Kulaimat Ibnu Hazm

  • oleh

Dulu, saya memandang aib rasa cinta bagi seorang santri atau aktivis dakwah. Ia saya anggap pengotor jiwa. Sampai kemudian saya tercerahkan oleh Imam Ibnu Hazm Al-Andalusiy (Imam Besar Madzhab Fiqih Dzhahiriy) terkait cinta dari kitabnya yang masyhur dan melegenda di kalangan Ahli Ilmu, Tauqul Hamamah.

Dari sanalah saya menemukan penjelasan yang detail tentang cinta yang sesuai fithrah dan cinta yang syahwatiy. Disanalah saya faham mana rasa cinta yang aib, dan mana rasa cinta yang benar serta syar’iy…

Sayapun akhirnya faham,  betapa romantisnya para ulama dalam mengungkapkan cinta. Bukan hanya Ibnu Hazm, Ibnul Qayyim pun pernah membahas permasalahan cinta secara mendetail. Begitupula yang lebih ekstrem lagi, As Suyuthiy pun menulis kitab yang “vulgar” tentang cinta. Sehingga bagi penuntut ilmu yang faham, permasalahan cinta tak selalu menjadi permasalahan tabu, namun santri terkadang jauh lebih faham dan romantis ketimbang pemuda alay zaman now!

-sponsor-
style="text-align: justify;">Perhatikan Kulaimat Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya itu…

“Cinta adalah penghubung jiwa-jiwa manusia yang beraneka corak dan warna. Dan jiwa adalah inti keadiluran manusia.”

“Cinta adalah bayangan indah yang terhujam dalam jiwa, cinta adalah selaksa kasih yang terukir dalam hati.”

“Dan sungguh cinta adalah penyakit. Dan obatnya terletak pada sejauh mana engkau mau berteman-berbagi, sejauh mana kau menziarahi tempat yang kau sukai, dan sejauh mana kau melakukan sesuatu yang kau senangi. Orang yang terkena panah cinta tak akan mau melepaskan panah itu. Anehnya orang yang sehat malah ingin terjangkit cinta. Cinta membikin hal yang tadinya dipandang hina menjadi mulia. Cinta mengubah yang rumit menjadi mudah saja…”

baca juga :  Mengkoreksi Pendapat Sendiri Bukanlah Sebuah Kehinaan

“Cinta telah mengubah orang yang bakhil nan kikir menjadi dermawan luar biasa. Cinta telah mengubah sang pendiam menjadi banyak bicaranya. Cinta telah mengubah sang penakut menjadi pemberani luar biasa. Cinta telah mengubah sang buruk perangai menjadi berbudia mulia. Cinta telah mengubah si pandir menjadi beradab begitu saja. Cinta telah mengubah si pemalas berhias menjadi pesolek di depan kaca. Cinta telah mengubah si miskin berlagak kaya. Cinta telah mengubah si tua berlagak muda. Cinta telah mengubah si shaleh nan sopan menjadi pemurung tiada daya. Cinta telah mengubah si pecundang menjadi pemenang. Itulah cinta!”

“Banyak orang mengira jatuh cinta adalah kelemahan yang tak pernah Mendera orang beriman. Ia mengira jatuh cinta adalah aib bagi orang yang faham agama. Karena itulah ia kuatir kalau orang lain tahu kalau ia sedang jatuh cinta, mereka akan menilainya sebagai orang yang tak shaleh dan tak taat beragama…

pendapat demikian jelas keliru adanya. sebab, sesungguhnya sebagai muslim beriman, ia cuma dititahkan untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala, kala godaan datang menghampirinya. Mencintai keindahan dan membiarkan cinta bersemi bukanlah hal yang hina, apalagi dosa. Cinta bukanlah dosa. Ia adalah tabi’at alami manusia. Yang seharusnya kita lakukan adalah mengendalikan segala anggota tubuh kita, agar tak terperosok dalam hal-hal yang diharamkanNya.

baca juga :  Menceritakan Musibah Pasti Terlarang?

Sekian beberapa kalimat indah dari sekian banyak kalimat indah dan mendetail dari seorang Imam Besar di zamannya, Al Imam Ibnu Hazm Al-Andalusiy Adzh Dzhahiriy…

Wallahu waliyyut taufiiq..

Dikumpulkan oleh :
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 45 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *