KITA DAN SEJARAH

  • by

Ketika membaca Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd tetiba terbayang tentang Andalusia. Bukan tentang fiqihnya dan para fuqahanya saja namun siluet tentang bangkit runtuhnya negeri tersebut di pentas sejarah peradaban Islam.

Andalusia. Negeri dimana kaum muslimin pernah berjaya disana 8 abad lamanya, hampir 2/3 masa sejarah kejayaan kaum muslimin. Fase yang tak sebentar dari sejarah Islam. Tentu saja amat disayangkan jika kaum muslimin tidak mengenal rangkaian peristiwa yang mengisi lebih dari 2/3 sejarah Islam.

Terbayang tentang peristiwa lembah Barbate, salah satu peristiwa yang dianggap sangat penting dalam sejarah Islam. Bukan hanya karena ia peristiwa takluknya Andalusia pada Islam, melainkan karena dalam sejarah peristiwa ini serupa dengan perang Yarmuk dan Qadisiyah. Bersamaan dengan itu banyak kaum muslimin yang sama sekali tidak pernah mendengarkan tentang Lembah Barbate (Wadi Lakka) ini.

Teringat juga tentang rincian peristiwa pembakaran

-sponsor-
perahu yang dikatakan terjadi di masa Thariq bin Ziyad rahimahullah, apakah ia fakta atau khayalan…

Teringatkan juga tentang Abdurrahman ad-Dakhil rahimahullah. Sosok yang dikatakan para Ahli Sejarah, “Andaikata tiada dia (setelah kehendak Allah ‘Azza wa Jalla), Islam bisa habis tuntas dari negeri Andalusia”.

Teringatkan juga tentang Abdurrahman an-Nashir, raja Eropa terbesar di abad pertengahan.

Begitu pula Yusuf bin Tasyifin rahimahullah, panglima Rabbaniy dan tokoh pada peristiwa Zallaqah.

baca juga :  URGENSI TEMAN SHALIH DALAM THALAB

Selanjutnya Abu Bakr al-Lamtuniy, sang Mujahid yang dengan izin Allah mampu menaklukkan lebih dari 15 negara Afrika masuk Islam.

Lalu Abu Yusuf Ya’qub al-Manshur, sang Penakluk al-Arak (Arch); peristiwa yang menghentak benteng-benteng Nashrani, dan muslimin menang gemilang.

Belum lagi tentang Murabithun, Muwahhidun, mesjid Cordova, mesjid Sevilla, Perpustakaan Umawiyah, Istana Az-Zahra, kota Az-Zahra, Istana Al-Hamra, dll.

Teringatkan juga tentang sederet peristiwa memilukan:

Pertempuran al-‘Iqab, saat jumlah kaum muslimin sangat banyak, persenjataan lengkap, namun kalah. Peristiwa yang mirip dengan perang Hunain. Seakan Hunain episode kedua lahir kembali dari tumpukan debu-debu sejarah. Sampai para ahli sejarah mengatakan, “Pasca peristiwa al-‘Iqab, tak ditemukan lagi seorang pemuda pun di Andalusia yang layak untuk berperang!”.

Tragedi Valencia. Dalam sehari 60.000 kaum muslimin dibantai. Begitu pula tragedi Ubbadzah. Belum di Lapangan Inkuisisi, sedih sekali mengingatnya.

Belum lagi tragedi Barbusytar, 40.000 kaum muslimin dibunuh dalam sehari dan 7.000 muslimah Barbastro dijadikan tawanan. Memilukan sekali. Itu juga mengingatkan saya akan peristiwa nahas Bosnia-Herzegovina dan tempat lainnya dimana kaum muslimin tinggal. Sangat memilukan.

Seakan apa yang di katakan para Ahli sejarah itu benar, “Sejarah itu selalu berulang di tiap masa. Hanya berbeda nama peristiwa saja. Begitu pula orang-orang yang mengisi sejarah tersebut. Seakan ada penerusnya.”

Dalam sejarah, baik Andalusia dan yang lainnya selalu ada kemunculan sosok Mujahid yang pemberani dan sang penakut yang pengecut. Muncul pula sosok yang bertaqwa lagi wara’, tapi nampak juga pribadi yang menyelisihi Syari’at Rabbnya.

baca juga :  TIDUR MENURUT AL-QURAN & DERAJATNYA MENURUT BAHASA ARAB

Di pentas sejarah peradaban Islam, muncul sosok yang terpercaya untuk diri, agama, dan tanah airnya. Tapi nampak pula sosok pengkhianat terhadap diri, agama, dan tanah airnya.

Itulah alasan pentingnya kita mempelajari sejarah, agar kita tak mengulang kesalahan orang terdahulu dan mengambil faedah mereka yang berjalan di atas rel yang benar sehingga kita mampu menentukan arah ketika ada masalah. Itu bagian dari Sunnatullâh yang terus berlaku,

 ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا ۚ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللّٰهِ تَحْوِيْلًا

“…Maka kamu tidak akan mendapatkan penggantian terhadap Sunnatullah, dan tidak (pula) akan menemukan pergeseran terhadap Sunnatullah itu.”
(QS. Fatir 35: Ayat 43)

Kita diperintah oleh Allah untuk memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum kita; bangkit-runtuhnya, benar-salahnya, baik-buruknya. Untuk diambil pelajaran, dijadikan I’tibar, agar kita benar menentukan langkah.

اَوَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَا قِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوْۤا اَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعْجِزَهٗ مِنْ شَيْءٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ ۗ اِنَّهٗ كَانَ عَلِيْمًا قَدِيْرًا

“Dan tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka, padahal orang-orang itu lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.”
(QS. Fatir 35: Ayat 44)

Kita hari ini sedang mencatatkan sejarah untuk anak cucu kita kelak….

baca juga :  Hamba Yang Rabbani

Semoga bermanfaat…

Akhukum Fillâh,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)
Editor : Dudi Rusdita

(Visited 422 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *