MENEGAKKAN SYI’AR AGAMA

  • by

Al-Imâm Ibnu Jamâ’ah Asy-Syâfi’iy rahimahullâhu Ta’âlâ berkata tentang salah satu adab penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri,

أن يحافظ على القيام بشعائر الإسلام وظواهر الأحكام، كإقامة الصلاة في مساجد الجماعات، وإفشاء السلام للخواص والعوام، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، والصبر على الأذى بسبب دلك، صادعا بالحق عند السلاطين، باذلا نفسه لله، لا يخاف فيه لومة لائم، ذاكرا قوله تعالى: وَاصْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَابَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُ مُوْرِ ۚ

“Hendaknya ia menjaga penegakkan syi’ar-syi’ar Islam pada dirinya dan hukum-hukum yang zhahir (nampak), seperti mendirikan shalat di mesjid-mesjid Jami’, menebar salam baik pada orang-orang khusus (ahli ilmu) maupun orang-orang awam, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, bersabar akan gangguan bersebab itu, menyampaikan Al-Haqq di sisi para penguasa, mengorbankan jiwanya di jalan Allah, tidak takut celaan orang yang

-sponsor-
mencela, karena ingat firman Allah Ta’âlâ: “…Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”
(QS. Luqman 31: Ayat 17). [Tadzkiratus Sâmi’ wal Mutakallim fî Adabil ‘Âlimi wal Muta’allim, hal. 104]

Milikilah ciri khas sebagai penuntut ilmu, minimalnya dari tampilan zhahir. Celana yang longgar tanpa isbal bagi lelaki, baju yang syar’iy yang longgar menarik di hati. Memakai peci ketika shalat, minimal koko syukur jika gamis bahkan jubah. Sekali lagi bukan keharusan, namun nampak indah bagi penuntut ilmu.

Betapa indah jika bertemu bertegur sapa, “bagaimana kabar iman kita hari ini?”. Atau saling mengingatkan, “gimana tilawah Quran-nya?”, atau juga, “Gimana hafalannya nambah? Kemarin hadir kajian online?”, dan semisal dengan itu.

Naik level lagi ketika saling bersapa mudzakarah ilmu, “saya coba meneliti bahwa ternyata persoalan ini masuk kaidah fiqih yang itu.” Atau dengan hal lain, “Menurut Ibnu hajar hadits ‘Aziz itu kadza wa kadza, beda halnya dengan Al-‘Iraqiy dan Ibnu Shalah…”. Atau pembicaraan ilmiah lainnya.

Begitulah hendaknya penuntut ilmu menghiasi dirinya.

Imam An-Nawawiy dalam At-Tibyân menggolongkan ta’zhîm terhadap syi’ar-syi’ar agama sebagai bukti ketaqwaan hati seseorang. Beliau mengutip dari ayat Alquran,

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَآئِرَ اللّٰهِ فَاِ نَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketaqwaan hati.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 32)

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)
Editor : Dudi Rusdita

(Visited 14 times, 1 visits today)
baca juga :  Mendidik Anak Bertransaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *