Kenyang

  • by

Setiap hari hampir sama. Kita membuka mata, merapal beberapa dzikir dan do’a. Terus tenggelam dalam rutinitas pagi yang melelahkan. Bahkan tak sedikit dari kita memulainya dengan bermuram dan bermasam muka.

Nyaris kurang keberkahannya. Sebagian memang bisa membuka mushhaf, baca satu-dua ayat. Setelah itu “kenyang” dan beranjak pada agenda lain yang katanya “positif” juga.

Dzhuhur menjelang, kenyang perut kita setelah makan. “kenyang” pula kita oleh aktivitas. Menjadilah alasan kita absen dari majelis ilmu, karena kita merasa “kenyang” dari menuntut ilmu.

Ashar menawarkan harapan. Sebentar lagi kita sampai di rumah melepas penat. Berat langkah kaki kita berwudhu dan menyempurnakan shalat di awal waktu. Perasaan, hari-hari lalu kita jarang terlambat shalat, maka menjadilah pemaafan untuk berleha karena kita telah “kenyang” dengan amalan shalih yang lalu.

Sebagian kita

-sponsor-
bergelut dengan tugas-tugas kuliah. Bahagian lagi berkutat di dapur. Ada juga yang menyalurkan hobi kesana-kemari. Padahal ada MP3 untuk memuraja’ah hafalan. Ada buku yang siap dibuka sampulnya untuk dibuka, ia teronggok lama tak tersentuh di lemari. Namun nampaknya mereka telah “kenyang” dari muraja’ah dan menuntut ilmu.

Maghrib datang. Tanduk Syaithan muncul. Makhluq jahat bertebaran. Nyaris saja tanpa minta penjagaan, karena merasa “kenyang” dengann seabreg agenda harian.

Syafaq merah telah menghilang. Mulailah kelelahan. Adzan bersahutan, benar-benar tak menggetarkan bagi banyak mereka bahkan mungkin kita. Pasca itu, tertidur nyaris tanpa dzikir, witir, muraja’ah hafalan, dan baca buku. Karena itu tadi, “kenyang” dengan agenda yang sebenarnya penuh dengan isi status medsos atau buka gadget..

baca juga :  Fenomena Ketergesaan Jawab Tanya Dengan Potongan Video

Begitu penuh “lambung” ilmu dan amal mereka, hingga secuil nasehat saja bak petir menyambar di siang bolong. Begitu merasa tersakiti. Karena tadi, telah merasa “kenyang” dengan segala kebaikan hingga “tak berhak” diberi nasehat lagi.

Bukan, itu bukan ketawadhu’an. Bukan pula jadi alasan. Namun itu bagian dari kesombongan dan keberpalingan. I’radh dari jalan Allah.

Bagaimana ia berhujjah, “saya awam”, sementara semua fasilitas tersedia disisinya. Ada google. Ada rumpian kawan. Ada ilmu yang bertebaran. Ada majelis-majelis ilmu. Namun dasar “lambung” ilmu dan amalnya terasa telah kenyang dari semua itu..

Teringat dengan KalamNya..

ﺳَﺄَﺻْﺮِﻑُ ﻋَﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻲَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺘَﻜَﺒَّﺮُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺇِﻥْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﻛُﻞَّ ﺁﻳَﺔٍ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﺳَﺒِﻴﻞَ ﺍﻟﺮُّﺷْﺪِ ﻟَﺎ ﻳَﺘَّﺨِﺬُﻭﻩُ ﺳَﺒِﻴﻠًﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﺳَﺒِﻴﻞَ ﺍﻟْﻐَﻲِّ ﻳَﺘَّﺨِﺬُﻭﻩُ ﺳَﺒِﻴﻠًﺎ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺑِﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺬَّﺑُﻮﺍ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻏَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (Al-A’raf : 146)

Sebenarnya “lambung” mereka kenyang oleh apa?

Sebab tak demikian sifat yang dilukiskan Rasul tercinta shallallahu ‘alayhi wasallam.

baca juga :  MENJAGA MURÛ-AH

منهومان لا يشبعان : طالب علم وطالب دنيا

“Ada 2 orang yang begitu rakus dan tak pernah merasa kenyang: penuntut ilmu (agama) dan pencari dunia.” (HR. Hakim)

Kalau mereka “kenyang” dari ilmu, maka mafhumnya adalah mereka bukan penuntut ilmu. Kalu bukan penuntut ilmu, maka berdasar hadits di atas ia berpredikat pencari dunia.

Ternyata, bukan mereka yang dilihat terlalu berlebihan dalam ilmu dan ibadah, namun orang-orang inilah yang terlalu lekat dengan dunia dan merasa “kenyang” dari ilmu dan ibadah.

Itu bagian dari kesombongan dan keberpalingan. Mereka akan selalu tertutup dari ilmu dan hidayah selama masih ada sifat itu. Dan mereka akan bersimbah dengan “kepahitan” meski di tengah keberlimpahan, tiada lain karena keberpalingannya..

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻋْﺮَﺽَ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِﻱ ﻓَﺈِﻥَّ ﻟَﻪُ ﻣَﻌِﻴﺸَﺔً ﺿَﻨْﻜًﺎ ﻭَﻧَﺤْﺸُﺮُﻩُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺃَﻋْﻤَﻰٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Thaha : 124)

Teruslah rakus dalam menuntut ilmu. Teruslah istiqamah dalam menghamba padaNya. Sebab keberpalingan kita akan hal demikian dengan alasan “kenyang”, akan membuat hati kita mati berkali-kali. Dan itu lebih berat dari hidup itu sendiri..

اللهم اهدنا إلى سبيل الرشاد…
آمين

 

 

Muhibbukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

baca juga :  Jabatan Dimata Para Sahabat Radhiyallahu 'Anhum

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 20 times, 1 visits today)
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *