Mengkoreksi Pendapat Sendiri Bukanlah Sebuah Kehinaan

  • by

Mengkoreksi pendapat sendiri bukanlah sebuah kehinaan, belum tentu inkonsisten. Bahkan itu menunjukkan ketawadhu’an dan kedewasaan. Serta menunjukkan ilmunya berkembang.

Ambil contoh Al-Imam Asy-Syâfi’iy rahimahullah. Memiliki Qawl Qadîm (pendapat-pendapat beliau terdahulu) dan Qawl Jadîd (pendapat-pendapat beliau yang baru). Antara keduanya sering berbeda dalam menghukumi meski dalam satu kasus yang sama.

Seseorang mungkin di awal pandemi secara muthlaq berpendapat tak boleh pergi ke mesjid. Namun kemudian ia mengubah pendapatnya untuk boleh ke mesjid di masa sekarang. Karena menurutnya itu yang paling mendekati kebenaran. Asalkan ia bawa dalil dan hujjah, sah-sah saja.

Atau seseorang sebelumnya berpendapat bolehnya pergi ke mesjid di awal-awal pandemi muncul. Kemudian ia mengubah pendapatnya di masa sekarang untuk melarang orang pergi ke mesjid. Karena menurutnya itu yang paling mendekati kebenaran. Asalkan ia bawa dalil

-sponsor-
dan hujjah, silahkan saja.

Seseorang berpendapat itu berdasarkan asupan informasi yang didapat. Boleh jadi di masa sebelumnya informasi yang didapat belum sepenuhnya utuh, kemudian di masa berikutnya informasinya semakin utuh. Maka wajar jika orang mengubah pendapatnya sendiri.

Jika ia orang ‘Alim, masyhur dengan iltizamnya terhadap Sunnah, kemudian ia berbeda pendapat dengan kebanyakan Ustadz. Jika ia bawa dalil dan hujjah mengapa ia berpendapat demikian, maka bukan dihina-hina, direndahkan, dibicarakan, dimaki di-status FB, dikata-katain, dan sebagainya. Namun harusnya dimuliakan dan dijadikan hikmah, diambil faedah, barangkali pendapatnya lebih kuat dari kebanyakannya.

baca juga :  Menanam Pohon Menurut Syari'at

Fenomena awammers dan juhala di zaman sekarang, adalah mengeneralisir semua tempat, keadaan, dan manusia. Ia samakan semua kondisinya. Mereka katakan Ustadz fulan inkonsisten, Ustadz fulan bermuka dua, Ustadz fulan gak jelas mauqif (pendapat)nya, dan lain-lain.

Terkadang mereka katakan Ustadz fulan gak taat pemerintah, bukan manhaj salaf lagi, hanya karena buka kajian di tempatnya yang cenderung aman dan non kasus, atau aturan pemerintahnya yang multitafsir dan interpretatif. Vonis sana-sini diobral. Hingga adab tak dijaga. Padahal ia awam, tak mengerti dalil dan pendalilan.

Tak faham bagaimana bentuk ketaatan pada pemerintah dan bagaimana patokan-patokannya. Semua dipukul rata.

Amboi…
Seandainya ia rajin ke majelis ilmu. Ikhlas dalam menuntut ilmu. Ia akan semakin takut pada Allah dan menjaga lisannya dari seperti itu. Ia akan semakin wara’, semakin memahami hak-hak para ‘Alim. Ilmunya akan bermanfaat baginya di dunia dan akhirat.

Para ‘Alim robbaniy adalah bagian dari hurumât (yang dihormati) di sisi Allah. Persaksiannya disejajarkan dengan para Malaikat. Dan kita disuruh menghormati mereka,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ وَاُ ولُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِۢا لْقِسْطِ ۗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۗ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 18)

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ حُرُمٰتِ اللّٰهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ ۗ …

baca juga :  Stok Kesabaran Seorang Ustadz

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (hurumat), maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya…”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 30)

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَآئِرَ اللّٰهِ فَاِ نَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 32)

Kita boleh berbeda pendapat dengan sebagian Asatidzah Ahlussunnah, tapi jaga adab dan tetap hormati mereka. Ambil faedah dalam perbedaan pendapat tersebut, bukan malah sewot disana-sini, menuduh yang macam-macam.
Seseorang itu akan tetap baik dan diam selama ia mengetahui kadar dirinya.

Note:
Ini contoh saja. Semoga tidak terjadi disini. Tapi di negeri Konoha saja.

Wallahu Waliyyut Taufîq
Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)
Editor : Dudi Rusdita

(Visited 26 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *