Musik Jadi Halal Karena Ada Rowi Hadits Yang Main Musik ? (Bagian 1)

Penanya :

Kok bisa seorang rowi yang suka bermusik diterima haditsnya, bahkan rowi-nya para ahli hadits terkenal ?

Jawaban :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد

Dimaklumi dalam ilmu mushthalah hadits bahwa sebuah hadits dikatakan shahih adalah manakala memenuhi beberapa syarat, sebagaimana dalam mandzhumah baiquniyyah:

أولها الصحيح وهو ما اتصل # إسناده ولم يشذ أو يعل
يرويه عدل ضابط عن مثله # معتمد في ضبطه ونقله

Dari mandzhumah tersebut diambilah faedah bahwa hadits shahih itu setelah memenuhi syarat:

1. Ittishōlu sanadihi (اتصال سنده), yaitu sanadnya bersambung.

2. ‘Adālatu kulli rōwin min ruwātihi (عدالة كل راو من رواته), yaitu setiap rowi dari perowi-perowi yang meriwayatkan haruslah memiliki ‘adālah.

3. Tamāmu dhabthi kulli rōwin min ruwātihi (تمام ضبط

-sponsor-
كل راو من رواته).
Yaitu sempurnanya ke-dhabith-an setiap rowi dari perowi-perowinya).

Dhabith itu kuatnya hafalan si Rowi.

Dhabith itu di sisi muhadditsin ada dhabith kitab dan dhabith shodr.

Agak panjang untuk menjelaskan ini..

4. ‘Adamu wuqū’i asy-Syudzūdz fi sanadihi aw matnihi (عدم وقوع الشذوذ في سنده أو متنه), yakni tidak adanya syudzūd (kenyelenehan/penyelisihan-penyelisihan terhadap mayoritas yang lebih kuat) dalam sanadnya maupun matannya.

5. ‘Adamu wuqū’i al-‘Illati fi sanadihi aw matnihi (عدم وقوع العلة في سنده أو متنه), yaitu tiadanya illat dalam sanadnya atau matannya.

‘Illah itu ada 2 macam; qadihah dan ghairu qadihah. (pembahasan ini panjang)

Kita kembali ke titik fokus pertanyaan..

Agar difahami para pembaca, bahwa yang jadi pertanyaan penanya adalah :

baca juga :  Inshaf

Kok bisa seorang rowi yang suka bermusik diterima haditsnya, bahkan rowi-nya para ahli hadits terkenal?

Dengan pertanyaan demikian, munculah pertanyaan baru sebagai perkembangan dari pertanyaan pertama, yaitu..

Jika riwayatnya diterima, maka bagaimana sebenarnya hukum musik?

Karena difahami selama ini bahwa musik haram. Maka munculah pertanyaan susulan,

Sebenarnya apakah ada khilaf yang mu’tabar di kalangan salaf terkait musik sampai-sampai ada muhaddits yang suka dengan musik?

Semoga kerangkanya difahami oleh pembaca.

Pertanyaan pertama
Kok bisa seorang rowi yang suka bermusik diterima haditsnya, bahkan rowi-nya para ahli hadits terkenal?

Hal ini berkaitan dengan ‘Adālah.

Adālah itu disifati dengan 5 sifat, yaitu :
1. Muslim
2. Berakal
3. Baligh
4. Selamat dari sebab-sebab kefasiqan
5. Selamat dari hal-hal yang kurang pantas dan mengurangi kehormatan diri.

3 sifat pertama dimaklumi dan difahami oleh kita. Sementara sifat ke 4 dan ke 5 butuh penjelasan.

السلامة من الفسق : معناها، (أن لا يكون الراوي ممن يتهاون في ارتكاب الكبائر، والإصرار على الصغائر)

“Yang namanya selamat dari kefasiqan maknanya: ( Hendaknya si Rowi bukanlah dari orang yang memandang remeh dosa-dosa besar dan menganggap biasa dan hobi dengan dosa-dosa kecil.)

Maka jika Si Rowi adalah pelaku dosa besar atau senang dengan dosa kecil dan melakukannya terus menerus, maka bukanlah orang yang adil. Maka yang seperti ini riwayatnya tidak diterima. Tentunya tak cocok jadi rowi hadits-hadits shahih.

Pada asalnya adalah demikian…

Disinilah letak alasan munculnya pertanyaan.

Adapun yg dinamakan selamat dari khawarimil murū-ah adalah selamat dari

baca juga :  Musik Jadi Halal Karena Ada Rowi Hadits Yang Main Musik ? (Bagian 2)

الخسائس والنقائس التي تنافي آدب وعادات الناس في زمانهم وبلادهم

” …perbuatan-perbuatan rendah dan kekurangan-kekurangan yang bisa meniadakan adab yang baik dan adat yang berlaku pada manusia di zamannya dan negerinya.”

Maka jika seseorang itu bagus adabnya, bagus akhlaqnya, sesuai dengan adat kebiasaan baik yang berlaku di zaman dan negerinya, sekaligus terjaga dari dosa besar dan kecil, maka ia mengumpulkan syarat menjadi orang ‘adil. Yang demikian barulah riwayatnya diterima dan cocok jadi rowi dari hadits shahih.

Adapun Yusuf bin Ya’qub Al Majisyun adalah al-Madaniy, seorang dari ahli madinah alias penduduk madinah. Dan penduduk madinah itu, dimaklumi di masa para Aimmah adalah diantara yang memberi rukhshah terhadap musik dan nyanyian.

Adz-Dzahabiy dalam Siyar A’lam an-Nubalaa berkata:

قلت : أهل المدينة يترخصون في الغناء ، هم معروفون بالتسمح فيه . وروي عن النبي -صلى الله عليه وسلم- : إن الأنصار يعجبهم اللهو

Aku berkata: “Ahlul madinah memberi rukhshah (keringanan) dalam masalah nyanyian. Mereka dikenal memberi toleransi dalam hal tersebut.

Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam: sesungguhnya kaum anshar permainan menarik hati mereka.”

Dan bukan hanya ahlul madinah yang demikian…

Dikatakan bahwa ahlul ‘iraaq (penduduk irak) memberi rukhshah terkait nabiidz. Begitu pula Ahlu Makkah, mereka memberi rukhshah terkait nikah Mut’ah.

Hal itu tersebar merata di 3 negeri tersebut. Sementara 3 negeri tersebut adalah pusat ilmu Islam saat itu. 3 kota tersebut yang melahirkan para fuqaha dan muhaddits. Hadits-hadits tersebar di kalangan mereka. Maka menurut penelitian kami, para muhaddits dari kalangan mutasyaddidiin pun tetap akan mengambil hadits dari mereka karena hajat yang terlalu besar. Hadits-hadits bisa hilang jika tidak segera diambil.

baca juga :  Kisah: Menasehati Pemimpin Dengan Lemah Lembut

Adapun Al-Minhal bin ‘Amr Al-Asadiy. Ia seorang al-Kūfiy alias orang kufah. Dan kufah bukanlah dari daerah yang di-rukhshah perkara nyanyian, tapi perkara nabiidz. Karena ia masuk bagian ‘Iraq. Sehingga dia dilemahkan gegara hal yang bukan rukhshahnya. Selain itu dia ada yang mempermasalahkan dalam beberapa riwayatnya. Diantaranya penuturan adz-Dzahabiy dalam as-Siyar

وثقه يحيى بن معين وغيره ، وقال الدارقطني : صدوق ، وقال ابن حزم : ليس بالقوي .

قلت حديثه في شأن القبر بطوله فيه نكارة وغرابة ، يرويه عن زاذان عن البراء .

Yahya bin Ma’in telah men-tsiqah-kannya dan selainnya. Berkata Ad-Dāraquthniy: shodūq. Berkata Ibnu Hazm: Tidak kuat.”
” …aku katakan: Haditsnya dalam perkara qubur yang panjang itu ada kemungkaran dan keanehan. Dia meriwayatkannya dari Zādzān dari al-Barrā.”

Ini sudut pertama.

Pertanyaan kedua
Jika rowinya diterima, maka bagaimana sebenarnya hukum musik?

Hukum musik sebenarnya sudah dimaklumi akan keharamannya. Tiada khilaf yang mu’tabar dalam masalah ini. Madzhab yang empat juga sepakat akan keharamannya.

Yang menjadi khilaf itu adalah apakah ia masuk al-Kabāir (dosa-dosa besar) ataukah ash-Shaghāir (dosa-dosa kecil)?

Sebenarnya yang dibolehkan sebagian orang itu al-ghinā atau al-mūsīqiy?

Ini juga akan dibahas di bagian 2, InSyaaAllah.

Akhukum,

Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 181 times, 1 visits today)

1 tanggapan pada “Musik Jadi Halal Karena Ada Rowi Hadits Yang Main Musik ? (Bagian 1)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *