Kabur

  • by

Jika kita perhatikan dalam kitab-kitab tsabat atau tarjamah (biografi) para ulama, kita dapati berjejer nama guru dan nama murid tertulis. Atau kita perhatikan dalam biodata seseorang terkadang dicantumkanlah seluruh perjalanan ilmiahnya..

Kemudian datanglah para hakim dengan mengaburkan makna..

Mereka katakan itu wujud kesombongan. Jauh dari kerendahan hati. Subhaanallah..

Begitu sempit makna sombong dan rendah hati itu, hingga sesak dada kita ngos-ngosan mengejarnya. Nampaknya ia belum bisa membedakan amalan lahir dan amalan hati.

Kalaulah kesombongan itu selalu tampak di lahir, maka tak akan Rasul yang mulia mendefinisikan,

ﻻﻳﺪﺧﻞ ﺍﻟﺠﻨّﺔﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻓﻰ ﻗﻠﺒﻪ ﻣﺜﻘﺎﻝ ﺫﺭّﺓﻣﻦ ﻛﺒﺮ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ : ﺍﻥّ ﺍﻟﺮّﺟﻞ ﻳﺤﺐّ ﺍﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺛﻮﺑﻪ ﺣﺴﻨﺎﻭﻧﻌﻠﻪ ﺣﺴﻨﺔ ، ﻗﺎﻝ : ﺍﻥّ ﺍﻟﻠّﻪ ﺟﻤﻴﻞ ﻳﺤﺐّ ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ . ﺍﻟﻜﺒﺮ : ﺑﻄﺮﺍﻟﺤﻖّ ﻭﻏﻤﻂ ﺍﻟﻨّﺎﺱ ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ

-sponsor-
‏) ٠

“ Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “ Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik? ” Maka beliau bersabda : “ Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. ” (HR. Muslim)

Mari seksamai makna dari Sang Nabi, bahwa ianya adalah amalan hati. Tak bisa kita vonis sendiri dengan perspektif sendiri.

Seorang sahabat pernah pakai baju bagus. Takut ia terjatuh sombong. Nabi tenangkan, “itu bukan sombong!”.

baca juga :  Apakah Jika Mendapati Ruku' Imam Berarti Dihitung 1 Raka'at?

Abu Bakar pernah takut kainnya melebihi mata kaki. Nabi tenangkan, “Adapun itu karena melorot, tak niat kau turunkan!”

Ada yang begitu rengkuh, baik nan sopan, sambil merendah mengatakan, “da aku mah apa atuh..”

Padahal di hati ia meninggi. Tak mau ia terima nasehat sebelahnya, atau muncul di dalam jiwanya meremehkan di depannya. Ini istilah merendah untuk meninggi. Dzhahir-nya tawadhu, hatinya Takabbur. Ini sombong sebenarnya.

Maka mereka yang menuliskan guru-gurunya, murid-muridnya, atau perjalanan ilmiahnya, tak lazim bersombong diri. Sebab hanya Allah yang tahu isi hati. Mungkin ia hanya sedang memenuhi amanah ilmiahnya, sebab beragama itu harus dari guru yang jelas, harus dari penelusuran dan penelitian yang jujur, harus dari sumber yang suci dan bersih, serta memiliki mata rantai dari hulu-nya.

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memberi arahan..

ﺍُﻧْﻈُﺮُﻭﺍ ﻋَﻤَّﻦْ ﺗَﺄْﺧُﺬُﻭﻥَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﺩِﻳﻦٌ

“ Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya ia adalah agama ”

Begitu pula dari banyak aqwal ulama yang tak terhitung jumlahnya, bahwa ilmu agama ini harus diambil dari yang jelas silsilah keilmuannya..

Maka kaburnya makna tawadhu’ serta kibr ini membuat malam bak tanpa temaram dan sinar rembulan…

Semua yang berdiri di bawah malam menjadi “tersangka” kejahatan.

Bukankah tuduhan tak beralasan itu bagian dari kejahatan?

baca juga :  Nama-Nama Assabiqunal Awwalun (Golongan Pertama Yang Masuk Islam)

Maka hati-hatilah dari kekaburan. Kita tak dibebani menghukumi manusia tentang apa yang ada dalam dadanya…

Untuk hal yang lainnya… Sila untuk kau qiyas-kan sendiri..

Sebab setiap kita di malam hari selalu berharap bisa bertemu pagi..

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I. ( Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi )

Editor : Tasyim

(Visited 51 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *