Mengurai Keabsahan Dan Patokan Penggunaan Kata ‘Sayyidina’

  • by

Dimaklumi bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alayhi wasallam adalah khayrul basyar, Asyraful Insân. Beliau adalah seorang hamba, tapi hamba terbaik-Nya. Dan beliau juga seorang Rasul, tentu khalil-Nya. Bahkan beliau sendiri mengatakan bahwa beliau adalah Sayyid (Tuan) nya Bani Âdam,

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَومَ القِيَامَةِ ، وَأَوَّلُ مَن يَنشَقُّ عَنهُ القَبرُ ، وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

“Aku adalah Sayyid-nya anak Âdam di hari kiamat, dan yang pertama kali terbelah Quburnya (dibangkitkan), pertama kali memberi syafa’at dan pertama kali diberi syafa’at.” (Riwayat Muslim no. 2278)

Jika dimuthlaq-kan ke-Sayyid-an pada beliau maka tidaklah mengapa jika melihat dalil ini.

Rasul shallallâhu ‘alayhi wasallam berkata tentang al-Hasan bin ‘Aliyy radhiyallâhu ‘anhumâ,

 إِنَّ ابنِي هَذَا سَيِّدٌ. رواه البخاري (2704)

“Sesungguhnya anakku ini seorang Sayyid.” (Riwayat al-Bukhâriy np. 2704)

-sponsor-
justify;">Beliau juga pernah berkata ke orang-orang Anshâr ketika Sa’ad bin Mu’âdz radhiyallâhu ‘anhu datang,

قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُم. رواه البخاري (3073) ومسلم (1768)

“Berdirilah kalian semua untuk Sayyid kalian.” (Riwayat al-Bukhâriy no. 3073 dan Muslim no. 1768)

Para shahabat ridhwânullâh ‘alayhim ajma’în juga memuthlaq-kan kata Sayyid antar mereka. Sebagai contoh ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallâhu ‘anhu mengatakan Sayyid pada Abu Bakr ash-Shiddiq dan Bilâl bin Rabâh radhiyallâhu ‘anhumâ,

أَبُو بَكرٍ سَيِّدُنَا وَأَعتَقَ سَيِّدَنَا : يعني بلال بن رباح. رواه البخاري (3754)

“Abu Bakr adalah Sayyid kami dan telah memerdekakan Sayyid kami juga (Yaitu Bilâl bin Rabâh). (Riwayat al-Bukhâriy no. 3754)

Adapun hadits Abdullah bin Syakhîr radhiyallâhu ‘anhu,

انطَلَقتُ فِي وَفدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقُلنَا : أَنتَ سَيِّدُنَا . فَقَالَ : السَّيِّدُ اللَّهُ… رواه أبو داود (4806)

“Aku bertolak sebagai delegasi Bani ‘Âmir kepada Rasûlullâhi shallallâhu ‘alayhi wasallam. Kemudian kami berkata: Anda Sayyid kami. Kemudian beliau bersabda: Sayyid itu adalah Allah…” (Riwayat Abu Dâwûd no. 4806)

Bukan berarti bentuk pelarangan akan pengucapan “Sayyidina” sebelum nama beliau shallallâhu ‘alayhi wasallam. Namun itu karena ketawadhu‘an dan kekhawatiran beliau akan sikap ghuluw seseorang jika kesayyidan tidak segera diarahkan dan di-muthlaq-kan kepada pemilik maqam rububiyyah yaitu Allah Jalla wa ‘Alâ. Agar jadi tanbih, bahwa hakikatnya kesayyidan secara muthlaq adalah milik Allah. Adapun yang lain, bagian dari pemberian dari-Nya saja.

baca juga :  Menguburkan Jenazah Muslim Dengan Cara Penguburan Kafir ?

Dalam Mausû’ah fiqhiyyah dikatakan,

أجمع المسلمون على ثبوت السّيادة للنّبيّ صلى الله عليه وسلم ، وعلى عَلَمِيَّتِه في السّيادة .

قال الشّرقاويّ : فلفظ ( سيّدنا ) علم عليه صلى الله عليه وسلم ” انتهى . الموسوعة الفقهية (11/346)

“Kaum muslimin telah ber-ijma’ akan tetapnya ke-sayyid-an untuk Nabi shallallâhu ‘alayhi wasallam dan selainnya. Berkata asy-Syarqâwiy: Lafazh Sayyidinâ dimaklumi teruntuk beliau shallallâhu ‘alayhi wasallam.” (al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah, 11/346)

Sampai disini, kita bisa mengambil kesimpulan akan bolehnya mengucapkan “Sayyidina” sebelum nama Nabi ‘Alayhi ash-Shalâtu wa as-Salâm. Begitu pula sebelum nama para Shahâbat radhiyallâhu ‘anhum.

Ini pula yang dipraktekkan para ulama dari zaman ke zaman. Terkadang mereka menyisipkan ke-sayyid-an sebelum nama Rasulullâh shallallâhu ‘alayhi wasallam dan para shahâbat radhiyallâhu ‘anhum.

Hanya saja patut diingat bahwa ia bukanlah keharusan. Hanya kebolehan. Dan ia bukan berarti kesyirikan, melainkan bentuk penghormatan yang biasa dilakukan di tengah-tengah kehidupan mereka. Karena pasti mereka memahami betul bahwa hakikatnya Allah-lah yang paling tinggi ke-Sayyidan-nya.

Bagaimana jika ucapan “Sayyidina” tersebut berkaitan dengan ibadah semisal shalawat, adzan, iqamah, tasyahud, dan sebagainya?

Maka kita rinci.

Pertama. Sebagaimana kita tahu bahwa shalawat, adzan, iqamah, tasyahhud, dan semisalnya adalah bentuk ibadah yang sudah ditentukan lafadzhnya. Sehingga jika kita hendak menambahkan sesuatu padanya dibutuhkan dalil yang menunjangnya. Sebab asal dari ibadah itu bathil, sampai ada dalil yang menunjukkan perintahnya. Sehingga, untuk ibadah-ibadah semisal tadi tentu yang lebih utama dan lebih tepat adalah tanpa tambahan “Sayyidina” padanya.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullâh berkata:

ونحن وغيرنا من المؤمنين لا نشك أن نبينا صلى الله عليه وسلم سيدنا ، وخيرنا ، وأفضلنا عند الله سبحانه وتعالى ، وأنه المطاع فيما يأمر به ، صلوات الله وسلامه عليه ، ومن مقتضى اعتقادنا أنه السيد المطاع ، أن لا نتجاوز ما شرع لنا من قول أو فعل أو عقيدة ، ومما شرعه لنا في كيفية الصلاة عليه في التشهد أن نقول : ” اللهم صل على محمد ، وعلى آل محمد..

baca juga :  Hukum Membaca Kitab Suci Agama Lain

“Dan kami serta selain kami dari Mukminin tidak pernah ragu bahwa Nabi kami shallallâhu ‘alayhi wasallam adalah Sayyid kami, dan yang terbaik, serta seutama-utamanya manusia di sisi Allah Subhânahû wa Ta’âlâ, dan bahwasanya beliau ditaati perintahnya shalawâtullâhi wa salâmuhû ‘alayhi. Dan diantara konsekuensi atas keyakinan kita bahwasnya beliau itu sayyid yang diikuti, maka kita tidak seyogianya melewati batas-batas yang ia syari’atkan untuk kita baik perkataan, perbuatan, serta ‘aqidah. Dan dari apa-apa yang ia bawa syari’atnya untuk kita berupa kaifiyyat shalawat atasnya dalam Tasyahhud adalah kita mengucapkan:

اللهم صل على محمد، وعلى آل محمد

(tanpa kata sayyidina).”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâniy ditanya tentang mana yang lebih afdhal antara memakai Sayyidina atau mengikuti teks hadits secara letterlijk?

Beliau menjawab,

نعم اتِّباعُ الألفاظ المأثورة أرجح…

“Ya. Ittiba’ (mengikuti) lafazh-lafazh yang ma’tsûr (dicontohkan) lebih rajih (kuat).” (Qaulul Badî’ lis Sakhkhâwiy)

Memang benar dalam madzhab Syâfi’iyyah dibolehkan menambahkan Sayyidina seperti dikatakan Al-Malîbâriy dalam kitab Fathul Mu’în,

ولا بأس بزيادة سيدنا قبل محمد

“Dan tidak mengapa dengan penambahan kata sayyidina sebelum nama Muhammad di (dalam Tasyahhud)”. (Fathul Mu’în, hal. 22)

Na’am. Namun kalau kita cek kembali pada kitabnya secara utuh maka kita akan dapati bahwa beliau justru memilih shalawat Ibrâhîmiyah tanpa “sayyidina” di dalamnya. Beliau mengatakan,

أخير وهو اللهم صل على محمد…الخ

“Saya memilih shalawat dengan lafazh Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad…dan seterusnya.” (Fathul Mu’în, hal. 22)

Sisi berikutnya kita perhatikan Fiqhul Lughah pada kalimat beliau “ولا بأس بزيادة سيدنا قبل محمد”. Itu menunjukkan kebolehan bukan keharusan dan anjuran. Sehingga seseorang tidak bisa menggiringnya menjadi keharusan, dan menganggap yang menyelisihinya sebagai kesalahan. Ini keliru.

Sehingga sampailah kita pada kesimpulan bahwa menambahkan kata “sayyidina” sebelum nama Muhammad shallallâhu ‘alayhi wasallam:

  1. Boleh, jika ia bukan pada shalawat yang terikat dengan ibadah khusus seperti tasyahhud dalam shalat. Karena jika lafazh-lafazhnya sudah diatur maka kembali pada kaidah bahwa ibadah itu pada asalnya tauqifiyyah, yaitu tidak melakukan kecuali dengan dalil.
  2. Pengucapan tanpa “sayyidina” bukanlah bentuk merendahkan Nabi shallallâhu ‘alayhi wasallam. Sebab pada dasarnya itu bagian dari konsekuensi mengikuti Nabi secara totalitas. Karena ketika beliau diminta mengajarkan shalawat beliau menggunakan lafazh tanpa Sayyidina. Tentu sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau. Maka tanpa sayyidina justru lebih utama karena bersesuaian dengan Nabi shallallâhu ‘alayhi wasallam.
  3. Menyalahkan penggunaan kata sayyidina yang bersifat umum (muthlaq), dan tanpa terikat dengan ibadah khusus adalah sikap berlebihan. Sebab salaf juga mempraktekkan hal tersebut sebagaimana diisyaratkan dalil-dalil di atas.
  4. Penggunaan kata sayyidina dalam shalat memang dibolehkan dan tidak sampai membatalkan shalat, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama. Hanya saja tanpa menggunakannya jauh lebih utama.
baca juga :  Status Barang Temuan

Lajnah Daimah pernah ditanya tentang mana yang lebih utama antara pakai sayyidina dan tidak?

Mereka menjawab,

الأمر فيه سعة ، فيجوز ذكر محمد صلى الله عليه وسلم ، أو سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم ؛ لأنه سيد الأولين والآخرين ، عليه الصلاة والسلام ، ولكن الأذان والإقامة لا يقال سيدنا ، بل يقال كما جاء في الأحاديث : ( أشهد أن محمدا رسول الله ) وهكذا في التشهد في الصلاة لا يقال : ( سيدنا ) بل يقال كما جاء في الأحاديث ؛ لأن ذلك أقرب إلى الأدب مع السنة وأكمل بلا تسييد بالاتباع  ” انتهى .

“Perkara di dalamnya ada keluasan. Maka boleh menyebut Muhammad shallallâhu ‘alayhi wasallam atau Sayyiduna Muhammad shallallâhu ‘alayhi wasallam, karena beliau itu Sayyidul Awwalîna wal Âkhirîn ‘alayhish shalâtu wassalâm. Akan tetapi adzan dan iqâmah tidak dikatakan padanya sayyidina, bahkan dikatakan padanya sebagaimana hadits-hadits: Asyhadu Anna Muhammadar Rasûlullâh. Begitulah juga dalam tasyahhud pada shalat tidak dikatakan sayyidina, tapi dikatakan sebagaimana dalam hadits-hadits tanpa sayyidina. Karena itu lebih dekat pada adab bersama Sunnah dan lebih sempurna tanpa tas-yîd (pengucapan sayyidina) untuk ittiba’. Selesai penukilan.”

Demikian yang bisa kami hadirkan. Semoga bermanfaat bagi semuanya.

Wallahu Waliyyut Taufîq

Beusi, 10 Rabî’ul Akhîr 1441
Gemericik hujan baru saja berhenti

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 117 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *