Jika Orang Tua Menyuruh Menyumbang Ke Acara Maulid

  • by

Pertanyaan:

Bismillah, afwan ustadz izin bertanya, bagaimana sikap kita selaku anak, jika orang tua menyuruh kita menyumbang atau memberi infaq untuk acara Maulidan?

Jawaban:

Bismillaah washshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillaah. Amma ba’du.

Ada beberapa sudut pandang yang akan kami uraikan untuk menjawab pertanyaan diatas:

Sudut pandang pertama:

Hendaknya kita fahami firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut:

وَاِ نْ جَاهَدٰكَ عَلٰۤى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَا حِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ وَّا تَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَا بَ اِلَيَّ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُ نَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang

-sponsor-
kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. Luqman (31): Ayat 15)

Ayat ini menjadi kaidah bagi kita selaku anak, bahwa kita wajib taat pada kedua orang tua kecuali jika perintahnya menyalahi syari’at. Karena ketaatan seorang hamba hak mutlak milik Allah Jalla wa ‘Alâ.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam redaksi lain:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tiada ketaatan untuk makhluq dalam maksiat pada Khâliq.” (HR. Ahmad)

Dimaklumi bahwa peringatan hari lahir semisal maulid atau milad apapun namanya itu adalah kebiasaan orang kuffâr dan kita dilarang mengikuti mereka berdasarkan keumuman hadits:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Sesiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Daawud no. 4031, Ahmad 2/50 & 2/92[3], Ath-Thabaraaniy dalam Musnad asy-Syaamiyyiin no. 216, dari Sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhumaa).

Hadits ini menjadi isyarat bahwa menyerupai suatu kaum berarti bagian dari kaum tersebut. Jika kaum yang diserupai itu orang kuffar maka kita semisal mereka dalam amalan, berarti itu dosa. Namun jika kaum yang diserupai oleh kita adalah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabatnya yang mulia, serta orang-orang yang setelahnya yang mengikuti jalan mereka, maka kita pun menjadi semisal dengan mereka dan itu bernilai pahala.

Mengapa kita malah menyerupai kuffar dan mendukungnya? Sementara Rasul dan para sahabat malah diselisihi. Mereka para sahabat tidak pernah merayakan maulid Nabi seorang pun. Ada 114.000 sahabat Nabi, tetapi tidak satupun dari mereka yang merayakan maulid Nabi, padahal merekalah orang-orang yang paling mencintai Nabi ﷺ. Mereka juga tidak pernah merayakan hari lahir mereka dan keluarga mereka.

Sudut pandang kedua:

Jika agenda maulid Nabi itu dianggap Ibadah, maka ibadah harus dibangun di atas dalil dan pendalilan yang benar.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”(QS. Al-Isra’ (17) : Ayat 36)

Nabi dengan tegas bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang melakukan amalan yang tiada perintah kami atasnya maka ia tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Kaidah mengatakan:

ﻓﺎَ ﺍﻷَﺻْﻞُ ﻓﻲ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩَﺕِ ﺍْﻟﺒُﻄْﻼَﻥُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘُﻮْﻡَ ﺩَﻟِﻴْﻞٌ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻷَﻣْﺮِ

“Asal dari mengerjakan ibadah itu SALAH/BATHIL/BATAL hingga tegak atasnya dalil yang memerintahkanya.” (Imam Asy-Suyuuthiy, dalam Al-Asybah’ wan Nadzair: 44 dan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dalam I’lamul Muwaqi’in Juz 1 hal. 344, Dar Al-Fikr, Beirut))

Maka, jika tidak ada dalil dan pendalilan yang benar, maka para ulama menggolongkan ibadah tersebut bagian dari muhdatsât (perkara-perkara baru dalam agama), yang dalam istilah Rasul sebagai Bid’ah.

Bid’ah adalah kemungkaran. Karena ia bagian dari makar terhadap Rasulullah dan merusak syahadat kedua, yaitu asyhadu anna muhammadar Rasûlullah. Maka kemungkaran seperti ini jelas tidak boleh didukung.

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan janganlah kamu tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maa’idah (5) : Ayat 5)

Maka ketika orang tua menyuruh kita menyumbang untuk acara bid’ah, sikap kita adalah menolaknya dengan cara baik-baik sebagaimana dalam ayat surat luqman di atas.

“…Maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.

Wallahu Waliyyut Taufiiq

Akhukum,

Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Dudi Rusdita

(Visited 57 times, 1 visits today)
baca juga :  Bolehkah Menarik Seseorang Dari Shaf Depan ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *