Jaga Rasa Malu dan Tawadhu di Majelis Ilmu

Tak selalu mereka yang di depan itu tawadhu’ dalam belajar. Sebab terkadang terselip di hati agar terlihat tawadhu’ di hadapan pelajar.

Terkadang seorang ‘Alim “bersembunyi” di tengah kerumunan majelis sebab ia merasa malu jika terlihat yang lain. Ia sedang menaklukkan dirinya agar tak berbicara dan takabbur dengan kealimannya.

Seorang pemuda hadir di majelis Sufyan ats-Tsauriy rahimahullah. Duduk di depan. Karena merasa ‘Alim, ia menguasai pembicaraan, takabbur dengan keilmuannya. Padahal disana banyak para tetua dalam ilmu. Maka Sufyan marah dan berkata,

لم يكن السلف هكذا، لم يكن السلف هكذا، كان أحدهم لا يدعي الإمامة ولا يجلس في الصدر حتى يطلب هذا العلم ثلاثين سنة، وأنت تتكبر على من هو أسن منك! قم عني، ولا أراك تدنو من مجلسي!

“Salaf tak pernah seperti ini! Tak pernah terjadi pada Salaf seperti ini! Dulu salah seorang dari mereka

-sponsor-
tak pernah mengklaim keimaman (dalam ilmu), tak duduk di tempat strategis (agar terlihat), hingga mereka menuntut ilmu ini selama 30 tahun. Sementara kamu takabbur pada yang lebih senior darimu! Berdiri dan pergi dariku, aku tak mau melihatmu dekat-dekat ke majelisku!” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 110]

Aduhai betapa tegasnya mereka pada ketakabburan dan pelakunya. Sebab ia penyakit berbahaya, baik bagi pelakunya, dan perusak suasana bagi selainnya.

baca juga :  Sabar Dalam Thalab

Di kesempatan lain kita dapati Sufyan rahimahullah berkata,

إذا رأيت الشاب يتكلم عند المشايخ وإن كان قد بلغ من العلم مبلغا، فآيس من خيره، فإنه قليل الحياء.

“Jika kau melihat pemuda yang banyak bicara di sisi para Masyayikh, meskipun ia telah sampai derajat keilmuan yang matang, berputus-asalah dari kebaikannya karena ia sedikit rasa malunya.” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 110]

Hak para mu’allim untuk meng-kick muta’allim ngeyel dari majelisnya, sebagai bentuk pelajaran dan hukuman untuknya. Sebagaimana yang dilakukan Sufyan, Syu’bah, ‘Affân bin Muslim, Malik bin Anas, dll, dari majelis mereka.

Atau sang Mu’allim enggan menjawabnya, enggan menghadap kepadanya. Maka diamnya Mu’allim saja sebenarnya sudah jadi jawaban baginya, bahwa ia tak layak diperhatikan. Demikian menurut Imam al-A’masy (Sulaiman bin Mihran).

Syaikh Shâlih bin ‘Abdillah al-‘Ushaimiy hafizhahullah mengatakan,

ورأينا هذا كثيرا من جماعة من الشيوخ، منهم العلامة ابن باز…

“Kami melihat banyak sekali contohnya (sikap di atas) dari para Syuyûkh (Masyayikh), diantara mereka Syaikh Ibnu Bâz -rahimahullâh-…” [Syarh Ta’zhîmil ‘Ilmi, hal. 110]

Tetap tenang. Jangan kuasai pembicaraan di tengah para ‘Alim. Jangan beri kesempatan ketakabburan masuk barisan.

Wallâhu Waliyyut Taufiiq.

Semoga bermanfaat,

Akhukum,

Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El -Ilmi & Founder Silsilah Tadabbur Quran)

Editor : Tsaqib Ilham Nur

 

(Visited 344 times, 1 visits today)
baca juga :  Untung Dan Rugi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *