Inshaf

  • by

Betapa inshaf-nya Imam Muslim tatkala Imam Al Bukhariy dan Imam Adz Dzuhliy berselisih, beliau memilih tak memasukkan satupun hadits Al Bukhariy dalam kitab shahihnya. Begitupula ia tak memasukkan hadits Adz Dzuhliy dalam kitab shahihnya itu.
Tak lain dan tak bukan untuk menghormati keduanya, sebab Al Bukhariy dan Adz Dzuhliy adalah gurunya.

Betapa rendah hatinya Al Bukhariy, meski ia diboikot dan di-Jarh oleh Adz Dzuhliy, masih tetap mau memasukkan hadits Adz Dzuhliy ke dalam kitab shahihnya. Meski dengn nama “samaran” semisal Ibnul Faris atau terkadang dengan mebisbatkan Adz Dzuhliy pada kakeknya. Tiada lain adalah untuk menghormatinya dan menghormati amanah ilmiah…

Perselisihan itu terjadi karena kesalahan pengutipan dan kesalahan dalam memahami pernyataan Al Bukhariy. Disampaikan oleh mereka yg keliru memahami, dan disebarkan oleh mereka yg belum memahami.

-sponsor-
justify;">Maka pelajaran bagi kita…

Beradablah pada guru kita!
Jangan pernah kau benturkan pendapatnya dengan pendapat orang lain di depannya!
Itu sumber perselisihan dan perpecahan…

Sering terdengar satu ustadz berselisih dengan ustadz lainnya gegara kesalahan murid dalam mengutip dan membenturkan perbedaan pendapat di depan salahsatunya…

“Menurut pendapat antum bagaimana ustadz?”

“menurut saya begini dan begitu.”

“Tapi menurut Ustadz fulan begini dan begitu.”

Nah, itu contoh kekurang-adaban.

Jika pendapat gurumu berbeda dengan pendapat yang lain, diamlah! Timbanglah sendiri! Diskusikan secara amni dan jangan dibuat desas desus. Kalau tidak kau akan ditimpa kemalangan sebab menjadi penyebab perselisihan.

baca juga :  Apakah Jika Mendapati Ruku' Imam Berarti Dihitung 1 Raka'at?

So, muliakan mereka para ahli ilmu. Karena itu bagian dari ketaqwaan. Beradablah pada mereka dan jangan jadi biang perselisihan…
Jika mereka berselisih, inshaf-lah…!

Allah berfirman,

ﺫَٰﻟِﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻌَﻈِّﻢْ ﺣُﺮُﻣَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻪُ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻪِ ۗ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya…” (Al Hajj : 30)

Allah juga berfirman,

ﺫَٰﻟِﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻌَﻈِّﻢْ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺗَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al Hajj : 32)

Tiada manusia sehat akalnya yang tak pernah berselisih. Apalagi ahli ilmu yang besar ghirahnya terhadap agama Allah. Karena ciri ketaqwaan seseorang adalah dengan beramar ma’ruf nahi munkar. Namun perselisihan itu tak akan meruncing dan berefek negatif jika tak melibatkan oran-orang yang dangkal pemahamannya dan kurang adabnya.

Maka mari kita memupuk adab yang baik kepada para ahli ilmu…

Wallahu waliyyut taufiiq

Akhukum,
Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor : Tasyim

(Visited 58 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *