Musik Jadi Halal Karena Ada Rowi Hadits Yang Main Musik ? (Bagian 2)

  • oleh

بسم الله الرحمن الحيم

…الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد

-sponsor-

Kalau terkait Musik, karena sedikitnya ulama yang membolehkan dan merukhshah-nya, dan itu bertentangan dengan mayoritas ulama yang lebih kuat pendalilannya, maka dikatakan bahwa khilaf yang terjadi tidaklah mu’tabar, melainkan syādz (nyeleneh dan menyelisihi mayoritas yang lebih kuat) dan dha’īf (lemah untuk dipertanggungjawabkan)

والخلاف في هذه المسألة شاذ ضعيف.

Dalam masalah pengharaman, para Aimmah sepakat akan hal itu. Banyak dalil yang mereka kemukakan. Dan itu sudah bisa didapatkan dari berbagai literatur. Namun dalam masalah apakah ia masuk kategori dosa besar ataukah kecil, maka disini ada khilaf.

Namun para ulama memiliki kaidah,

الإصرار فيه ليس صغيرا

kalau menganggap enteng dalam urusan dosa, maka bukan lagi dosa kecil (tapi jadi besar)”

Dan biasanya karena menganggap kecil itulah, manusia menggampang-gampangkan. Terutama dalam masalah musik. Jadi tetap saja terjebak dalam dosa besar pada akhirnya..

Adapun pada Yusuf bin Ya’qub al-Majisyun secara khusus dan penduduk madinah secara umum maka ada beberapa ihtimālāt (kemungkinan-kemungkinan):

Sudut pertama sudah dijelaskan di atas. Bahwa ada hajat besar terhadap 3 negeri tersebut.

Sudut kedua. Mi’zafah yang dipakai oleh beliau tidaklah pasti apa yang digunakannya. Apakah berupa seruling, gitar, ataukah rebana. Karena bisa jadi ia memakai rebana, yang oleh sebagian ulama diberi keringanan. Meski sebagian lagi tetap mengharamkannya.

baca juga :  Hukum Menerima Pemberian dari Pekerja di Sektor Haram

Sudut ketiga, para ulama masih mengambil periwayatan darinya secara khusus dan umumnya dari selainnya bukan berarti membenarkan ketergelincirannya.

Para ulama tetap menganggap para ahli madinah adalah tergelincir dalam masalah ini.

وأما احتجاجهم بأن إباحة الملاهي كان مذهب علماء المدينة، فقد ذكر الأئمة بأن ذلك كان من زلاتهم، ومن أفعال بعض عوامهم، لا يصح نسبته إلى مذاهب علماء السلف، إلا على وجه الإنكار، لا الإقرار

http://iswy.co/e14ika

” Adapun argumentasi mereka dalam membolehkan malāhiy (nyanyian dan alat musik), itu adalah madzhabnya ulama madinah. Para ulama menyebutkan bahwa itu adalah bagian dari ketergelinciran mereka, dan merupakan bagian dari perbuatan awam-awam mereka. Tidak sah penisbatannya pada madzahib ulama salaf kecuali dalam hal pengingkaran, bukan penetapan.”

Begitu pula para ulama hanya mengambil hadits mereka saja, tanpa mengambil ketergelinciran mereka.

قال الإمام الأوزاعي: “نتجنب من قول أهل العراق خمساً، ومن قول أهل الحجاز خمسا..”، فذكر من قول أهل العراق: شرب المسكر، ومن قول أهل الحجاز: استماع الملاهي، والمتعة بالنساء. [انظر سير أعلام النبلاء (7 / 131)]

Telah berkata Imam Al-Auzā’iy : “Kita jauhi dari ahli iraq 5 perkara, dan dari ahli Hijaz (mekkah, madinah, dan sekitarnya) lima perkara… Dan ia menyebutkan dari ahli iraq adalah dalam hal meminum nabiidz yang memabukkan. Sementara dari ahli Hijaz adalah mendengarkan Malaahiy (musik dan nyanyian) serta nikah mut’ah.”

قال أحمد بن حنبل: “لو أن رجلاً عمل بقول أهل الكوفة في النبيذ، وأهل المدينة في السماع، وأهل مكة في المتعة، كان فاسقا”.

baca juga :  Kisah: Menasehati Pemimpin Dengan Lemah Lembut

Telah berkata Ahmad bin Hanbal : “Jika seseorang beramal dengan penduduk kufah dalam masalah nabiidz yang memabukkan, dan penduduk madinah dalam masalah dengar musik dan nyanyian, dan mekkah dalam perkara nikah mut’ah, maka ia seorang yang fasiq!”

قال سليمان :”إن أخذت برخصة كل عالم اجتمع فيك الشر كله”

Telah berkata Sulaiman: “Jika kau mengambil rukhshah setiap ‘alim maka terkumpul padamu keburukan semuanya”

Dan pernyataan para ulama tentang ini banyak sekali. Ini menunjukkan bahwa kita tetap tidak boleh mengambil keburukan meski ada ulama yang melakukannya. Yang diambil sebatas riwayatnya saja. Itu manhajnya para imam di masa tersebut.

Dan faedahnya disini juga, bahwa mereka tetap menganggap ketergelinciran mereka sebagai kesalahan dan dosa. Tidak lantas menganggapnya menjadi khilaf yang mu’tabar.

قال القرطبي في تفسيره [14/ 55]: “ذكر إسحق بن عيسى الطباع قال: سألت مالك بن أنس عما يرخص فيه أهل المدينة من الغناء فقال: “إنما يفعله عندنا الفساق

Telah berkata Al Qurthubiy dalam tafsirnya:
“Ishaq bin ‘Isa Ath-Thiba’ ia berkata: aku bertanya pada Malik bin Anas terkait dirukhshahnya ahli madinah dalam perkara nyanyian. Maka beliau berkata: yang melakukannya dalam pandangan kami adalah orang-orang fasiq!”
Padahal Malik bin Anas sendiri orang Madinah. Beliau merukhshah, tapi tidak menghalalkan perbuatannya.

Dan perkataan model begini banyak sekali.

Faedah lainnya, maka dalam masalah musik dan nyanyian tidaklah terjadi khilaf yang mu’tabar akan keharamannya. Yang ada hanyalah perbedaan memandang apakah ia kabair atau shaghair. Dan hanya sedikit dari mereka yang tergelincir dalam masalah ini.

baca juga :  Inshaf

Sebagaimana Ibnu Abdil Barr berkata

قال ابن عبد البر عقب ذلك: “هذا إجماع لا أعلم فيه خلافا”. انظر الموافقات للشاطبي [5/134].

“..Ini Ijma’, dan aku tidak tahu ada khilaf di dalamnya.” (lihat Al Muwafaqat lisy Syathibiy)

Wallahu A’lam wa Waliyyut Taufiiq..

Baarakallahu fiikum.

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 131 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *