Menceritakan Musibah Pasti Terlarang?

  • oleh

“Kok kelihatan pucat? Sedang sakit?”

Mungkin sebagian besar anda sering menghadapi pertanyaan sejenis. Kemudian anda bingung antara menjawabnya atau tidak, sebab khawatir termasuk sedang mengadukan Allah kepada makhluq jika mengiyakan.

Lalu bagaimana penjelasannya?

Tidak setiap menceritakan musibah yang menimpa kita itu terlarang. Sebab di satu sisi terkadang ia dibutuhkan, terutama jika keadaan sangat darurat mengancam nyawa dan butuh pertolongan segera.
Para ulama membaginya menjadi beberapa kondisi:

Boleh jika darurat atau hanya sekedar menjawab pertanyaan, atau sedang mengambil ibroh. Makruh dan mengurangi kesempurnaan sabar jika tidak ada hajat. Haram jika menunjukkan ketidakridhaan akan taqdir Allah Jalla wa ‘Alâ.

Begitu pula menceritakan sakit. Tergantung kondisinya seperti apa dan niat orangnya bagaimana. Tidak setiap cerita tersebut bagian dari bentuk mengadukan Khaliq kepada makhluq.

Berkata al-‘Allâmah Ibnu ‘Utsaimin ‘alayhi

-sponsor-
rahmâtu Rabbil ‘âlamîn:

لا بأس أن يقول المريض للناس إني مريض إذا سألوه وأن هذا ليس من باب الشكوى،
الشكوى أن تشتكي الخالق للمخلوق تقول : أنا أصابني الله بكذا وكذا تشكو الرب للخلق هذا لا يجوز،
ولهذا قالَ يعقوب :
﴿ إِنَّما أَشكو بَثّي وَحُزني إِلَى اللَّهِ ﴾.
📜【 شرح رياض الصالحين ( ٤ / ٤٨٦) 】

“Tidak mengapa seseorang yang sakit mengatakan pada manusia ‘Saya sedang sakit’ jika ada yang menanyakan keadaan dirinya, dan ini bukanlah bentuk pengaduan.

Pengaduan itu jika anda mengadukan al-Khaliq kepada makhluq dengan mengatakan: ‘Allah membuat saya begini dan begitu’ (tidak ridha dengan taqdir). Anda mengadukan Rabb kepada makhluq maka ini tidak boleh.

Oleh karenanya Ya’qub berkata: ‘Hanyalah aku mengadukan kepedihan dan kesedihanku kepada Allah saja’.” [Syarh Riyâdhis Shâlihîn, 4/486]

Berkata Ibnu Muflih dalam al-Adabusy Syarî’ah,

قال الشيخ مجد الدين في شرح الهداية ولا بأس أن يخبر بما يجده من ألم ووجع لغرض صحيح، لا لقصد الشكوى،…

“Berkata asy-Syaikh Majduddîn dalam Syarhil Hidâyah: dan tidaklah mengapa seseorang mengabarkan sakitnya dan kesulitan hidupnya untuk tujuan yang benar. Bukan maksud untuk mengadukan Allah kepada makhluq…”

Berkata Ibnul Jauziy rahimahullâh,

وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يَكْرَهُونَ الشَّكْوَى إِلَى الْخَلْقِ، وَالشَّكْوَى وَإِنْ كَانَ فِيهَا رَاحَةٌ إِلا أَنَّهَا تَدُلُّ عَلَى ضَعْفٍ وَذُلٍّ وَالصَّبْرُ عَنْهَا دَلِيلٌ عَلَى قُوَّةٍ وَعِزٍّ

“Sungguh para salaf tidak menyukai asy-Syakwâ (mengadukan Allah) kepada makhluq. Dan asy-Syakwâ itu meskipun membuat hati plong tetap saja ianya menunjukkan akan kelemahan dan kekerdilan jiwa. Sementara kesabaran dari musibah menunjukkan akan kekuatan jiwa dan kehormatan diri.”

Semoga hal ini bisa dijadikan patokan. Sehingga kita tidak mengesankan bahwa agama ini segala sulit.
Wallahu Waliyyut Taufîq

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 173 times, 1 visits today)
baca juga :  Nasihat Pernikahan Bagian 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *