Menjawab Syubhat Melihat Nabi Dalam Keadaan Terjaga (Bagian 1)

Seorang muslim wajib mencintai Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Bahkan Nabi harus lebih ia cintai dari Ibu-Bapaknya, anaknya, bahkan seluruh manusia. Sebagaimana Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam gariskan itu melalui lisannya yang mulia,

ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : )) ﻻ ﻳﺆﻣﻦ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺣﺘﻰﺃﻛﻮﻥ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﻭﺍﻟﺪﻩ ﻭﻭﻟﺪﻩ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ .(( ‏[ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: ” Tidak dikatakan beriman seseorang diantara kalian sampai menjadikan diriku lebih ia cintai dari orang tuanya, anak-anaknya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhariy).

Diantara bentuk kecintaan seseorang pada beliau adalah mengenalnya dengan baik, sunnah-nya, sirah-nya, sampai urusan fisik dan kebiasaan beliau shallallahu ‘alayhi wasallam. Itu bisa didapatkan dari penjelasan para ulama yang mengikuti

-sponsor-
jejak langkah beliau atau dari atsar-atsar shahih dari kitab-kitab hadits, kitab-kitab sirah, bahkan kitab yang secara khusus membahas seluk beluk beliau semisal Asy-Syamāil.

Sehingga orang-orang yang betul-betul mengenal beliau akan tergambar di benaknya bagaimana beliau itu. Orang seperti ini tatkala melihat Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam dalam mimpinya, dan ternyata sesuai dengan apa yang tertera dalam berbagai keterangan memang demikian, maka besar kemungkinan bahwa itu memang Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam yang ia lihat di mimpinya. Sebab syaithan tak akan bisa menyerupai rupa beliau yang asli.

Sebagaimana beliau shallallahu ‘alayhi wasallam jelaskan,

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ‏« ﻣﻦ ﺭﺁﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺁﻧﻲ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻻ ﻳﺘﻤﺜﻞﺑﻲ ‏» ‏[ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: ” Sesiapa yang melihatku dalam tidur (mimpi) maka sungguh ia melihatku dengan betul. Karena sesungguhnya syaithan tidak bisa menyerupaiku.” [HR. Al-Bukhariy dan Muslim]

Diantara bentuk “jualannya” orang-orang sufi adalah melihat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ketika terjaga, bukan ketika tidur. Ini cukup laris di tengah kaum muslimin yang memang mayoritasnya terjauhkan dari ilmu. Sehingga mereka para shufiyyin mendapatkan kedudukan bak raja-raja di tengah-tengah ummat. Perkataan mereka bak wahyu yang turun dari langit oleh para awam yang tertipu oleh khurafat mereka. Bid’ah – bid’ah merajalela karena di-stempel oleh para shufiyyin ini.

Hal tersebut justru bertolak belakang dengan konsep representasi kecintaan pada Nabi. Konsekuensi cinta pada Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bukan dengan ghuluw menunjukkan seolah-olah memiliki tempat khusus di sisi Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Kecintaan pada Nabi juga ditunjukkan dengan kesetiaan pada ajaran yang datang dari beliau, bukan membuat bid’ah-bid’ah baru.

Mungkinkah seseorang bisa melihat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ketika terjaga pasca wafatnya beliau shallallahu ‘alayhi wasallam?

Mereka para shufiyyin mencoba ber-istidlal dengan beberapa dalil. Hal ini yang menjadi syubhat bagi sebagian orang sehingga terjadi kebingungan pada mereka, bahkan ada yang sampai membenarkan para shufiyyin tersebut. Diantara dalil-dalil yang digunakan para shufiyyin untuk mendukung keyakinan mereka adalah diantaranya,

Pertama
Hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhariy dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

ﻗﺎﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ : )) ﻣﻦ ﺭﺁﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﺴﻴﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ .(( ‏[ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ]

baca juga :  Tawassul Dengan Orang Mati

Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesiapa yang melihatku dalam mimpi maka kelak akan melihatku dalam keadaan terjaga”. [HR. Al-Bukhariy]

Secara dzhahir hadits ini menunjukkan dengan tegas bahwasanya kelak seseorang bisa melihatku dalam keadaan terjaga. Begitu kata mereka. Inilah yang membuat awam bingung bahkan tertipu. Sebab haditsnya shahih, rawi-nya terpercaya.
Jika difahami secara letterlijk, maka seseorang akan memahami demikian.

Kedua
Dalil kedua ini berangkat dari ‘aql dan naql. Seseorang yang disuguhinya akan ciut nyalinya. Yaitu mereka katakn bahwasanya Ru‘yatun Nabiy itu bagian dari qudratullah (kuasa Allah). Maka sesiapa yang mengingkarinya, maka ia telah kufur. Bukankah mudah bagi Allah untuk menghidupkan lagi yang mati?

Sungguh Allah telah menjadikan do’a Ibrahim ‘Alayhissalaam sebagai sebab hidupnya burung-burung sebagaimana dalam ayat,

{ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺨُﺬْ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔً ﻣِّﻦَ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮِ ﻓَﺼُﺮْﻫُﻦَّ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺛُﻢَّ ﺍﺟْﻌَﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺟَﺒَﻞٍ ﻣِّﻨْﻬُﻦَّ ﺟُﺰْﺀًﺍ ﺛُﻢَّ ﺍﺩْﻋُﻬُﻦَّ ﻳَﺄْﺗِﻴﻨَﻚَ ﺳَﻌْﻴًﺎ ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﺣَﻜِﻴﻢ { ‏[ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ 260: ].

” …Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera. Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260)

Tak sulit bagi Allah dengan qudrahNya untuk menghadirkan Nabi yang mulia dalam keadaan manusia terjaga.

Sebagaimana mudah bagi Allah menjadikan beburung yang dipisah-pisah anggota tubuhnya dan di kubur di gunung yang berbeda kembali hidup seperti semula. Begitu kata mereka.
Syubhat ini sangat kuat bagi sebagian orang awam. Sehingga banyak yang tertipu dengannya.

Bagaimana menjawab syubhat ini?
Mari sedikit ngopi…
Siapkan sedikit cemilan, kita bincang santai tapi serius membahas masalah ini.
Adapun terhadap pendalilan mereka yang pertama, yaitu mereka berargumen dengan hadits,

(( ﻣﻦ ﺭﺁﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﺴﻴﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ ))

“Sesiapa yang melihatku dalam tidur (mimpi), maka kelak ia akan melihatku dalam keadaan terjaga.”

Maka jika kita merujuk pada Ilmu-ilmu alat yang mu’tabar tentunya akan tersingkaplah hal-hal yang telah keluar dari maksud dalil tersebut. Dan diantara ilmu alat yang bisa kita gunakan untuk memahami maksud hadits ini adalah ilmu mushthalah dan ilmu ushul.

Jika kita merujuk hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini, maka kita akan mendapati bahwa haditsnya diriwayatkan dengan riwayat yang berbeda-beda. Bahkan riwayat Abu Hurairah sendiri datang dalam lafadzh yang berbeda-beda dari riwayat yang ini.

Semisal hadits ini,

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ‏« ﻣﻦ ﺭﺁﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺁﻧﻲ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻻ ﻳﺘﻤﺜﻞ ﺑﻲ »

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesiapa yang melihatku dalam tidur maka ia benar-benar melihatku. Karena sesungguhnya syaithan tak bisa menyerupaiku.”

Dan dia ada 4 jalur yang semuanya dalam lafadzh yang berdekatan. Dan tiada di dalamnya lafadzh yang seperti hadits yaqdzhah diatas.
Bahkan pada jalur kelima beliau radhiyallahu ‘anhu meriwayatkannya dengan keraguan seakan-akan hendak menjelaskan bahwa maksudnya bukan bukan melihat beliau dalam keadaan terjaga seperti dzhahirnya lafadzh.

baca juga :  Kapan Waktu Shalat Taubat

Mari kita simak riwayatnya,

« ﻣﻦ ﺭﺁﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﺴﻴﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ – ﺃﻭ : * ﻓﻜﺄﻧﻤﺎ ﺭﺁﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ * – ﻻ ﻳﺘﻤﺜﻞ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺑﻲ ‏» ، ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺳﻠﻤﺔ : ﻗﺎﻝ : ﺃﺑﻮ ﻗﺘﺎﺩﺓ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ‏« ﻣﻦ ﺭﺁﻧﻲ ﻓﻘﺪ ﺭﺁﻧﻲ ﺍﻟﺤﻖ ‏» . ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪﻩ 22659 )

“Sesiapa yang melihatku dalam tidur maka ia melihatku dalam keadaan terjaga atau seolah-olah ia melihatku seperti ketika terjaga, karena Syaithan tidak bisa menyerupaiku.” Maka berkata Abu Salamah: telah berkata Abu Qatadah: Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesiapa yang melihatku sungguh ia benar-benar melihat diriku yang asli (seperti dlm keadaan terjaga).” (HR. Ahmad, 22659)

Terang bagi kita bahwasanya riwayat yang ada ghairu mahfūdzhah dalam artian bukan memiliki makna tersendiri, tapi memang ditafsirkan oleh riwayat lain. Bahwasanya sekumpulan sahabat lain juga meriwayatkan hadits selain hadits ini. Dari mereka ada Anas bin Malik, Jabir bin ‘Abdullah, Abu Sa’id Al Khudriy, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, dan Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhum.

Semuanya meriwayatkan dengan lafadzh:

ﻣﻦ ﺭﺁﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺁﻧﻲ . ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ، ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ، ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ )

“Sesiapa yang melihatku dalam tidurnya maka sungguh ia melihatku yang asli.” (HR. Al Bukhariy, Ibnu Majah, At Tirmidziy)

Karena banyak yang meriwayatkan dengan lafadzh ini, maka ini yang mahfūdzh tinimbang yang tadi.
Selama riwayatnya ghairu mahfūdzhah maka ia muhtamalah (mengandung kemungkinan-kemungkinan), dan kemungkinan yang terjadi atasnya dari sisi tsubūt (ketetapan statusnya) dan sisi ma’na nya. Dan telah jelas bahwasanya ia ghairu tsabitah, dengan maksud tidak tetap statusnya karena penyelisihannya terhadap riwayat-riwayat yang mahfūdzh. Dan bukanlah dalam hal ini berupa celaan terhadap riwayat Al Bukhariy, karena Al Bukhariy mensyaratkan keshahihahn sanad, akan tetapi ini tak menentukan bahwasanya tak ada pertentangan antar riwayat-riwayat yang shahih sehingga mewajibkan kita mendahulukan sebagian atas sebagian lainnya. Dan itu jelas bahwasanya Abu Hurairah telah meriwayatkan hadits yang diriwayatkan darinya dgn riwayat-riwayat selainnya. Dan riwayat ini menyelisihi terhadap riwayat mayoritas shahabat yang berjumlah banyak, lebih dari 12 sahabat yang tidak dengan lafadzh yang dipakai Abu Hurairah, serta 8 imam dari para Imam Ahli hadits yang telah mengeluarkan hadits ini tidak pernah mempersaksikan dengan riwayat ini untuk menetapkan melihat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dalam keadaan terjaga.

Adapun dari sisi makna, maka sesungguhnya riwayat atas wajib tsubutnya tak terhitung maka ia bersifat Umum, dan al ‘Ām bukanlah qath’iy (pasti) dalam keumumannya sebagaimana madzhab Jumhur (Mayoritas). Dimaklumi di sisi ahli ushul perlunya Takhshishul ‘umūm (pengkhususan yang umum) secara hissi.
Maka bagaimana kalau yang umum ini justru menyelisihi secara hissi dan syara’? Karena itu para ulama melakukan ta’wil untuk memberitahukan bahwasanya dia tak bisa difahami secara dzhahirnya saja, sebab ternyata ia menyelisihi mayoritas secara lafadzh dan dalilnya umum yang tidak qath’iy (pasti).

Diantara ta’wilan para ulama:

Berkata Ibnu Hajar dalam al Fath:

ﺃ – ﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻣﻌﻨﺎﻩ : “ ﺳﻴﺮﻯ ﺗﺄﻭﻳﻞ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺮﺅﻳﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ ﻭﺻﺤﺘﻬﺎ ﻭﺧﺮﻭﺟﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﺤﻖ .”
ﺏ – ﻭﻗﻴﻞ : ﺃﻧﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻭﺍﻟﺘﻤﺜﻴﻞ، ﻭﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻗﻮﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ : ‏« ﻓﻜﺄﻧﻤﺎ ﺭﺁﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ ‏» .
ﺕ – ﻭﻗﻴﻞ : ﺇﻧﻪ ﻳﺮﺍﻩ ﻳﻘﻈﺔ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ، ﻭﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﺮﺍﺋﻴﻪ ﺑﺄﻧﻪ ﻳﻤﻮﺕ ﻣﺴﻠﻤًﺎ؛ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﺮﺍﻩ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺮﺅﻳﺔ ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ ﺑﺎﻋﺘﺒﺎﺭ ﺍﻟﻘﺮﺏ ﺇﻻ ﻣﻦ ﺗﺤﻘﻖ ﻣﻮﺗﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ

baca juga :  Hukum Membunuh Hewan Secara Sia-Sia

1. Berkata sebagian mereka maknanya: “kelak akan melihat ta’wil pandangan itu dalam keadaan terjaga, keabsahannya, dan keluarannya dari sudut sebenarnya.”

2. Dikatakan: bahwasanya ianya hanya penyerupaan dan permisalan saja. Hal tersebut ditunjuki oleh hadits riwayat kedua, “Maka seakan-akan ia melihatku dalam keadaan terjaga”

3. Dan dikatakan : sesungguhnya ianya melihat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam secara terjaga (dengan kasat mata) di akhirat. Sebagai kabar gembira bagi yang kelak melihatnya ketika ia wafat sebagai seorang muslim. Karena ia tak bisa melihatnya dengan pandangan khusus di dunia ini kecuali yang telah tetap wafatnya di atas keislaman.

Maka jika jelas bahwasanya riwayat itu mengandung kemungkinan dan berpotensi dita’wil di sisi ahli ilmu, tinggal kita jelaskan bahwasanya kita tidak bisa berdalil dengannya, wabil khusus bahwa ta’wilnya telah tegaknya dalil yaitu dalil yang ghayru musallamah (tidak selamat dari berbagai kemungkinan).
Bahkan terhadap riwayat tersebut ada yang lebih kuat ketsubutan dan dalālah (penunjukkan dalil)nya.

Sebagai misal firman Allah:

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺘَﻮَﻓَّﻰ ﺍﻟْﺎَﻧْﻔُﺲَ ﺣِﻴْﻦَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻭَﺍ ﻟَّﺘِﻲْ ﻟَﻢْ ﺗَﻤُﺖْ ﻓِﻲْ ﻣَﻨَﺎ ﻣِﻬَﺎ * ﻓَﻴُﻤْﺴِﻚُ ﺍﻟَّﺘِﻲْ ﻗَﻀٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ * ﻭَ ﻳُﺮْﺳِﻞُ ﺍﻟْﺎُﺧْﺮٰۤﻯ ﺍِﻟٰۤﻰﺍَﺟَﻞٍ ﻣُّﺴَﻤًّﻰ ۗ ﺍِﻥَّ ﻓِﻲْ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﺎٰﯾٰﺖٍ ﻟِّﻘَﻮْﻡٍ ﻳَّﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭْﻥ َ

“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 42)

Jika setiap yang wafat tersebut memang Allah tahan ruh-nya ketika telah wafat, maka dari mana perubahan ketentuan itu dan siapa yang bisa melihatnya lagi setelah itu?

Begitu pula firman Allah lainnya memperjelas,

ﺍَﻟَﻢْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﻛَﻢْ ﺍَﻫْﻠَـﻜْﻨَﺎ ﻗَﺒْﻠَﻬُﻢْ ﻣِّﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮُﻭْﻥِ ﺍَﻧَّﻬُﻢْ ﺍِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻟَﺎ ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮْﻥَ ۗ

“Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tidak ada yang kembali kepada mereka.”
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 31)

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺮﻃﺒﻲ ”: ﻭَﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺂﻳَﺔُ ﺭَﺩٌّ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﺯَﻋَﻢَ ﺃَﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﻣَﻦْ ﻳَﺮْﺟِﻊُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕ ”

Berkata Imam Al Qurthubiy dlm al Jāmi’ li Ahkāmil Qurãn : “Ayat ini menjadi bantahan atas siapa saja yang meyakini bahwa ada dari makhluq yang bisa kembali lagi ke dunia setelah matinya sebelum kiamat terjadi!”

Hadzaa maa aqūlu lakum..

Berlanjut ke bagian ke-2 InSyaaAllah..

ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺳﻠﻢﻭ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

 

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 40 times, 1 visits today)

1 tanggapan pada “Menjawab Syubhat Melihat Nabi Dalam Keadaan Terjaga (Bagian 1)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *