Kaidah Tentang Rukhshah (Keringanan)

  • oleh

Jika anda berniat nonton konser musik di luar kota, atau anda mau melakukan transaksi ribawi disana, atau anda mau melakukan penipuan terhadap orang lain, dan sejenisnya, maka anda tidak layak mengambil rukshah-rukshah dalam safar anda. Karena safar anda itu safar dalam dosa dan kemaksiatan.

Sehingga, anda tidak diperkenankan meng-qashar shalat, berbuka puasa, meninggalkan shalat Jum’at, dan lainnya yang berupa rukhash (keringanan-keringanan sebab safar). Mengapa? Sekali lagi karena anda melakukan safar dalam dosa dan kemaksiatan.

Diantara kaidah tentang rukhshah yang disepakati Jumhur (mayoritas) ulama adalah,

الرخص لا تناط بالمعاصي

“Rukhash (rukhshah-rukhshah) itu tidak layak diambil untuk tujuan maksiat.”

Dalil untuk kaidah ini adalah firman Allah تبارك وتعالى,

ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“…Tetapi barang siapa terpaksa, bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

-sponsor-
style="text-align: justify;">(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 173)

Wajhul Istidlâl-nya (uji dalil), bahwasanya ayat ini menurut manthuq-nya (makna tersuratnya) menunjukkan akan disyari’atkannya mengambil rukhshah dengan memakan bangkai bagi siapa yang akan binasa jika tidak memakannya saat itu, sepanjang tidak punya keinginan memakannya dan tidak pula melampaui batas.

Maka mafhum mukhâlafah-nya (pemahaman terbalik), jika ia memang “doyan” dan ingin memakannya dan berniat berbanyak-banyak hingga membawanya sebagai bekal sampai ke rumah (misalkan), tidak boleh baginya Tarakhkhush seperti itu.

baca juga :  Jika Orang Tua Menyuruh Menyumbang Ke Acara Maulid

Mâlikiyah, Syâfi’iyyah, dan Hanabilah sepakat akan hal ini, kecuali Hanafiyah.

Dalam kitab Al-Umm, Asy-Syâfi’iy رحمه الله mengatakan,

إنما جعلت الرخصة لمن لم يكن عاصيا

“Hanyalah dijadikan adanya rukhshah itu bagi siapa yang tidak berniat maksiat…” [Al-Umm, 1/212]

Berbeda halnya jika anda bermaksud untuk dagang, atau berobat, atau belajar, atau lainnya di luar kota, namun di tengah-tengah agenda safar anda menyelipkan dosa dan kemaksiatan (dalam artian tidak diniati sedari awal akan bertujuan dosa dan maksiat), maka anda tetap boleh mengambil rukhshah.

Penulis al-Jawâhirul ‘Adniyyah mengatakan,

فرق بين سفر المعصية –كمن سافر ليرتكب حراما– فالسفر ذاته معصية، والمعصية في السفر –كمن سافر لتجارة أو علاج– فعصى في أثناء سفره، فالثاني يترخص دون الأول.

“Perbedaan antara safar maksiat, yaitu seperti seseorang yang hendak safar untuk melakukan keharaman maka safarnya itu secara dzatnya maksiat. Dan maksiat di dalam agenda safar (tidak dimaksudkan sedari awal), yaitu seperti seseorang yang bersafar untuk dagang atau berobat kemudian ia malah bermaksiat di tengah-tengah safarnya, maka jenis yang kedua masih boleh mengambil rukhshah, tidak boleh untuk jenis pertama.” [Al-Jawâhirul ‘Adniyyah, hal. 45] 

Semoga bermanfaat.

Wallâhu Waliyyut Taufîq

Sesaat setelah hujan mengguyur Beusi sore ini,

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 76 times, 1 visits today)
baca juga :  "Permen" Dari Bank Pasti Riba?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *