Nasihat Pernikahan Bagian 1

  • by

JoFiSa alias Jomblo Fii Sabilillah itu tidak ada dalam islam, yang ada itu adalah ketakutan dan ketidaksiapan. Menyegerakan itu berbeda dengan tergesa-gesa. Menyegerakan itu muncul karena ilmu, sementara tergesa-gesa muncul karena maksiat. Menikah itu bukan masalah usia, tapi masalah kedewasaan.

Kebiasaan pendahulu kita yang shalih itu kalau lihat anak lelakinya mulai sering tidur tengkurap, mereka bersiap untuk menikahkan anaknya tidak pernah berfikir nanti si Anak kerja apa?

Pernikahan barakah itu di mulai dari niat yang benar yaitu untuk menjalankan sunnah Nabi yang Mulia dan untuk memiliki keturunan yang akan memberi bobot pada bumi dengan kalimat Laa ilaaha illaAllah

Menikah itu tidak selalu soal cinta, sebab terkadang ada yang berdasar cinta namun usianya masih seumur jagung. Ada yang menikah dengan cinta kosong. Ya, mereka menikah awalnya

-sponsor-
tanpa cinta, tapi kesamaan komitmen di jalan Allah. Cintapun tumbuh ditengah jalan. Mereka banyak yang langgeng.

Tapi cinta perlu diupayakan sedari awal. Itulah hikmah di sunnahkannya Nadzhar (melihat calon pasangan). Nadzhar itu upaya menghadirkan getaran dari keduanya, jika klik itu awal dari sebuah keberkahan. Menikah memang tidak selalu urusan fisik. Namun fisik juga perlu di perhatikan dan tetap disebut dalam deretan yang bisa jadi bahan pertimbangan agar kelak suami terjaga pandangannya karena merasa cukup dengan yang ada di rumah. Maka menjaga tetap fresh sesuai syariat adalah penting, itu manusiawi, itu sesuai fitrah, yang di larang itu tabarruj.

Jika ada ikhwan shalih datang dan akhwat klik, maka ahsan di segerakan. Sebagaimana berbuka itu harus disegerakan. Ingat, mereka sudah shaum yang panjang! Dan ingat! Penyegeraan itu dengan ilmu, berbekal ilmu, jangan nodai pernikahan itu dengan kejahilan tentangnya.

baca juga :  Untung Dan Rugi

Akad nikah itu Mitsaaqan Ghalidzha. Dalam Quran mitsaaqan ghalidzha itu janji yang sangat kuat. Ya, sekuat janji para Nabi. Ia di ucapkan ringan, namun bagi mereka yang faham seakan gunung yang hendak di timpakan ke pundaknya.

Yang paling sering terjadi dan sulit di hindari oleh orang yang menikah di Indonesia adalah kemubadziran berbentuk surat undangan. Mengumumkan pernikahan sangatlah penting, namun bukan dengan kemubadziran kertas di cetak ratusan bahkan ribuan, dihiasi kata mutiara bahkan nama dan gelar akademik. Setelah itu berakhir di tempat sampah, ganjal lemari, atau bungkus gorengan. Ingat, kita mau menikah, ingin menikah yang berbarakah bukan mengawali ketidakberkahan dengan kekeliruan.

Yang paling sering menyurutkan dua insan untuk segera menikah adalah urusan pekerjaan. Banyak ikhwan ciut nyali karena belum bekerja. Padahal yang diwajibkan itu menafkahi, bukan punya pekerjaan. Yang penting tetap bekerja meski tidak berdasi. Yang penting tetap menafkahi meski jualan kesana kemari. Istri yang shalihah akan tetap menerima dengan senang hati meski nafkahnya milyaran setiap hari… Oopssss

Bersambung…

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 275 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *