Menjawab Syubhat Terkait Kursi-Nya Allah

  • by

Sebagian ikhwah yang sudah ngaji kadang kebingungan ketika disodori syubhat sebagian ahlul hawa terkait klaim adanya ta’wil (yang jauh dari makna sebenarnya) dari sebagian salaf terhadap ayat-ayat sifat. Sehingga mereka menjadi futur karena tidak mencoba bertanya pada yang lebih faham terkait hal tersebut. Dan memilih tergesa-gesa untuk menerima pernyataan-pernyataan semisal itu. Bahkan tak sedikit dari mereka yang malah berbalik menyerang Ahlussunnah karena dirasa telah salah jalan. ‘iyaadzan billah.

Diantara syubhat yang dihembuskan sebagian ahlul hawa adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ath-thabariy dari jalan Ja’far bin Abil Mughirah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata:

وسع كرسيه. (البقرة: ٢٥٥). كرسيه: علمه

“Luas Kursi-Nya…” (Al-Baqarah: 255). Kursi-Nya adalah Ilmu-Nya.” (Riwayat Ibnu Jarir, Ibnu Mandah, Al-Baihaqiy)

Dengan dalil ini mereka menunjukkan

-sponsor-
bahwasanya sebagian salaf melakukan ta’wil (dalam konotasi negatif/tahrif). Dan enggan menerima bahwasanya Kursi itu tempat Qadamain (kedua telapak kaki) Ar-Rahman. Disana dikatakan bahwa maksud Kursi-Nya itu adalah Ilmu-Nya.

Mengapa mereka menolak sifat qadamain bagi Allah? Karena bagi mereka itu tak masuk akal mereka. Itu konsekuensi ushul (landasan) mereka dalam beraqidah yaitu taqdiimul ‘aql ‘ala an-naql (mendahulukan akal atas dalil). Sehingga semua dalil yang menunjukkan sifat semisal tangan, kaki, wajah, dan sebagainya mereka tolak dan harus di-ta’wil seluruhnya semau mereka dengan dalih tanzih (pensucian) dari sifat makhluq menurut akal-akalan mereka.

baca juga :  HARGA MELAMBUNG TINGGI

Disodori dalil seperti ini bagaimana anda menjawabnya? Thayyib, kita lihat tentang keabsahan riwayat tersebut, apakah shahih ataukah tidak.

Ternyata Atsar ini tidak shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma karena beberapa sudut :

Pertama. Perputarannya pada Ja’far bin Abil Mughirah. Dimaklumi bahwasanya ia layyin (lembek). Ibnu Hajar rahimahullah memberi kesimpulan hukum tentangnya, beliau mengatakan,

صدوق يهم

“Jujur namun diragukan.” (Taqribut Tahdzib, hal. 21)

Maka yang semisal ini tidak diterima jika ia bersendiri dalam riwayatnya di sisi para ahli hadits, terutama dari kalangan muktsirin (banyak meriwayatkan hadits) seperti Sa’id bin Jubair sepanjang ia tidak memiliki kekhususan. Jika ia disandarkan pada muktsirin dalam keadaan menyelisihi riwayat dari muktsirin (seperti Sa’id bin Jubair tadi) maka tidak ragu lagi akan kekeliruan dan ke-syadz-annya. Seperti dalam riwayat ini.

Kedua. Riwayat Ja’far bin Abil Mughirah ini menyelisihi riwayat orang yang lebih tsiqah darinya melalui jalur Sa’id bin Jubair. Telah meriwayatkan Muslim al-Buthain dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata,

كرسيه موضع قدميه، والعرش لا يقدر قدره

“Kursi-nya adalah tempat kedua telapak kaki-Nya, dan ‘Arsy tidak bisa ukur kadarnya.” (Riwayat ‘Abdurrazzaq, Ad-Darimiy, Ibnu Abi Hatim, Abdullah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abi Syaibah, Abusy Syaikh, Ibnu Mandah, Ibnu Baththah, Ad-Daraquthniy, Al-Hakim, dll.)

Al-Hakim mengatakan haditsnya shahih di atas syarat Syaikhain (Al-Bukhariy dan Muslim).

baca juga :  Tanda Kiamat: Wanita Ikut Berdagang

Al-Albaniy mengatakan haditsnya shahih dalam kitab Mukhtashar al-‘Uluww.

Muslim al-Buthain merupakan salah satu dari orang yang paling tsiqah di jalur Sa’id bin Jubair, bahkan Al-Bukhariy dan Muslim juga mengeluarkan hadits-hadits dari jalurnya. Sehingga penyelisihan Ja’far bin Abil Mughirah dengan riwayat ini menunjukkan ke-Syadz-an riwayatnya, sebab ia menyelisihi yang paling tsiqah darinya.

Imam Ibnu Mandah berkata tentang Ja’far bin Abil Mughirah

ولم يتابع عليه جعفر، وليس هو بالقوي في سعيد بن جبير.

“Ja’far belum di-mutaba’ah. Dan ia tidak kuat di jalur Sa’id bin Jubair.”

Ketiga. Bahwasanya para Ahli Hadits telah menshahih-kan riwayat “kedua telapak kaki” dan melemahkan hadits “ilmu”. Imam Abu Zur’ah, Waki’ bin Al-Jarrah, Ad-Daraquthniy, dan lainnya menyatakan shahih-nya hadits qadamain (kedua telapak kaki). Bahkan para sahabat senior semisal Ibnu Mas’ud, Abu Dzarr, Abu Musa al-Asy’ariy, dan lain-lain. Menjelaskan sebagaimana yang dikatakan Ibnu ‘Abbas bahwa kursi adalah tempat qadamain. Abu Musa Al-Asy’ariy mengatakan,

الكرسي: موضع القدمين

Sementara hadits bahwa Kursi adalah Ilmu banyak dilemahkan oleh para ulama, bahkan Al-Anbari mengatakan Math’un fih (dicela). Sehingga semakin jelaslah bahwa ia tidak bisa dijadikan hujjah.

Sanad adalah senjata. Seorang penuntut ilmu jika meremehkan urusan ini, ia seperti sedang tak membawa senjata. Lihatlah dulu dari sisi ini, maka anda akan memiliki hujjah untuk menerima dan menolak sebuah pernyataan dalam masalah agama.

baca juga :  Hukum Orang Yang Mengklaim Tahu Ilmu Ghoib

Singkatnya, anda tinggal bertanya pada mereka, adakah Salaf-nya pemahaman anda itu dengan sanad yang shahih dari mereka? jika tidak, fix patut anda curigai.

Wallahu Waliyyut Taufîq

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 72 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *