Menentukan Sendiri Dzikir Untuk Orang Sakit

  • by

Penanya:

Ibu Saya alhamdulillah terbiasa berdzikir pada Allah. Di banyak kesempatan. Namun beliau selalu menentukan jenis dzikir beserta hitungannya manakala menemui orang sakit. Misalnya beliau membacakan shalawat 100 kali. Apakah ini benar menurut syari’at?

Jawaban:
Bismillah wash shalâtu wassalâmu ‘alâ Rasûlillâhi…
Ammâ ba’du..

Berdzikir adalah ibadah yang sangat agung di sisi Allah ‘Azza Wa Jalla. Ia termasuk ibadah lisan yang pahalanya besar.

Karena ia termasuk ibadah, maka secara lafadzh dan hitungan tentunya ada yang memang diatur secara jelas berupa lafadz, waktu, dan hitungannya. Dan ada pula yang diatur lafadz namun tidak ditentukan waktu dan hitungannya, dalam artian bisa bebas sebanyak-banyaknya.

Dalam kasus di atas, sebenarnya yang disyari’atkan ketika mendo’akan saudaranya adalah tanpa diketahui oleh saudaranya. Ia do’akan saudaranya agar sembuh kembali. Dan bagi

-sponsor-
yang ditimpa kesulitan, agar Allah angkat kesulitannya. Dalam hadits dikatakan:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ. رواه مسلم وغيره.

“Doanya seorang muslim untuk saudaranya tanpa diketahuinya mustajab (dijawab oleh Allah). Di sisinya ada malaikat yang diberi mandat. Setiap kali orang itu mendo’akan saudaranya, maka malaikat berkata padanya: Âmîn dan untukmu juga yang semisal.” [Riwayat Muslim dan lainnya]

Di hadits yang lain:

baca juga :  Hukum Mendo'akan Peninggal Shalat Ketika Sudah Meninggal

مَنْ أَتَى مَرِيضًا لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ، فَقَالَ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ، رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَهُ، إِلَّا عُوفِيَ. رواه أحمد وغيره.

“Sesiapa yang menjenguk orang sakit yang belum datang ajalnya, kemudian ia mengucapkan 7 kali: as-alullâhal ‘adzhîm, Rabbal ‘arsyil ‘adzhîmi an yasyfiyahu, kecuali dia akan disembuhkan.” [Riwayat Ahmad dan lainnya]

Adapun mengulang-ngulang dzikir tertentu dengan hitungan tertentu, hasil kreasi sendiri dengan niat mengobati orang sakit atau menghilangkan kesulitan dari seseorang, maka sepengetahuan kami ini tidak ada dalilnya.

Maka cukupkanlah dengan apa yang dicontohkan Rasul shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Wallahu Waliyyut Taufîq

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 57 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *