Membangun Prasangka Baik, Menghindari Gaya Hizbiyyah

  • oleh

Kita tidak diperintahkan untuk mencari-cari info tentang ibadah orang lain, apakah masih semangat atau tidak.

Kita tidak disuruh mencari berita tentang orang lain apakah masih berada di atas hidayah atau tidak.

Tapi kita disuruh memuraja’ahi (mengevaluasi) diri kita apakah bersemangat dalam ibadah ataukah futur berkepanjangan?
Tapi kita disuruh memuhasabahi (mengintrospeksi) diri kita apakah masih istiqamah di atas jalan yang lurus ataukah mulai bermain-main dengan syubhat dan kesesatan?

Kita hanya disuruh meluruskan kebengkokan mereka, sesuai perintah agama pada apa-apa yang terlihat maupun terdengar, secara lahir dan pasti.

Ingat, bukan mencari-carinya bahkan memata-matainya.
Jangan sibukkan diri dengan membangun dzhan (prasangka) terhadap mereka. Sibukkanlah diri meratapi dosa-dosa yg membebani kita tiada henti.

ﻳٰۤـﺎَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮْﺍ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ۖ ﺍِﻥَّ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻟﻈَّﻦِّ ﺍِﺛْﻢٌ ﻭَّﻟَﺎ ﺗَﺠَﺴَّﺴُﻮْﺍ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻐْﺘَﺐْ ﺑَّﻌْﻀُﻜُﻢْ ﺑَﻌْﻀًﺎ ۗ ﺍَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺍَﻥْ ﻳَّﺄْﻛُﻞَ ﻟَﺤْﻢَ ﺍَﺧِﻴْﻪِ ﻣَﻴْﺘًﺎ ﻓَﻜَﺮِﻫْﺘُﻤُﻮْﻩُ ۗ ﻭَﺍ ﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ۗ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺗَﻮَّﺍﺏٌ ﺭَّﺣِﻴْﻢ
ٌ

-sponsor-
style="text-align: justify;">“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

baca juga :  Apakah Shaum Tiga Hari Setiap Bulan Sama Dengan Ayyâmul Bîdh?

Jangan lagi ada pertanyaan,
“Ya akhiy/ukhtiy kemana saja anta/anti jarang terlihat di kajian?”
Atau ada pernyataan underestimated,
“Tumben hadir. Biasanya bolos terus ngajinya.”
Seakan yang ditanya itu pengangguran atau tidak menuntut ilmu lagi hingga diabsen seperti hizbiyyah yang takut lari muqallid-nya. Padahal bisa jadi ia ikut daurah di kota lain. Atau ia ngaji di majelis lain. Atau ia ada agenda lain yang sangat penting. Atau ia punya tugas lain karena kontrak dan lain sebagainya.

ﻳٰۤﺎَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮْﺍ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺨَﺮْ ﻗَﻮْﻡٌ ﻣِّﻦْ ﻗَﻮْﻡٍ ﻋَﺴٰۤﻰ ﺍَﻥْ ﻳَّﻜُﻮْﻧُﻮْﺍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِّﻨْﻬُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻧِﺴَﺎٓﺀٌ ﻣِّﻦْ ﻧِّﺴَﺎٓﺀٍ ﻋَﺴٰۤﻰ ﺍَﻥْ ﻳَّﻜُﻦَّ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِّﻨْﻬُﻦَّ ۚ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻠْﻤِﺰُﻭْۤﺍ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻨَﺎ ﺑَﺰُﻭْﺍ ﺑِﺎ ﻟْﺎَ ﻟْﻘَﺎ ﺏِ ۗ ﺑِﺌْﺲَ ﺍﻟِﺎﺳْﻢُ ﺍﻟْﻔُﺴُﻮْﻕُ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﺎِﻳْﻤَﺎ ﻥِ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻟَّﻢْ ﻳَﺘُﺐْ ﻓَﺎُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟﻈّٰﻠِﻤُﻮْﻥ
َ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11)

Semoga mencerahkan. Agar kita tidak memiliki tradisi kurang baik yang selalu dipelihara. Yaitu membangun prasangka. Tugas penuntut ilmu itu belajar dan sibuk dengan ilmu untuk mengangkat kebodohan dirinya, untuk memperbaiki adabnya. Bukan malah mendongakkan kepala, underestimated pada sesamanya, bahkan melakukan tradisi-tradisi yang justru diadopsi dari hizbiyyah dan kawanannya.

baca juga :  Ahlul Qur'an Itu?

ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻬُﻢْ ﺑِﻪٖ ﻣِﻦْ ﻋِﻠْﻢٍ ۗ ﺍِﻥْ ﻳَّﺘَّﺒِﻌُﻮْﻥَ ﺍِﻟَّﺎ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ۚ ﻭَﺍِ ﻥَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻟَﺎ ﻳُﻐْﻨِﻲْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَـﻖِّ ﺷَﻴْﺌًـﺎ
ۚ

“Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 28).

Wallahu Waliyyut Taufiiq.

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 69 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *