Kaidah Menyikapi Vaksin

  • by

Pertanyaan:

Bismillaah. Ustadz izin bertanya, terkait vaksin Covid yang sekarang sudah mulai disosialisasikan pemerintah, sikap kita sebaiknya bagaimana? Karena masih banyak yang ragu. Apakah harus taat pada aturan pemerintah terkait hal tersebut ? Syukron

Jawaban:

Bismillaahi washshalaatu wassalamu ‘alaa Rasulillaah. Amma ba’du.

Persoalan vaksin bukanlah ranah saya membahas apakah ia bagus atau tidak, berbahaya atau tidak. Cuma dalam hal ini saya hanya menjelaskan kaidah-kaidah syari’at dalam menyikapinya.

Dari segi informasi-infomasi yang beredar tentunya banyak sekali hal-hal yang menakutkan yang disebarkan sebagian manusia, dan sebagian besar kita bingung mengambil patokan bahwa informasi dari mana yang harus kita ambil.

Sebenarnya Allah ‘Azza wa Jalla sudah banyak memberikan rambu-rambu dalam Al-Quran diantaranya adalah,

وَاِ ذَا جَآءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَمْنِ اَوِ الْخَـوْفِ اَذَاعُوْا بِهٖ ۚ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِلٰۤى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِۢطُوْنَهٗ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ

-sponsor-
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ulil amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu).”

(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 83)

Terlalu banyak dalil juga terkait dengan mengembalikan informasi resmi kepada pemerintah.

baca juga :  Waktu Sangat Dianjurkan Untuk Bersiwak

Jika dikatakan bahwa ulil amri itu haruslah orang shalih dan baik, maka kami katakan tidak pernah dipersyaratkan seperti itu baik di dalam Al-Quran maupun dalam hadits. Semua ungkapan terhadap ulil amri itu umum, maka dikembalikan pada keumumannya, yaitu yang baik-kurang baik-fajir jika mereka jadi pemimpin maka kita dengar.

Bahkan di banyak hadits dan penjelasan para ulama dari zaman ke zaman, bahwa kita harus tetap mendengar baik pemimpin itu shalih ataupun fajir, selama ia tetap muslim secara tampilan dzhahirnya. Jika ia dzhalim dan merencanakan kedzhaliman misalnya, maka Nabi memberi wasiat,

اصبروا حتى تلقوني على الحوض

“Bersabarlah kalian hingga menemuiku di telaga.” (HR. Al-Bukhaariy, no. 3163. Sunan At-Tirmidziy, no. 2189)

Kesabaran menghadapi kedzhaliman pemimpin berbuah pertemuan dengan Rasul di telaga beliau sana.

Dalam sebuah kaidah dikatakan,

تصرف الإمام منوط بالمصلحة

“Kebijakan pemimpin diarahkan kepada kemashlahatan (orang banyak).”

Jika itu berkaitan dengan kemashlahatan orang banyak maka bukan ranah perorangan lagi, namun negara. Berarti dalam hal ini negara tentunya lebih faham tentang apa yang mashlahat bagi rakyatnya.

Jikapun terjadi apa-apa di tengah jalan, maka itu bagian dari ujian. Jika kita sabar menghadapinya, pahalanya tentunya sangat besar dan berbuah pertemuan dengan Rasul tercinta.

Namun demikian, jika bahan yang dipakai benar-benar terbukti berbahaya, maka menolaknya bukanlah bentuk ketidak taatan. Karena diantara kaidah besar agama kita dan termasuk kedalam adh-dharuriyatul khamsah adalah hifdzhun nafs (menjaga jiwa). Jika jiwa terancam, maka sesuatu yang mengancam tersebut harus dihindarkan.

baca juga :  Hukum Jual Beli Pupuk Dari Kotoran Hewan

Tapi kembali lagi. Informasi yang diterima tentunya dari lembaga resmi negara, bukan dari perorangan, ormas, dan sebagainya.

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 43 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *