Hukum Orang Yang Mengklaim Tahu Ilmu Ghoib

  • by

Kebanyakan awam di zaman dulu hingga zaman sekarang selalu saja tertipu dengan orang yang mengakui tahu ilmu ghaib. Mereka memandang orang tersebut dengan pandangan kekaguman yang luar biasa, bahkan dijadikan rujukan untuk banyak permasalahan mereka.

Lantas bagaimana hukumnya orang yang mengklaim tahu ilmu ghaib demikian?

Para ulama menganggap orang seperti itu telah kafir. Karena ia mendustakan Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,

قُل لَّا یَعۡلَمُ مَن فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَیۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ وَمَا یَشۡعُرُونَ أَیَّانَ یُبۡعَثُونَ

“Katakanlah (Muhammad), Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”

(QS. An-Naml 27: Ayat 65)

Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyampaikan bahwasanya Dia saja yang mengetahui perkara ghaib, maka sesiapa

-sponsor-
yang mengklaim diri mengetahui perkara ghaib ia mendustakan Allah dengan mendustakan kabar-Nya ini.

Rasul saja tidak diberi kemampuan untuk mengetahui perkara ghaib, kecuali jika Allah memberitahu beliau pada beberapanya. Maka bagaimana bisa sebagian orang yang bukan Nabi, bukan pula Rasul mengklaim mengetahui perkara ghaib?

Apakah mereka merasa lebih mulia daripada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam? Jika mereka menjawab bahwa mereka lebih mulia daripada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dengan perkataan ini saja sudah cukup menjadikan mereka kufur.

baca juga :  Iblis Tidak Dapat Menggoda Kita Dari Atas Atau Bawah ?

Jika mereka mengatakan bahwa mereka tidak lebih mulia daripada Rasul, maka kita tanya mengapa mereka seolah lebih tahu daripada Rasul?

Allah berfirman,

عَـٰلِمُ ٱلۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡهِرُ عَلَىٰ غَیۡبِهِۦۤ أَحَدًا.

إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولࣲ فَإِنَّهُۥ یَسۡلُكُ مِنۢ بَیۡنِ یَدَیۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدࣰا

“Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.”

(QS. Al-Jinn 72: Ayat 26-27)

قُل لَّاۤ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِی خَزَاۤىِٕنُ ٱللَّهِ وَلَاۤ أَعۡلَمُ ٱلۡغَیۡبَ وَلَاۤ أَقُولُ لَكُمۡ إِنِّی مَلَكٌۖ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا یُوحَىٰۤ إِلَیَّۚ قُلۡ هَلۡ یَسۡتَوِی ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِیرُۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”

(QS. Al-An’am 6: Ayat 50)

Perkara ghaib itu ada 2 macam : ada ghaib muthlaq dan ada ghaib nisbiy.

Ghaib muthlaq, hanya Allah yang mengetahuinya dan tak ada seorangpun yang mengetahuinya dari kalangan Malaikat, para Rasul, Jin, dan sebagainya, kecuali yang Allah beritahu dari sebagian kecil perkaranya.

Sementara ghaib nisbiy adalah perkara berupa kejadian yang diketahui oleh sebagian orang yang menyaksikannya namun sebagian lagi tidak menyaksikan atau melihatnya. Sehingga bagi sebagian orang yang tidak menyaksikan kejadian tersebut perkaranya ghaib. Untuk mengetahuinya dibutuhkan kabar yang benar dan pengabar yang jujur.

baca juga :  Dimanakah Manusia Akan Dibangkitkan Pada Hari Kiamat Nanti?

Untuk jenis ghaib yang muthlaq, maka sesiapa yang mengklaim mengetahuinya jelas ia pendusta, bahkan bisa kufur sebagaimana dijelaskan di awal, kecuali dari kalangan Malaikat atau Rasul yang memang diberitahu oleh Allah tentang perkara tersebut.

Sementara untuk jenis kedua yaitu ghaib nisbiy, maka butuh perincian.

Jika yang mengklaim mengetahui perkara ghaib jenis kedua ini adalah dari kalangan Kahin dan ‘Arraf alias dukun, maka yang mereka sampaikan berasal dari 2 sumber: wahm alias dugaan yang tidak memberi faedah sama sekali bahkan penuh kedustaan, atau kabar dari teman mereka dari kalangan syaithan dan jin.

Jika seseorang mendatanginya kemudian membenarkannya, maka ia mengkufuri Al-Quran sehingga terjatuh pada kekufuran.

Rasul bersabda,

من أتى كاهنا أو عرافا فسأله فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد ” (رواه الأربعة)

“Sesiapa yang mendatangi Kahin atau ‘Arraf kemudian menanyainya dan mebenarkan jawabannya, maka ia telah kufur pada apa yang diturunkan ke Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Riwayat Imam yang empat)

Sementara jika yang yang mengklaim mengetahui suatu peristiwa karena melihatnya langsung adalah bukan dukun, maka bisa dua kemungkinan, ia berdusta atau ia jujur. Jika mempercayai kabarnya tanpa mengecek kebenarannya ternyata ia berdusta, maka ia tertipu. Jika ia jujur, maka ia selamat.

Maka hendaknya kita perhatikan hal demikian.

Sudut Desa Beusi, 15 Dzulqa’dah 1441 H

baca juga :  Bolehkah Shaum Sunnah Dzulhijjah Dilakukan Sebelum Qadha Ramadhan?

Akhukum,
Al-Faqiir ilallah Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, Lc., S.Kom.I (Mudir Ma’had Daar El ‘Ilmi)

Editor  Adnan Aliyyudin

(Visited 42 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *