Menanam Pohon Menurut Syari’at

  • by
Yuk menanam pohon

Banyak yang menganggap remeh menanam pohon, berkebun, bertani, menanam tanaman di  halaman rumah dan sejenisnya. Bahkan seringkali hal tersebut dianggap sebagai aktivitas rendahan yang kurang berfaedah, dengan bahasa lain tak besar uangnya…

Namun tahukah anda, bahwa ternyata aktivitas tersebut berpotensi panen pahala?

Mengapa demikian?

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnadnya, bahwa seseorang melewati Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu sementara beliau sedang menanam tanaman di Damaskus kemudian dia bertanya keheranan,

أتَفعَلُ هذا وأنتَ صَاحبُ رسولِ الله، فقالَ لا تعْجَلْ عليّ سمعتُ رسول الله يقول:” مَنْ غرَسَ غَرْسا لم يأكلْ منه ءادميّ ولا خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ الله إلا كان لهُ به صدقةٌ”

“Engkau melakukan itu (menanam pohon) padahal engkau sahabat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam?”

Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Jangan buru-buru merasa heran padaku,

-sponsor-
aku telah mendengar Rasulullah bersabda,

“Sesiapa yang menanam pohon, tidaklah anak cucu Adam atau makhluk-makhluk Allah makan darinya kecuali itu dianggap shadaqah dari empunya (tersebut).” (HR. Ahmad, di-shahih-kan Syaikh al-Albaniy)

قال في فيض القدير: أي يُثابُ عليه ثوابَ الصّدقَةِ وإن لم يكن باختِيارِه ولم يَعْلَمْ بهِ.

Berkata penulis Faidhul Qadir: “Diberi pahala atasnya pahala shadaqah meskipun ia tidak mengupayakannya dan tidak mengetahui sebelumnya.”

وفي رواية: إلا كانَ لهُ صَدَقةٌ إلى يومِ القِيامةِ”

Dalam riwayat lain: “Kecuali baginya pahala shadaqah hingga hari kiamat.” (HR. an-Nasaiy dan lainnya)

baca juga :  Nasihat Pernikahan Bagian 2

قال النّوويُّ في شرح مسلم في هذه الأحاديثِ فَضِيلةُ الغَرْسِ وفضِيلةُ الزَّرْعِ وأنّ أجْرَ فَاعِلِي ذلكَ مُستَمِرٌّ ما دامَ الغَرْسُ والزّرْعُ وما توَلّدَ منهُ إلى يومِ القيامةِ.

“Berkata Imam an-Nawawiy dalam Syarh Shahih Muslim tentang hadits-hadits keutamaan menanam dan keutamaan bertani, dan bahwasanya pahala pelaku kedua aktivitas tersebut itu terus menerus mengalir selama tanaman dan pertanian tersebut serta yang dihasilkan darinya selalu ada dan bermanfaat sampai hari kiamat.”

ولذالك ذهب بعض العلماء (وصححه النووي رحمه الله) إلى تفضيل العمل بالزراعة على العمل بالصناعة والتجارة وذلك لعموم نفع الزراعة حتى أنها تشمل نفع الناس والدواب والطيور والحشرات.

“Dan oleh karena itu sebagian ulama berpendapat (di-shahih-kan oleh an-Nawawiy rahimahullah) kepada lebih utamanya pekerjaan bertani, berkebun, dan sejenisnya atas aktivitas memproduksi barang dan perdagangan. Hal itu karena meratanya manfaat pertanian dan perkebunan sampai terkandung di dalamnya manfaat untuk manusia, hewan-hewan melata, burung-burung, dan serangga-serangga.”

Ini salah satu cara cerdas untuk meninggalkan jejak amal shalih di dunia sebelum kita berpindah ke akhirat…

Bayangkan saja, jika setiap harinya ada ribuan serangga yang makan di kebun antum, betapa banyak pahala shadaqah yang mengalir buatmu ?

Bayangkan jika banyak manusia yang bisa makan dari hasil kebun kita. Binatang melata, kupu-kupu, belalang, lebah bersarang, yang bisa makan dari kebun kita. Belum lagi oksigen yang dihasilkan oleh pohon-pohon kita. Bayangkan itu…

baca juga :  KITA DAN SEJARAH

Selama itu terjadi, pahala shadaqah terus mengalir bagi kita. Tidakkah itu menggiurkan?


Sudah berapa pohon yang antum tanam sampai hari ini ?


Yuk menanam pohon…!


Wallahu Waliyyut Taufiiq


Akhukum,
Al-Faqiir Ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 132 times, 1 visits today)
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *