Ketika Sedih Menyapamu

Sedih. Satu kata niscaya menghampiri kita. Manusiawi, alamiyah, naluriah. Sekuat apapun hati seseorang pasti tetap akan bersedih, hanya berbeda cara mengekspresikan saja.

Untuk itulah Allah menguatkan jiwa kita di tengah keterpurukan. Keterpurukan karena masalah tak kunjung selesai. Keluarga yang tak kunjung mengerti. Tekanan bertubi-tubi dari sejawat dan handai taulan. Kegagalan demi kegagalan. Bahkan kedzhaliman-kedzhaliman musuh dakwah yang tak pernah berhenti jadi aral melintang. Ya, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. ‘Ali ‘Imran : 139)

Jika sejenak merenung, maka semua tak lepas dari ketetapan-Nya. Ya, hidup ini hakikatnya ujian yang tak akan pernah berhenti sampai

-sponsor-
kita mati. Setiap kita, dengan berbagai jenis, akan selalu dihampiri ujian, sebab catatan telah mengering dan pena telah diangkat. Meluncur dari lisan Nabi yang mulia,

ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح، ويؤمر بأربع كلمات: بكتب رزقه، وأجله، وعمله، وشقي أم سعيد

“. . . Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan dan kebahagiaannya . . .”

Episode. Kita akan selalu melewatinya. Ada tertawa tentu Allah hadirkan juga tangisan hingga kita pun menangis. Selalu berpasangan sebagaimana yang Ia kabarkan dalam kitab-Nya yang Kokoh dan Mulia,

baca juga :  Pendidikan Para Pendahulu Yang Shalih

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. an-Najm: 40-44).

Tertawa dan menangis disandingkan dengan hidup dan mati. Maka keduanya juga berarti yang sama yaitu NISCAYA. Pasti akan menimpa kita semua. Namun bagaimanakah sikap kita menghadapinya, itulah ladang-ladang pahala yang siap ditanami. Disiapkan kantong-kantong kesabaran yang banyak. Dihadirkan dada-dada yang lapang. Dibukakakan tangan-tangan yang siap menyeka air mata kita. Agar kita kembali pada-Nya.

Kesabaran. Ya, kantong-kantongnya haruslah banyak. Bejana-bejananya juga harus dibesarkan. Agar kesabaran itu selalu ada di dalamnya sepahit apapun perjalanan kita ke depan. Agar hijrah terus berjalan. Langit belum runtuh. Kehidupan terus berjalan. Perahunya masih berjalan di atas lautan kehidupan. Pulau hijrah dan kebahagiaan ada di seberang sana. Maka isi semua perahu kita dengan kesabaran.

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب

Artinya “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Rabb-mu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S az-Zumār:10).

Musim semi itu selalu Allah siapkan. Penyejuk jiwa akan selalu Allah hadirkan. Hanya saja terkadang ia dilupakan. Na’am, ia adalah Alquran. Rasul tercinta menyiratkan dalam sebuah do’a,

baca juga :  Tak Selalu

اللَّهمَّ إنِّي عبدُكَ ، وابنُ عبدِكَ ، وابنُ أمتِكَ ، ناصِيتي بيدِكَ ، ماضٍ فيَّ حُكمُكَ ، عدلٌ فيَّ قضاؤُكَ ، أسألُكَ بِكُلِّ اسمٍ هوَ لَكَ ، سمَّيتَ بهِ نفسَكَ ، أو أنزلتَهُ في كتابِكَ ، أو علَّمتَهُ أحدًا مِن خلقِكَ ، أوِ استأثَرتَ بهِ في عِلمِ الغَيبِ عندَكَ ، أن تَجعلَ القرآنَ ربيعَ قَلبي ، ونورَ صَدري ، وجلاءَ حُزْني ، وذَهابَ هَمِّي

(“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.”)

Maka Allah akan hilangkan kegundahan dan kesedihannya serta menggantikannya dengan kebahagiaan’. (HR. Ahmad I/391 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Ya, musim semi itu ada dalam Al-Quran…

Muhibbukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 90 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *