level ke jenjang halaqah.

Mereka diarahkan memilih halaqah dengan berbagai disiplin ilmu syari’at. Meski dulu ilmu-ilmu tersebut belum diistilahkan seperti masa setelahnya, namun mereka memang sudah dikhususkan dengan halaqah-halaqah tersebut. Halaqah itu tentunya diampu oleh para ‘Alim dari kalangan Sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Disinilah mereka mulazamah.

Ingat yah, halaqah-halaqah tersebut diampu para ‘Alim. Bukan Kakak kelas, orang jahil, yang baru tobat, atau sejenisnya yang bacaan Quran saja masih muruttul, bahasa arabnya blank, hafalan Qurannya Juz ‘Amma gak beres-beres, hafalan haditsnya 10 gerintil saja, atau sejenisnya. Yang pada akhirnya malah menyesatkan ummat.

Halaqah dilakukan di mesjid-mesjid secara terbuka. Karena dilarang sembunyi-sembunyi. Sebab bagi para salaf dulu, halaqah sembunyi-sembunyi adalah biang kesesatan.

Konten yang dibahas di halaqah pun sangat ilmiah. Tidak asbun. Dengan marhalah keilmuan yang jelas. Mutqin dan tidak goncang. Tak ada bahasan politik jika belum beres bab-bab sebelumnya.

baca juga :  Hanya Berbeda Memilih Jalan Berbuat Dosa, Benarkah?

Jika sudah dianggap lulus dari halaqah maka mereka pun naik level lagi ke jenjang lebih tinggi lagi..

Begitu seterusnya hingga di masa tabi’in.

Di masa atba’ tabi’in mulai terjadi tathwir (pengembangan) lagi. Tradisi kuttab dan halaqah tetap dipertahankan bahkan dikembangkan lagi. Kemudian ditambah perangkat lain dengan bermunculannya kitab-kitab ilmu yang ditulis, maktabah-maktabah ilmiyah, toko-toko kitab, percetakan-percetakan, dan lain-lain. Tentunya dengan nama dan istilah-istilah yang berlaku di masa itu. Ada hawanit al warraqiin, ada tempat syuro para ‘alim, ada tempat diskusi dan debat para ulama, dan sebagainya

Ruh ilmu begitu terasa di masa salaf.

Majelis-majelis semisal kajian atau tabligh akbar pun sebenarnya sudah ada di masa itu.

Coba kita bayangkan, sekali ngisi kajian, Imam Ahmad waktu itu dihadiri 80.000 orang. Tiap shafnya ada yang meneriakkan ilmu agar terdengar perkataan-perkataan Imam Ahmad sampai ke belakang.

Begitu pula para Imam lainnya.

Itu sekilas yang kami dapat dari hasil penelusuran pada kitab-kitab sejarah semisal karya ibnu asaakir, tarikh khulafa, bidayah wan nihayah, hilyatul auliya, dan lain-lain.

Semoga manfaat dan memotivasi kita untuk terus belajar.

Wallahu waliyyut taufiiq

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 58 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *