Jadikan Ilmumu Mudah Dan Memudahkan

  • by

Teringat nasehat indah dari Syaikh Ibnul ‘Utsaimin ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ,

ﺍﺟﻌﻞ ﻋﻠﻤﻚ ﺳﻬﻼ ﻣﻴﺴﺮﺍ

“Jadikan ilmumu itu mudah dan dimudahkan !”

Apa maknanya?

Datang seorang A’rabiy (Arab Baduy) kepada Rasul ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ  menaiki untanya. Ia bertanya pada Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ atas permasalahan-permasalahan agama. Kemudian ia berlalu tanpa munaqasyah (perdebatan/banyak diskusi) lagi. Karena tidak perlu baginya kecuali cukup tinggal menerima saja.

ﺃﻣﺎ ﺍﻟﻤﻨﺎﻗﺸﺎﺕ ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺀ ﻭﺍﻟﺠﺪﺍﻝ ﻓﻬﺬﺍ ﻳﻀﺮ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ

“Adapun banyak munaqasyaat, mirā, dan jidāl (perdebatan) maka ini memadharatkan manusia.”

Na’am. Menjadikan ilmu mudah dan dimudahkan. Mudah menerimanya dari orang yang berilmu, terpercaya, selamat ‘Aqidah dan manhajnya.

Dimudahkan dengan tidak memperbanyak perdebatan, kalam-kalam tak perlu, tapi langsung fokus mengamalkan. Itu yang seharusnya kita lakukan.

Akhir-akhir ini sebagian kita

-sponsor-
terbawa arus. Satu permasalahan muncul, didebat oleh semua orang. Semua bersuara baik yang ‘Alim maupun selain ‘Alim. Akhirnya debat berkepanjangan.

Buah dari ilmu nyaris hilang. Ketawadhu’an hanya tinggal di lisan dan tulisan.

Kemana kita yang dulu duduk bersimpuh di majelis ilmu, mendengarkan dengan seksama, mencatat faedah-faedah, kemudian mengamalkan dan tak memperpanjang kalam?

Mana kita yang dulu masuk ke Mauqi’ (situs web) resmi para ulama. Mendengarkan rekaman durus mereka. Mencatat fawaid. Mencatat dalil-dalil. Menghafalkan. Kemudian mengamalkannya dan mengajarkannya pada manusia?

baca juga :  Kenyang

Dimana kita yang dulu mendownload kajian para asatidzah. Menyimpannya di memori HP. Menyimaknya baik-baik. Memuraja’ahnya sambil beraktivitas bahkan berkendara. Kemudian mengamalkannya.

Dimana?

Dimana kita yang dulu membuka lembaran-lembaran kitab. Membaca buku-buku. Menandainya dengan catatan-catatan. Merangkum dan mengambil fawaid. Menanyakan isykaalaat dan mubhamaat-nya pada para Asatidzah serta ahli ilmu. Kemudian mengamalkannya?

Adapun sebagian thullab yang sekarang, baca status kemudian sibuk cari bantahan. Padahal ‘Alim sudah melakukannya lebih dulu. Sibuk berdebat dengan semua orang. Stalking-stalking tak jelas. Berselancar dari satu majelis komen ke majelis komen yang lainnya. Screenshoot ‘Barbuk’ untuk “menghantam” kemudian hari. Ada yang jadi nammaam, ada yang jadi ahli tahdzir tak faham dhawabith. Semua terlibat. Semua menghabiskan waktu untuk itu. Atau habis waktu untuk khabar-khabar yang tak perlu dan tak berorientasi pada amal shalih sama sekali.

Tak ada lagi catatan ilmu untuk diamalkan. Tak ada lagi rekaman pelajaran para ahli ilmu untuk muraja’ah. Lembaran-lembaran mushaf berdebu tak ditadabburi. Kitab-kitab usang sebelum waktunya. Ketika dinasehati, terbawa perasaan, pundung, dan sebagainya…

Syaikh Bakr Abu Zaid menulis dalam Hilyatu Thālibil ‘Ilmi,

ﺗﺤﻞ ﺑﺂﺩﺍﺏ ﺍﻟﻨﻔﺲ، ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻔﺎﻑ ﻭﺍﻟﺤﻠﻢ ﻭﺍﻟﺼﺒﺮ ﻭﺍﻟﺘﻮﺍﺿﻊ ﻟﻠﺤﻖ ﻭﺳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻄﺎﺋﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻗﺎﺭ ﻭﺍﻟﺮﺯﺍﻧﺔ ﻭﺧﻔﺾ ﺍﻟﺠﻨﺎﺡ، ﻣﺘﺤﻤﻼ ﺫﻝ ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ ﻟﻌﺰﺓ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺫﻟﻴﻼ ﻟﻠﺤﻖ …

“Posisikan dirimu dengan adab-adab. Dari penjagaan terhadap kehormatan, tidak tergesa-gesa, sabar, tawadhu’ pada kebenaran, penuh ketenangan berupa kewibawaan, kekhidmatan, kelembutan. Membawa sikap rendah hati dalam belajar karena menghormati Ilmu, tunduk pada kebenaran.”

baca juga :  Untung Dan Rugi

Ya. Sekali lagi terima ilmu dari orang yang tepat. Tak usah banyak berdebat. Fahami. Amalkan. Buat ia mudah dan dimudahkan…

Akhukum,
Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor: Adnan Aliyyudin

(Visited 87 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *