Mengaku Berilmu, Boleh?

  • by

Terkadang seorang ‘Alim itu di satu waktu perlu ngaku sebagai ‘Alim, begitu pula ia perlu menjaga ‘Izzah kebenaran yang dipegang. Bukan untuk menyombongkan diri, namun agar manusia tak salah alamat dalam mengambil ilmu dari ahlul bathil dan orang-orang jahil.

Sahabat Ibnu Mas’ud ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ pernah berkata pada manusia,

ﻭﻟﻘﺪ ﻋﻠﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻲ ﻣﻦ ﺃﻋﻠﻤﻬﻢ ﺑﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ . ‏( ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ )

“Dan sungguh para Sahabat Rasulullah Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ itu telah mengetahui BAHWASANYA AKU ORANG YANG PALING ‘ALIM dari mereka terhadap Kitabullah.” (Riwayat Muttafaq ‘Alayh)

Atau seperti perkataan Imam Ahmad bin Hanbal ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ketika beliau disuruh debat oleh Amirul Mukminin dengan pentolan Mu’tazilah di Dinasti Abbasiyah,

ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ، ﺇﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﺃﻫﻼ ﺃﻥ ﻳﻨﺎﻇﺮﻧﻲ

-sponsor-

“Wahai Amiral Mu’minin, dia itu gak ahli (jahil) untuk berdebat dengan saya…”

Na’am. Mungkin sekilas anda akan mencium aroma keangkuhan dalam kalimat-kalimat tersebut. Namun bukan demikian duduk perkaranya. Tidak setiap kalimat meninggi dan merekomendasi diri itu berarti bentuk kesombongan, jika dilihat dari sudut pandang lainnya. Dan mereka para Aimmah adalah termasuk yang paling menjaga dari hal tersebut.

Namun mengapa mereka demikian di satu waktu? Karena suara kebenaran tidak boleh inferior di depan suara kebatilan dan kejahilan. Merendah-rendahkan diri di depan para juhala dan penyesat ummat dengan alasan rendah hati adalah bentuk kesalahan, sebab bisa menjadi sebab rusaknya ummat. Sebab mereka akan bersimpuh pada penyeru-penyeru karbitan hingga tersesatkan jalan. Itu sebesar-besar kemadharatan…

baca juga :  Musik Jadi Halal Karena Ada Rowi Hadits Yang Main Musik ? (Bagian 1)

( ﻭَﻗُﻞۡ ﺟَﺎۤﺀَ ﭐﻟۡﺤَﻖُّ ﻭَﺯَﻫَﻖَ ﭐﻟۡﺒَـٰﻄِﻞُۚ ﺇِﻥَّ ﭐﻟۡﺒَـٰﻄِﻞَ ﻛَﺎﻥَ ﺯَﻫُﻮﻕࣰﺍ )

“Dan katakanlah, Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 81)

Mafhumnya adalah kebenaran itu harus datang dulu. Menunjukkan jati dirinya. Maka kebathilan pun lenyap.
Anda tak harus pasang plang di rumah anda bahwa anda ahli faraidh, tapi beritahulah orang lain bahwa anda memang ahli dibidang tersebut. Sehingga mereka mengarahkan persoalan mawarits kepada anda, bukan pada mereka yang tak faham.

Anda tak harus pasang neon box dan terpampang nama anda bahwa anda ahli fiqih, tapi beritahulah orang lain bahwa anda memang ahli dibidang fiqih melalui tulisan-tulisan anda yang bermutu di bidang fiqih. Agar manusia tak mengarahkan persoalan fiqih kepada mufti-mufti karbitan di medsos.

Jika anda memiliki sanad keilmuan, sanad riwayah, dan disiplin ilmu lainnya dibidang yang anda geluti, maka infokan pada manusia agar mereka mengambilnya dari anda bukan dari mereka yang hanya bermodalkan qiila wa qoola, atau copy paste dari teks-teks arab yang seorang wartawan pun bisa melakukannya.

Nabi Yusuf ‘Alayhissalam merekomendasikan dirinya menjadi bendaharawan Mesir,

( ﻗَﺎﻝَ ﭐﺟۡﻌَﻠۡﻨِﯽ ﻋَﻠَﻰٰ ﺧَﺰَﺍۤﻯِٕﻦِ ﭐﻟۡﺄَﺭۡﺽِۖ ﺇِﻧِّﯽ ﺣَﻔِﯿﻆٌ ﻋَﻠِﯿﻢࣱ )

“Dia (Yusuf) berkata, Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 55)

baca juga :  Sabar Dalam Thalab

Imam A’masy berani mencabut bulu ketiak sambil berdiri di tengah majlis seseorang yang berdusta atas nama Rasul ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , dengan pede-nya beliau memberitahukan bahwasanya paling mengetahui riwayat daripada pendusta tersebut.

Para Ulama juga menulis Tsabat, berupa tulisan-tulisan silsilah guru-guru mereka, sanad keilmuan mereka disana. Demi menjaga ashalah (kemurnian) agama, mereka memberitahukannya pada ummat. Agar ummat tidak salah duduk bermajelis.

Ya. Singkat cerita, tidak setiap pengakuan akan kemampuan itu bermakna kesombongan intelektual atau yang lainnya. Boleh jadi itu bagian dari upaya menjaga amanah ilmiyyah, menjaga kemurnian agama, serta menjauhkan ummat dari langkah yang salah.

Di satu waktu itu perlu dilakukan, yakni jangan merasa lemah dan merendahkan diri di depan kebathilan !

( ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻬِﻨُﻮﺍ۟ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺤۡﺰَﻧُﻮﺍ۟ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢُ ﭐﻟۡﺄَﻋۡﻠَﻮۡﻥَ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢ ﻣُّﺆۡﻣِﻨِﯿﻦَ )

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 139)

Asal jangan berlebihan saja, sampai nyebutin satu-satu pernah dapat penghargaan anu, pernah juara anu, dan lainnya jika tak diperlukan. Itu hanya akan membuat para ‘alim lainnya mengernyitkan dahi saja… Hehe

Dan bagi yang lainnya, tahan diri dulu dari prasangka buruk pada mereka dengan me-laqabi, “Sok berilmu!”, “Merasa benar sendiri!”, “Pemegang kunci surga!”, dan semisalnya. Karena itu sangat tidak ilmiah, terlalu normatif, dan bukan hujjah…
Tetaplah husnudzhan..

baca juga :  Musik Jadi Halal Karena Ada Rowi Hadits Yang Main Musik ? (Bagian 2)

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Muhibbukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochammad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 92 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *