Korelasi Antara Hafalan Dan Keilmuan

  • by

Saya dikagetkan dengan sebuah pernyataan seorang da’i yang begitu dielu-elukan pengikutnya. Saya bertanya-tanya bagaimana bisa ia sampai tak hafal urutan tatacara manasik haji yang benar dan sesuai sunnah. Padahal itu pelajaran tingkat ibtidaiyyah!!!

Pada akhirnya saya teringat qaul Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, bahwa pada akhirnya ilmu kita adalah yang kita hafal!

Ya. Betul sekali perkataan beliau. Ribuan kitab kita baca, ribuan Dars/pelajaran dari guru-guru kita dengarkan, semua bisa hilang begitu saja kecuali yang kita ingat, kecuali yang kita hafal saja. Dan itulah yang bermanfaat bagi kita dan bisa kita amalkan.

Sehingga tanpa disadari dan menjadi dhabith (patokan) tersendiri bahwa tak mungkin seseorang akan mencapai derajat ulama jika hafalannya minim, kecuali ‘ulama-ulama’ zaman now yang meng-ulama-kan dirinya sendiri. Sebab bagaimana dia menghadirkan dalil dan melakukan

-sponsor-
pendalilan jika dia tak hafal dalilnya?! Bagaimana ia memikirkan nash, jika nash-nya masih tercecer di kitab-kitab? Bagaimana ia bisa berfatwa dan mengkompromikan dalil jika ia sendiri tak bisa menghadirkannya?

Hafalan Quran minim, apalagi hadits dan kalam-kalam ulama, lalu bagaimana bisa ia menjelma jadi ulama?

ﻓﻘﺪ ﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﻋﺪﺩ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ، ﻣﻨﻬﻢ – ﺑﺎﻹﺿﺎﻓﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ – ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ، ﻭﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ، ﻭﺟﺒﻴﺮ ﺑﻦ ﻣﻄﻌﻢ، ﻭﺃﻧﺲ ﻭﺃﺑﻮ ﺍﻟﺪﺭﺩﺍﺀ .. ﻭﻟﻔﻈﻪ، ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻋﻦ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ : ﻧﻀﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻣﺮﺃً ﺳﻤﻊ ﻣﻨﺎ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻓﺤﻔﻈﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻐﻪ ﻏﻴﺮﻩ، ﻓﺮﺏ ﺣﺎﻣﻞ ﻓﻘﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﻦ ﻫﻮ ﺃﻓﻘﻪ ﻣﻨﻪ، ﻭﺭﺏ ﺣﺎﻣﻞ ﻓﻘﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﻔﻘﻴﻪ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ : ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ .

Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu berkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengarkan hadits, lalu menghafal dan menyampaikannya pada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham darinya. Dan betapa banyak orang yang membawa fiqih namun dia bukan seorang yang faqih.” (HR. at-Tirmidzi, beliau berkata: Hadits Hasan)

baca juga :  Tasybik Di Zaman Now!

Mari perhatikan bagaimana Rasulullah memberikan kabar gembira bagi yang menghafal haditsnya. Apalah lagi jika yang dihafal adalah Kalamullah yaitu Alquran, tentu kabarnya lebih menggembirakan lagi. Banyak dalil yang bisa kami hadirkan terkait ini, namun tak bisa semuanya karena keterbatasan waktu.

tidak heran jika para ulama memberikan perhatian serius terhadapnya. Bahkan ada yang sampai menyatakannya sebagai prasyarat bagi siapapun yang ingin mendalami ilmu-ilmu Keislaman secara luas. Sebab bagi mereka, menuntut ilmu itu ada tahap-tahapnya. Dan tahap yang paling atas dan utama adalah menghafal Al-Qur’an.

Jika seseorang meremehkan menghafal Quran padahal ia terjun ke medan dakwah, maka bagaimana ia berhujjah?

Al-Hafizh An-Nawawi juga menegaskan: “Yang pertama kali dimulai adalah menghafal Al-Qur’an yang mulia, dimana itu adalah ilmu yang terpenting diantara ilmu-ilmu yang ada. Adalah para salaf dahulu tidak mengajarkan ilmu-ilmu Hadits dan Fiqh kecuali kepada orang yang telah menghafal Al-Qur’an (An-Nubadz fii Adabi Thalabil ‘Ilmi)

Dulu, tidaklah seseorang itu disebut ulama atau ustadz kecuali dia telah banyak hafalannya. Sebab, sedikitnya hafalan seseorang itu diragukan keilmuannya. Bahkan bisa dicurigai membawa kesesatan, karena potensi dia untuk berbicara tanpa dalil alias sesuai hawa nafsunya begitu besar.

Salah satu tradisi para ulama yang masih bertahan sampai sekarang ketika menguji seseorang calon ulama atau yang diulamakan adalah mengetest hafalannya. Imam Bukhariy dulu di-test hafalan hadits oleh para ahli hadits minimal dengan 100 hadits dengan dibolak-balik sanad dan matannya. Begitu pula para ulama lainnya.
Tradisi itu masih berlanjut sampai sekarang terutama di Timur Tengah. Coba tengok di Saudi, setiap calon Ulama akan ditest hafalannya oleh ulama senior. Jangan tanya hafalan Qurannya, bagi mereka sudah tak bisa diragukan lagi!
Rata-rata hafalan hadits mereka saja bisa 300 ribu sampai 500 ribu-an hadits. MaaSyaaAllah.

baca juga :  Jika Kau Di Pihak Yang Benar, Maka Perbagus Akhlaqmu !

Nah, kan menjadi lucu. Dan inilah sebab bertebarannya kesesatan di Indonesia adalah ketiadaan tradisi ini! Orang yang Juz Amma saja belum hafal sudah berani ngisi Ta’lim! Bahasa Arab masih belepotan sudah berani berfatwa! Mereka sudah berani masuk ke ranah pembahasan pemikiran dan sebagainya. Muncullah kesesatan-kesesatan, muncullah firqah-firqah dalam agama… Allahul Musta’an

ﺑِﺎﻟْﺒَﻴِّﻨَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟﺰُّﺑُﺮِ ۗ ﻭَﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻟِﺘُﺒَﻴِّﻦَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻣَﺎ ﻧُﺰِّﻝَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ

“keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”

Ibnu ‘Abdl Barr mengatakan:

ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺩﺭﺟﺎﺕ ﻭﺭﺗﺐ ﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺗﻌﺪﻳﻬﺎ، ﻭﻣﻦ ﺗﻌﺪﺍﻫﺎ ﺟﻤﻠﺔ ﻓﻘﺪ ﺗﻌﺪﻯ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺭﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﺄﻭﻝ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺣﻔﻆ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻭﺗﻔﻬﻤﻪ

“Menuntut ilmu itu ada tahapan dan tingkatan yang harus dilalui, barangsiapa yang melaluinya maka ia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘azza wa jalla dan memahaminya” (dinukil dari Limaadza Nahfadzul Qur’an, Syaikh Shalih Al Munajjid)

Menghafal ilmu berarti mencintai ilmu, dan aktivitas ini adalah aktivitas para ulama, bukan para pemalas.

Penghafal Quran berarti pecinta Quran, pecinta Quran berarti pecinta Allah dan RasulNya..

Ibnu Mas’ud berkata:

ﻣَﻦْ ﺃَﺣَﺐَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﻠَﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ، ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ

baca juga :  Cita-Cita Dan Tekad Yang Kuat Dalam Menuntut Ilmu

“ Barangsiapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah, jika ia mencintai Al Quran maka ia mencintai Allah dan Rasul-Nya ” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman , Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid berkata: “semua rijalnya shahih”)

Makanya, dulu, yang lahir adalah para ulama yang selain hafal Al-Qur’an, juga hafal dan menguasai (ahli) sekian banyak Hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi wasallam. Mereka juga mewariskan karya-karya brilian yang memberi manfaat hingga hari ini.

Nah, jadi adakah korelasi hafalan dengan keilmuan? Tentu sangat kuat korelasinya…

Anda boleh mengatakan, “Orang yang hafal Quran, hadits atau Nash-nash agama lainnya belum tentu pemahamannya benar atau akhlaqnya bagus!”

Tapi anda tak bisa mengatakan, “Orang tanpa hafalan juga bisa jadi ulama!” atau mengatakan, “Tak ada korelasi antara hafalan dan keilmuan seseorang!”.

Padahal, anda tak bisa shalat kecuali anda telah menghafal tatacara shalat dan menghafal beberapa bacaan shalat. Anda juga tak bisa masak jika tak hafal tatacara memasak atau urutan memasak. Atau jenis lainnya. Bukankah itu aktivitas yang butuh pada hafalan?

Kuy, kita semangat menghafal!

والله ولي التوفيق

Akhukum,
Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 43 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *