Nasihat Pernikahan Bagian 2

  • by

Hal lain yang sering menyurutkan dua insan untuk segera menikah adalah akhawat-nya yang kurang bersipayah. Tidak ada salahnya jika mengajukan diri untuk minta dinikahkan, tentunya syar’iy dan tetap menjaga muru’ah. Para sahabat dulu tidak menunggu selesai kuliah dan semisalnya. Jika mereka telah mampu dalam ba’ah maka mereka segera menikah atau dinikahkan. Ba’ah itu muncul biasanya pasca baligh, yakni kemampuan jima’.

Jika tauhid seseorang bagus, tawakkalnya bagus. Ia tidak takut menikah atau menikahkan atau dinikahkan.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan

-sponsor-
Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. Qs. An-Nuur : 32

Abi, ummi, akhiy, ukhtiy masihkah kalian ragu dengan jaminan Allah itu??

Hikmah kalimat Baarakallahulaka wa baaraka ‘alayka adalah semoga tetap di berkahi Allah pada perkara-perkara yang kita sukai maupun perkara-perkara yang tidak kita sukai. Jangan hanya terbayang perkara yang menyenangkan tentang pernikahan.

Kesiapan yang di maksud adalah siapnya jiwa dan mental menghadapi persoalan yang mendewasakan itu. Maka, jika ada yang menikah, jangan ucapkan “selamat yah.. selamat menempuh hidup baru…” dan sejenisnya karena itu di makruhkan Ulama. Baiknya doakan ke barakahan seperti tadi. Jika ia faham, jiwanya akan bersiap diri.

Barakah itu ajaib. Hanya terjadi pada orang beriman. Barakah baginya dalam sabar dan subur. Ia menapaki jalan Sulaiman sekaligus juga menyusuri pematang Ayyub, ‘alayhimassalam. Barakah itu mengemban senyum meski airmata menitik atau deras mengalir. Barakah itu memetik rindu meski di tengah kekesalan. Barakah itu berupaya berengkuhan dan belaian lembut saat dada sesak oleh masalah.

Cara mengecek ikhwan yang serius dan siap itu adalah ia datang “membawa dirinya sendiri” meski ia datang bersama keluarganya. Nikah itu berbicara tentang ruhiyah. Seseorang yang memiliki kekuatan ruhiyah yang tinggi, ia akan memahami hakikat pernikahan dengan baik. Nikah itu berbicara tentang ilmu. Terutama ilmu agama. Jika ia tidak faham untuk sekedar tata cara shalat yang benar, maka bagaimana ia bisa membina rumah tangga?

Nikah itu berbicara tentang fisik juga kebersihan diri. Perhatikan makanan, harus halal, thayyib, teratur. Hapus kebiasaan jajan sembarangan. Jaga pakaian tetap syar’iy, rapi, longgar juga jaga pakaian paling pribadi sekalipun. Jadilah Hamba Allah yang berseka, untuk jaga kebersihan mulut, jangan lupa gosok gigi pakai mouthwash dan semisalnya.

Nikah itu berbicara persiapan maaliyah. Ini tuntutan untuk mandiri, hindari kebiasaan suka meminta-minta pada orang tua. Cobalah usaha sendiri. Ada kebanggaan jika mahar nanti adalah dari keringat antum sendiri
Nikah juga berbicara soal sosial. Kalian tidak sedang menyatukan cinta kalian berdua. Namun juga menyatukan dua keluarga besar, dua adat yang berbeda, dua kebiasaan yang berbeda. Maka, stok kesabaran, stok ke-supple-an dan semisalnya perlu banyak.

Gejala awal barakahnya sebuah pernikahan itu adalah ruh yang jujur, proses yang terjaga oleh syari’at dan tidak mempersulit tapi memudahkan diri…

Akhukum,
Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 78 times, 1 visits today)
baca juga :  Adab Lagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *