Ngobrol Fiqih Jihad Yuk!

  • by

Belakangan viral tentang adzan yang diubah kalimatnya menjadi “Hayya ‘alal Jihâd”. Cukup nyaring diucapkan meski terlihat ragu-ragu. Mungkin ia sendiri ragu hal itu boleh dilakukan atau tidak.

Itulah pentingnya berilmu sebelum beramal. Dan Islam ini agama ilmiah, tak hanya mengandalkan semangat saja. Jika sekedar semangat saja, tentu tatanannya akan rusak dan dirusak oleh pelakunya.

Sebagian orang terbakar semangat. Sebagian lagi mempertanyakan boleh atau tidak?

Sebenarnya yang terbakar semangat ini faham tidak sih fiqih Jihad? Jangan sampai seruan jihad dilantangkan, ternyata tak faham ilmunya. Atau jangan-jangan fiqih thaharah saja belum rampung? Musykilah banget kalau begini.

Dalam salah satu fiqih madzhab, seperti madzhab Hanbaliy, Bab Jihad ini bagian dari fiqih ibadah. Biasanya ia ditempatkan setelah bab haji.

Jihad itu masyru’ disyari’atkan berdasarkan Ijma’. Dalilnya firman

-sponsor-
Allah Jalla Dzikruhu,

كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَا لُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)

Juga berdasarkan fi’il Rasulillâh shallallâhu ‘alayhi wasallam serta perintah beliau. Bahkan dalam riwayat Muslim disebutkan, jika seseorang meninggal dalam keadaan tidak memiliki niat berperang di jalan Allah, maka ia bisa mati dalam keadaan munafiq. ‘iyâdzan billâh.

من مات ولم يغز ولم يحدث نفسه بالغزو مات على شعبة من النفاق

“Sesiapa yang mati belum pernah berperang, belum pernah berniat berperang, maka ia mati di atas kemunafiqan.” (Riwayat Muslim,3/1517)

Yang kita bahas ini jihad dalam bentuk perang ya…

Jihad, mashdar dari جاهد يجاهد yang artinya bersungguh-sungguh. Secara bahasa ia didefinisikan dengan بذل الطاقة والوسع, yakni mencurahkan segala kemampuan dan upaya. Dan secara istilah syar’iy adalah قتال الكفار خاصة, yaitu memerangi orang-orang kafir secara khusus.

baca juga :  Bahayanya Salah Faham Terhadap Qaul Ulama

Ianya Fardhu Kifayah. Jika ada yang menegakkan sebagiannya, maka gugur bagi yang lainnya. Tak wajib kecuali atas laki-laki, muslim, merdeka, mukallaf, punya harta cukup buat dibawa dan buat keluarga yang ditinggalkan.

Minimalnya ia dilakukan setahun sekali, kecuali ada hajat yang menghalangi sehingga boleh diakhirkan atau ditinggalkan di tahun tersebut.

Keharamannya di bulan-bulan haram mansukh (dihapus hukumnya) berdasarkan nash.

Ia jadi fardhu ‘ain manakala seseorang sudah berhadapan dengan musuh. Atau ketika negeri dikepung musuh. Atau ketika Penguasa memerintahkan secara umum untuk berjihad.

Perang di laut lebih utama dari perang di darat. Bahkan kesyahidan peperangan di laut bisa menutup dosa-dosa sekaligus utang. Sebagaimana dikatakan Al-Ba’liy rahimahullâh,

وغزو البحر أفضل من غزو البر

“Perang di laut lebih afdhal dari perang di darat.” (Kasyful Mukhaddarât hal. 344)

Begitu pula dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullâh dalam ‘Umdatul Fiqhi dengan redaksi yang sama.

Al-Ba’liy melanjutkan,

وتكفر شهادته جميع الذنوب والدين، لأن البحر أعظم خطرا ومشقة بخلاف شهادة البر فلا تكفر الدين.

“Dan kesyahidan di medan laut menutupi seluruh dosa dan utang. Karena di laut lebih besar bahayanya dan kesulitannya. Berbeda dengan kesyahidan di darat, maka ianya tidak bisa menutupi utang.” (Kasyful Mukhaddarât, hal. 344)

Jihad itu harus dengan komando penguasa yang sah. Imam atau pimpinan negara. Bukan pimpinan organisasi, ormas, partai, harokah, dan sebagainya. Baik si pemimpin negara itu bagus, ataupun fajir (buruk/pendosa), maka komandonya didengarkan. Ini aqidah ahlussunnah dan dijelaskan juga di kitab-kitab fiqih.

Berkata Imam al-Barbahariy,

والحج والغزو مع الإمام ماض

“Haji dan jihad (perang) itu bersama Imam (pimpinan negara) yang telah berlalu penjelasannya.” (Syarhus Sunnah, hal. 57)

Begitu pula yang dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Ushulus Sunnah, Imam ath-Thahawiy dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyah, dan lain-lain.

Ibnu Qudamah dalam ‘Umdatul Fiqhi dan Al-Ba’liy dalam Kasyful Mukhaddarât mengatakan dengan nada yang hampir sama. Hanya saja Al-Ba’liy menambahkan,

baca juga :  Hukum Menggunakan Jam Tangan Berlambang Salib

ويغزو مع بر وفاجر يحفظان المسلمين لا مع مخذل ونحوه.

“Seseorang berperang itu bersama penguasa yang baik atau yang buruk, yang mana keduanya ini senantiasa menjaga kaum muslimin. Tidak bersama penguasa yang menelantarkan, dan sejenisnya.” (Kasyful Mukhaddarât, idem)

Ibnu Qudamah menunjukkan larangan jihad kecuali dengan izin pimpinan negara,

ولا يجوز الجهاد إلا بإذن الأمير

“Dan tidak boleh jihad dilaksanakan kecuali dengan izin pimpinan negara.” (‘Umdatul Fiqhi, hal. 141)

Bagi yang masih memiliki salah satu dari orang tua, baik itu ibunya ataupun ayahnya, maka harus mendapatkan izin darinya. Izin Kakek dan Nenek tidak terhitung. Berdasarkan hadits Ibnu ”Amr bin al-‘Âsh radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata: ‘Pernah ada seseorang yang datang pada Nabi shallallâhu ‘alayhi wasallam, kemudian ia berkata:

يا رسول الله أجاهد؟

“Wahai Rasulullâh, apakah boleh aku berjihad?”

Beliau bersabda,

ألك أبوان؟

“Apakah kedua ortumu masih ada?”

Maka ia menjawab, “Iya.”

Kemudian Rasul bersabda,

ففيهما فجاهد

“Maka berjihadlah menjaga keduanya.” (Riwayat al-Bukhâriy 6/140, Muslim 4/1975)

Kecuali jika kedua orang tuanya ini sentimentil, kafir, atau gila, atau dia dalam keadaan wajib ‘ain berjihad, maka tidak perlu dapat izin dari keduanya. Sebagaimana safar wajib semisal HAJI dan MENUNTUT ILMU tidaklah harus dapat izin dari orang tua.

Disunnahkan ribâth di jalan Allah, yaitu menjaga perbatasan. Menahan musuh masuk ke negeri. Minimalnya sesaat, sempurnanya 40 hari. Kalau mau nambah maka bagus. Paling afdhalnya menjaga perbatasan kota Mekkah.

Tidak boleh lari dari medan jihad jika lawan masih 2 kali lipat jumlah. Tetap tsabat di jalan jihad. Kecuali jika bagian dari siasat untuk counter attack. Atau jumlahnya lebih dari 2 kali lipatnya, maka boleh lari asal memang diperkirakan tidak akan sanggup mengahadapinya dan madharatnya lebih besar,

فإن زادوا على مثليهم جاز الفرار وهو أولى مع ظن تلف

“Maka jika lebih dari 2 kali lipat jumlah mereka (musuh) maka boleh lari dari medan jihad, bahkan lebih utama jika menyangka bahwa jika dihadapi akan menimbulkan kerusakan lebih parah.” (Kasyful Mukhaddarât, hal. 345)

Siapa yang diperangi?

baca juga :  Hukum Berbicara Ketika Wudhu’

Ibnu ‘Abdil Hadi mengatakan,

والمقاتَل… كل حربي ليس بذمي ولا مستأمن إذا كان بالغا عاقلا وذكرا.

“Dan yang diperangi adalah setiap kafir harbiy, bukan kafir dzimmiy dan bukan pula kafir musta‘man, jika ia baligh, berakal, dan lelaki.” (Furû’ul Fiqhiy, hal.38)

Jadi bukan memerangi sesama muslim ya…

Ibnu Qudamah menjelaskan,

ولا يقتل منهم صبي ولا مجنون ولا امرأة ولا راهب ولا شيخ فان ولا زمن ولا من لا رأي لهم، إلا أن يقاتلوا…

“Tidak boleh dibunuh dari mereka (orang kafir dalam peperangan) anak kecil, orang gila, wanita, rahib/pendeta, tua renta, orang sakit yang lama waktunya, orang buta, kecuali jika mereka malah memerangi.” (‘Umdatul Fiqhi, hal. 142)

Dan masih banyak lagi perincian lainnya. Jika dikaji, maka akan terang benderanglah mana jihad yang benar, dan mana jihad yang keliru.

Saya nasehatkan untuk kaum muslimin agar belajar dengan benar. Berilmu dengan benar dan baik. Jangan hanya mengandalkan semangat hingga salah kaprah terus menerus. Terus menerus memelihara kejahilan. Inilah kegelapan dan persoalan yang sebenarnya harus “dijihadi” dengan serius. Terlebih lagi di negeri kita yang cenderung aman, alhamdulillah.

Ya, kejahilan harus “diperangi”, sebab ia sumber kerusakan yang sebenarnya.

Bagaimana memeranginya? Dengan menuntut ilmu syar’iy. Kepada para ulama yang lurus aqidah dan manhajnya, kuat keilmuannya. Bukan pada kakak tingkat dan kelompok-kelompok sempalan yang jauh dari ilmu dan bashirah.

Selamatkan diri anda, terlebih lagi agama anda dengan selektif memilih guru. Ibnu Sirin rahimahullâh mengatakan,

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Sesungguhnya Ilmu ini agama. Maka perhatikanlah oleh kalian (selektiflah) dari siapa kalian mengambil agama kalian!”

Semoga mencerahkan…

Beusi, Hujan belum berhenti sedari pagi 1442 H

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 113 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *