Memotong Rambut dan Kuku Bagi Orang yang Mau Berqurban, Haram?

Penanya:
Ustadz, apakah memotong kuku dan rambut bagi orang yang hendak Qurban itu haram?
Soalnya saya perhatikan di flyer-flyer banyak yang mengarahkan akan keharamannya.

Jawaban:
Alhamdulillah…
Wash shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillahi…

Wa ba’du,

Dalam hadits shahih disebutkan,

إذا رأيتم هلالَ ذي الحجةِ، وأراد أحدكم أن يُضحِّي، فليُمسك عن شعرِهِ وأظفارِهِ

“Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah, dan salah seorang dari kalian hendak berqurban, maka hendaknya ia menahan dari memotong rambut dan kuku-kukunya.” (Riwayat Muslim)

Jumhur Fuqaha memandang bahwa larangan memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berqurban tersebut bersifat Tanzīh bukan Tahrīm. Sehingga tidaklah haram, melainkan makruh. Merupakan kesunnahan untuk membiarkan kuku dan rambut bagi mudhahhiy, sehingga ketika melakukannya menjadi makruh karena meninggalkan yang utama.

Sementara menurut Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah

-sponsor-
ia termasuk keharaman. Beliau mengatakan,

Berkata Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah,

حرم على الذي يريد الضحية من رجال أو نساء أخذ شيء من الشعر أو الظفر أو البشرة، من جميع البدن…

“Haram atas orang yang mau berqurban baik laki-laki maupun perempuan mengambil sedikit saja dari rambut, kuku, atau kulit yang ada di seluruh badan…”

Ishaq bin Rahawayh dan salah satu qaul Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumallah juga senada dengan ini.

Sementara Madzhabnya Imam Abu Hanifah tidaklah menganggapnya haram, tidak juga makruh.

baca juga :  Mengurai Keabsahan Dan Patokan Penggunaan Kata ‘Sayyidina’

Yang pasti menahan diri dari memotong rambut dan kuku bukanlah syarat sahnya Udhhiyyah. Dan memotong rambut serta kuku bagi mudhahhiy juga bukanlah pembatal. Syaikh Al-Faqihi mengatakan,

فليس الإمساك من الشعر والأظافر من شروط صحة الأضحية، ولا يعتبر الأخذ منها مبطلا للأضحية

“Bukanlah menahan diri dari memotong rambut dan kuku itu bagian dari syarat sahnya udhhiyyah (Qurban), dan mengambil jalan itu pun tidak teranggap membatalkan udhhiyyah.”

Dimaklumi bahwa an-Nahyu (larangan) itu menunjuk pada 2 perkara; haram dan makruh.

Haram itu menurut ilmu ushul fiqih,

ما نهى عنه الشارع على وجه الإلزام بالترك

“Apa-apa yang Asy-Syari’ (Allah) melarang darinya dalam bentuk kemestian untuk meninggalkannya.”

Sementara makruh,

ما نهى عنه الشارع لا على وجه الإلزام بالترك

“Apa-apa yang Asy-Syari’ (Allah) melarang darinya tidak dalam bentuk kemestian untuk meninggalkannya.”

Jika kita perhatikan dari sudut pandang ushul fiqih, kalimat فليمسك عن شعره وأظفاره, hendaknya ia menahan dari mekotong rambut dan kuku-kukunya, TIDAKLAH masuk ke dalam shighat Tahrīm (pengharaman). Melainkan ia bentuk al-Irsyad, yakni menunjuk pada keutamaan (afdhaliyah). Dan afdhaliyah itu menunjuk pada Nadbiyyah, Anjuran.

Sehingga menahan diri dari memotong rambut dan kuku disana bukanlah hal yang wajib, melainkan anjuran. Sehingga ketika meninggalkannya, masuk kategori makruh tanzih. Dan kemakruhan bisa hilang jika ada hajat sebagaimana kaidah,

لا كراهة عند الحاجة

baca juga :  Di Mesjid Atau Di Rumah, Manakah Yang Lebih Utama Bagi Wanita Untuk Shalat?

“Tiada kemakruhan jika ada hajat/kebutuhan.”

Maka, yang tepat menurut kami adalah memotong rambut dan kuku bagi shahibul qurban/mudhahhiy TIDAKLAH HARAM, melainkan makruh dengan karahah Tanzih. Dan kemakruhan bisa hilang jika ada hajat atau kebutuhan. Sebagaimana Jumhur (mayoritas) Fuqaha juga berpendapat demikian.

Wallahu Waliyyut Taufiiq.

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

Maraji’:
-Shahih Muslim
-Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul
-Islamweb.net
-Al-Hawi lil Fatawi
-Mawdoo3.com
-Al-Fiqh.net
-Ar-Raudhul Murbi’
-‘Umdatul Fiqh
-Dll.

(Visited 103 times, 1 visits today)

2 tanggapan pada “Memotong Rambut dan Kuku Bagi Orang yang Mau Berqurban, Haram?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *