Ketentuan Takfir Bagi Yang Meninggalkan Shalat

  • by

Bismillaah wal hamdulillaah washshalaatu wasaalaamu ‘alaa Rasuulillaah. Amma Ba’du.

Berkenaan dengan permasalahan takfir taarikis shalaah (mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat) ada dhawabith (ketentuan) khusus dalam penerapannya. Agar tidak disalahfahami ibarot-ibarot (referensi bacaan red) berupa pendapat atau fatwa dari para masyayikh dalam hal ini.

Seperti misalkan dalam madzhab Hanbali. Mereka dikenal paling tegas dalam menghukumi orang yang meninggalkan shalat. Bagi mereka, yang meninggalkan shalat itu kafir murtad. Hukumannya dipancung oleh pemerintah.

Namun apakah begitu saja? Langsung dikafirkan dan ditangkap untuk dipancung?

Jawabnya Tidak.

Ada istitab (meminta agar ia bertaubat) dulu selama 3 hari. Ditegakkan hujjah terlebih dahulu oleh pemerintah. Dilihat dulu apakah ada mawani’ (penghalang-penghalang) yang membuat ia jahil akan hukum shalat. Diberi pembinaan dulu. Jika masih ngeyel, barulah divonis oleh pemerintah.

Syaikhuna

-sponsor-
Dr. ‘Ali al-Qu’aimiy mengatakan, “karena hal ini tidak ditegakkan oleh pemerintah hampir merata di negeri-negeri Islam yang ada, maka tidak boleh serampangan mengkafirkan”.

Bayangkan, Madzhab yang dikenal tegas dalam takfir terhadap peninggal shalat saja masih memperhatikan tahapan dalam vonis. Apalagi madzhab lainnya yang lebih ringan.

Maka poinnya disini bukanlah peremehan urusan shalat, tapi lebih kepada kehati-hatian kita dalam memvonis secara Ta’yin (personal/tertentu).

Berbeda halnya jika ia secara muthlaq atau umum.

Sehingga, bagi sebagian ikhwah yang masih membaca artikel atau copas artikel dan mendapati ada kalam ulama dari kalangan ahlussunnah yang mengkafirkan, fahami bahwa itu bukan untuk difahami bolehnya mengkafirkan secara ta’yin (personal), namun fahamilah bahwa itu bahasa pengkafiran secara muthlaq yang tidak ditentukan personnya.

baca juga :  Hukum Meminta Perkara Dunia Dalam Shalat

Dan dimaklumi juga bahwa perbedaan pendapat terkait kufur tidaknya peninggal shalat itu sudah terjadi dari semenjak dahulu di kalangan salaf. Sehingga dalam hal ini yang memegang pendapat salah satunya tidak bisa diingkari atau dikeluarkan dari barisan ahlussunnah. Baik yang memegang pendapat kufurnya atau yang tidak mengkufurkannya, keduanya tetap diterima bagi ahlussunnah.

Semoga kita senantiasa istiqamah menjaga shalat kita hingga akhir ayat. Aamiin…

Demikian semoga bermanfaat.

Wallahu Waliyyut Taufiiq.

Akhukum,
Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 81 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *