Orang Tua Bagi Ruh

  • oleh

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullâh di dalam al-Musnad meriwayatkan dari sahabat ‘Ubâdah bin ash-Shâmit radhiyallâhu ‘anhu, bahwasanya Rasûl shallallâhu ‘alayhi wasallam bersabda,

ليس من أمتي من لم يجل كبيرنا، ويرحم صغيرنا، ويعرف لعالمنا حقه.

“Bukanlah dari ummatku sesiapa yang tidak hormat pada para tetua kami, tidak sayang pada para junior kami, dan tidak mengetahui hak orang berilmu dari kami.” [Riwayat Ahmad]

Para ‘Alim, para guru, adalah para orang tua. Demikian jelas para salaf. Jika orang tua kita yang asli adalah orang tua bagi jasad, sementara para guru adalah para orang tua bagi ruh.

… اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri,…”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 6)

Dalam qiraat sahabat Ubayy bin Ka’b radhiyallâhu ‘anhu ada tambahan,

… وَهُوَ أَبٌ لَهُمْ …

“…dan dia adalah Bapak bagi mereka..”

Makna Ubuwwah (ke-bapak-an) disini bukan nasab berdasarkan ijma’, melainkan Ubuwwah

-sponsor-
Dîniyyah Rûhiyyah (Kebapakan dalam urusan agama yang bersifat ruhiyah). Karena beliau adalah guru bagi para sahabat dan kita semua kaum muslimin. Begitu pula orang-orang yang mengajari kita semua di atas Al-Haqq, mereka adalah guru-guru kita, berarti para orang tua kita dalam urusan agama, bapak bagi ruh kita.

Itulah mengapa Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhuma rela menuntun kendaraan Zaid bin Tsabit radhiyallâhu ‘anhu, sementara beliau ini keponakan Rasulullâh shallallâhu ‘alayhi wasallam. Ibnu ‘Abbas hanya menjawab,

إنا هكذا نصنع بالعلماء

“Beginilah kami berbuat terhadap para ulama.”

Dalam riwayat lain dikatakan,

هكذا أمرنا نصنع بعلمائنا

“Beginilah kami diperintah terhadap para ulama kami.”

Ya, mereka para ‘alim punya hak untuk dimuliakan. Ibnu Hazm menukil adanya IJMA’ untuk hormat pada ‘Ulama dan memuliakan mereka. Jika memang benar adanya Ijma’, maka ia adalah hujjah.

Hendaknya para penuntut ilmu tawadhu’ di depan mereka, menghadapkan badan ketika berbicara dengan mereka, tidak menoleh-noleh ke tempat lain ketika berbicara dengan mereka. Jika berbincang dengan mereka, maka menghormati tanpa ghuluw. Berlemah lembut dengan mereka. Tidak mengganggu mereka baik melalui perkataan dan perbuatan. Dan masih banyak yang lainnya. Demikian cuplikan dari Syaikh Shâlih al-‘Ushaimiy hafizhahullâh. [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 94]

Jika antum bertanya guru seperti apa yang dimaksud. Maka tentunya guru yang mengajarkan Al-Haq. Mereka paling berhak dimuliakan. Mereka adalah orang tua bagi ruh kita.

Semoga bermanfaat.

Abu Hâzim Mochamad Teguh Azhar

[Khâdim al-Qurân wa as-Sunnah di Ma’had Daar El ‘Ilmi, Beusi]

Editor : Tsaqib Ilham Nur

(Visited 29 times, 1 visits today)
baca juga :  Cita-Cita Dan Tekad Yang Kuat Dalam Menuntut Ilmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *