KRISIS ADAB?

  • by

بالأدب تفهم العلم

“Dengan adablah kamu akan memahami ilmu.”

Demikianlah Yusuf bin Al-Husain rahimahullâh mengungkapkan.

Dahulu ada orang yang meminta baca kepada Al-Buqâ’iy rahimahullâh. Maka al-Buqâ’iy mengizinkannya. Kemudian orang tersebut langsung saja duduk bersila, sementara Al-Buqâ’iy kurang suka duduk bersila. Maka Al-Buqâ’iy melarang ia membacakan hadits. Al-Buqâ’iy kemudian berkata padanya,

أنت أحوج إلى الأدب منك إلى العلم الذي جئت تطلبه

“Kamu itu lebih butuh kepada adab dari pada ilmu yang kamu datang untuk menuntutnya ini!” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 69]

Ya, Al-Buqâ’iy tidak mengharamkan ataupun memakruhkan duduk bersila. Ia hanya punya aturan terhadap muridnya agar tidak bersila. Dan itu hak seorang guru untuk memiliki Class Rules (aturan-aturan kelas). Ketika ada murid yang kurang adab dengan melanggar aturan tersebut, maka sang guru berhak menegurnya.

Dahulu Syaikh Muqbil bin Hâdi al-Wâdi’iy

-sponsor-
rahimahullah memiliki aturan di dars-nya, bahwa sesiapa yang tidak bawa catatan maka ia harus berdiri sampai akhir dars, atau beliau mempersilahkannya tidak ikut dars (pelajaran).

Hal-hal semacam Ini tak ada dalil khususnya, tapi ini bagian dari adab yang mana dalil umumnya banyak.

Ibnu Sîrîn menceritakan tentang para salaf,

كانوا يتعلمون الهدي كما يتعلمون العلم

“Mereka dulu mempelajari al-hady (petunjuk/adab) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 69]

Para salaf senantiasa mewasiatkan perkara adab ini kepada para pembelajar. Seperti nasehat Imam Malik kepada seorang pemuda dari Quraisy,

baca juga :  Agungnya Hak Seorang Mukmin

يا ابن أخي، تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari ilmu!”

Begitu pula orang tua mereka senantiasa menasehatkan perkara adab kepada anak-anak mereka. Seperti ibunya Imam Malik bin Anas menasehatkan kepada beliau agar berguru kepada Rabî’ah bin ‘Abdirrahmân (faqihnya ahli Madinah kala itu),

فتعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adabnya terlebih dahulu sebelum ilmunya.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 70]

Mari kita sedikit evaluasi. Betapa banyak thalabatil ‘Ilmi di masa kita sekarang yang terhalang akan ilmu karena meluputkan adab.

Syaikh Shâlih Al-‘Ushaimiy hafizhahullâhu wa waffaqahu mencontohkan diantara kurang bagusnya adab penutut ilmu zaman sekarang, diantaranya: duduk senderan di depan gurunya bahkan selonjoran (tanpa udzur), MENGANGKAT SUARA pada gurunya, tidak menahan diri mengangkat HP atau menjawab pesan di depan gurunya, dan sebagainya.

Jika mengangkat suara saja bagian dari su-ul adab, maka bagaimana dengan yang protes marah-marah ke gurunya?

Syaikh Shâlih melanjutkan kisah Imam Laits yang menegur para pencari hadits yang kurang memperhatikan adab sewaktu di majelisnya,

ما هذا؟ أنتم إلى يسير من الأدب أحوج منكم إلى كثير من العلم

“Apa-apaan ini? Kalian itu lebih butuh sedikit adab daripada banyaknya ilmu!” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 70]

Tidak taqlid pada guru bukan berarti menggugurkan wajibnya adab kepada mereka.

baca juga :  Macam-Macam Teman Menurut Imam al-Barmawiy

8 Sya’ban 1442 H

Hujan masih belum reda,

Ma’had Daar El ‘Ilmi Beusi, Alhamdulillâh

 

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *